Selasa, 09 Juni 2026

Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Hajjawi, dan Kitab Al-Iqna'

Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Hajjawi, dan Kitab Al-Iqna'

Dalam Al-Madkhal ila Zadi al-Mustaqni' (hlm. 18–19), penulis menjelaskan bahwa Al-'Allamah Musa Al-Hajjawi, sepanjang yang beliau ketahui, tidak memiliki karya khusus yang membahas aqidah secara tersendiri. 

Namun, berbagai pembahasan aqidah yang tersebar dalam karya-karyanya, khususnya Al-Iqna', menunjukkan dengan jelas keselamatan aqidah beliau secara umum, perhatian besarnya terhadap sunnah, serta kebenciannya terhadap bid'ah dan para pelakunya. 

Bahkan, penulis mengisyaratkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu sebab besarnya perhatian para imam dakwah Najd terhadap karya-karya Al-Hajjawi dan ketergantungan mereka kepadanya.

Sebagai bukti, penulis mengutip sejumlah pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam suratnya kepada para ulama di Makkah, beliau menegaskan bahwa dirinya berada di atas mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, serta menyebut Al-Iqna', Ghayat al-Muntaha, dan Al-Inshaf sebagai kitab-kitab yang menjadi sandaran para ulama muta'akhkhirin Hanabilah. 

Bagi pengikut mazhab Hanbali, tentu tidak asing lagi dengan Al-Iqna', karena kitab ini merupakan salah satu kitab mu'tamad (otoritatif) yang menjadi pilar utama dalam mazhab Hanbali.

Beliau juga mengatakan kedudukan kitab-kitab tersebut dalam mazhab Hanbali setara dengan At-Tuhfah dan An-Nihayah dalam mazhab Syafi'i (Majmu' Muallafat, 3/61).

Dalam surat lain kepada Abdullah bin Abdul Lathif, beliau memuji kaum Hanabilah dan menyatakan bahwa mereka adalah manusia yang paling sedikit melakukan bid'ah (Majmu' Muallafat, 2/143). 

Sementara dalam suratnya kepada ash-Shan'ani, beliau menegaskan:

"Mazhab kami adalah mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, imam Ahlus Sunnah. Kami tidak mengingkari pengikut mazhab yang 4 selama tidak menyelisihi Al-Qur'an, Sunnah, ijmak umat, dan pendapat mayoritas ulama mereka."
(Majmu' Muallafat, 2/24).

Penulis juga menunjukkan bahwa hubungan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Al-Iqna' tidak terbatas pada pujian semata. Dalam banyak tempat di Majmu' Muallafat (3/40, 2/71; 3/92, 2/117; 3/127; 3/135; 3/163),  beliau berulang kali menukil dan berhujjah dengan pembahasan-pembahasan dalam kitab Al-Iqna', khususnya pada bab "Hukum Orang Murtad". 

Di antara contoh yang disebutkan penulis adalah nukilan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap pembahasan Al-Hajjawi mengenai orang yang menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah, yang mereka seru, mintai pertolongan, dan tempatkan sebagai wasilah dalam ibadah. Muhammad bin Abdul Wahhab bahkan menegaskan bahwa Al-Hajjawi menukil adanya ijmak para ulama seluruh mazhab mengenai persoalan tersebut

Beliau juga berkali-kali merujuk kepada pembahasan Al-Iqna' dalam masalah syirik, riddah, dan takfir, serta mengarahkan lawan bicaranya agar menelaah langsung redaksi kitab tersebut.

Menurut penulis, berbagai nukilan tersebut menunjukkan besarnya penghormatan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap Al-Hajjawi dan Al-Iqna'. 

Hal itu juga selaras dengan isi Al-Iqna' sendiri yang memuat penetapan (itsbat) sifat-sifat Allah, peringatan terhadap bid'ah dan kelompok-kelompok sesat, kritik terhadap berbagai bentuk kesyirikan, pengingkaran terhadap sihir, perdukunan, dan ramalan, penjelasan manhaj Ahlussunnah dalam menyikapi penguasa muslim, peringatan dari jalan Khawarij, serta larangan ilmu kalam dan filsafat. 

Semua itu disertai penghormatan Al-Hajjawi terhadap para imam Ahlussunnah, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Al-'Allamah Ibnul Qayyim.

Pada akhir pembahasannya, penulis menegaskan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab, meskipun sangat memperhatikan fiqh Hanbali, kitab-kitab fiqh, serta para ulama mazhab, tetap merupakan seorang yang berusaha mengikuti dalil dan tidak terikat oleh fanatisme mazhab. 

Menurut beliau, dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya dari kalangan ahli fiqh dan ahli atsar berjalan di atas metode Salaf, dengan menjadikan dalil sebagai landasan dan para imam fiqh sebagai teladan. Karena itulah, penulis memandang bahwa dakwah beliau dibangun di atas konsistensi dalam mengikuti dalil, baik dalam persoalan fiqh maupun manhaj.

Inilah gambaran yang disampaikan penulis kitab Al-Madkhal ila Zadi al-Mustaqni' mengenai hubungan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Al-Hajjawi dan kitab Al-Iqna'. 

Hubungan tersebut tidak sebatas penghormatan terhadap seorang ulama Hanbali, tetapi juga tercermin dari penggunaan karya-karyanya sebagai rujukan dan hujjah dalam berbagai pembahasan aqidah, fiqh, dan manhaj.

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah