Sabtu, 06 Juni 2026

Darmogandhul, Jawanisasi atau Kristenisasi ? Part. 1

Darmogandhul, Jawanisasi atau Kristenisasi ? Part. 1

Tegese nami Sarengat/yen sare ngadeg kang wadi/kakekate sami apti/ngaben kanang wewadi/kedah rujuk estri jalu/makripat ngretos wikan/sarak sarat laki rabi/ngaben ala den ideni yayah rena. 

Yang dimaksud sarengat, jikalau tidur (sare) berdiri kemaluannya (njengat), tarekat mengajak istri untuk melakukan senggama (taren : meminta perstujuan/kakekat sama-sama ingin/untuk mengadu kemaluan, dan keduanya setuju melakukan/ makripat artinya tahu dan paham syarat-syarat untuk menikah/mengadu hal yang tabu agar direstui ayah dan ibu (hal. 351) 

Oleh Damar Sasangka pengajaran Sunan Kalijaga kepada prabu Brawijaya V ini adalah uraian spiritual tasawuf yang dipadu dengan ajaran tantra yang melambangkan ruh sebagai lingga dan kesadaran akan ruh sebagai yoni. 

Namun benarkah sesophisticated itu Dadmogandhul ? 

Prof. dr. H.M. Rasyidi, mantan Menteri Agama (Pertama) Indonesia, punya pandangan lain tentang hal ini. Darmogandhul dibuat untuk melakukan dekonstruksi atas keluhuran Islam dengan metode othak-athik gathuk ala Jawa dimana konsep kunci dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. 

Sadat Sarengat, yen sare wadine njengat (Syahadat dan Syari'at itu artinya kalau tidur (sare) kemaluannya njengat), tarekat, taren kang estri (mengajak bersetubuh). 

Pada buku Islam dan Kebatinan, pak Rasyidi mengutip salah satu bagian lain dari Darmogandhul

Dallikal, yen turu nyengkal kang wadi, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala (Darmagandhul).

(Dzalikal : jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la, kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai kain, hudan : telanjang (wuda), lil muttaqien : sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita. 

(diterjemahkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, hal. 17) 

Muatan kristenisa nampak pada bagian dimana Darmogandhul meramalkan bahwa di masa yang akan datang bangsa Jawa akan meninggalkan Islam untuk memeluk agama Kristen (agama kawruh). 

Terkait penerjemahan secara cabul, dalam budaya keagamaan masyarakat Kristen Barat memang ada pentradisian olok-olok terhadap lawan teologinya. 

Misal kalau kita runut, sebutan Maometto dalam Satanic Versesnya Salman Rushdie. Nama itu dimunculkan oleh Dante saat menyebut Nabi Muhammad dalam La Diviana Comedia. 

Dalam pandangan Dante, neraka itu ada sepuluh lapis. Lapis pertama, permukaan siksanya paling ringan, dan lapis kesepuluh paling berat. 

Di lapisan paling bawah, diperuntukkan bagi Iblis, sedangkan Maometto ada di lapisan ke sembilan, satu tingkat di atas Iblis. 

Hal ini dikarenakan Maometto menyebarkan perpecahan dalam dunia Kristen. Sehingga ia dihukum dengan cara digergaji tubunya dari anus sampai kepala terus menerus. 

Pandangan Dante ini muncul karena pada masa itu, dalam pandangan Kristen Barat, Islam adalah sebuah sekte Kristen yang sesat. 

Nah makanya jangan heran, bila di belakang kaum rahayu yang sangat anti Arab dan Islam itu, aslinya mereka bukan bicara atas nama budaya Jawa tapi lebih didorong kepentingan keberhasilan penginjilan. 

Penjelasan lanjutan, akan kita kupas di edisi berikutnya.

Sumber :
Darmagandhul, Kisah Kehancuran Jawa dan Ajaran-Ajaran Rahasia, Damar Sasangka
Islam dan Kebatinan, HM. Rasyidi
Orientalisme, Erdward Said
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0dhdXW8axW6CW2RMgAJPpwco3TcmqVARcqUuyNy386Y6MU9ubFjgBWh6pXy5jWYDGl&id=1063249772&mibextid=Nif5oz
Arif wibowo