Dalam sambutan, Ust Abu Nida Hafidzohullah menyampaikan,
"Diantara akhlaq penuntut ilmu (murid) adalah selalu menghormati guru kapanpun dan dimanapun dengan mengakuinya sebagai guru meskipun sudah tidak belajar lagi dengannya dan mempelajari darinya hanya sekejap"
Hal ini selaras dengan ungkapan masyhur yang digaungkan oleh para ulama,
من علمني حرفا فهو لي أستاذ
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka dia adalah guruku."
Bahkan di dalam kitab Is'aaf Al Akhyaar bimaa Isytahara wa Lam Yashihh disebutkan dengan tegas,
من علمني حرفا كنت له عبدا
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku menjadi hambanya."
Maka jangan sampai karena berbeda pandangan dengan gurunya, atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari gurunya, menjadikan seseorang durhaka dan sombong kepada guru yang pernah mendidiknya.
Semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan taufiq kepada kita unt senantiasa menghormati dan mengakui kebaikan para guru yang telah mendidik kita.
#حفلة_التخرج
afwan ijin bertanya, kalo sekedar mengikuti kajian rutin pekanan apa bisa disebut murid?
atau cukup saja katakan: ikut mengambil faidah darinya? mohon pencerahan. 🙏🏻
Sam Nayfos
بارك الله فيك و احسن الله إليك
Istilah murid menurut urf para ulama memiliki tingkatan-tingkatan. Ada yang sekadar mengambil satu atau beberapa faedah dari seorang guru, ada yang rutin menghadiri majelisnya, ada yang belajar bertahun-tahun dan mendapat tarbiyah langsung darinya.
Oleh karena itu, seseorang yang rutin mengikuti kajian seorang ustadz dapat disebut murid dalam makna umum, yaitu orang yang belajar dan mengambil ilmu darinya. Sebagaimana ungkapan yang ana sebutkan diatas,
من علمني حرفا فهو لي أستاذ
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka dia adalah guruku."
Akan tetapi, tentu kedudukan murid berbeda-beda. Murid yang hanya sesekali mengambil faedah akan berbeda dengan murid yang mulazamah, belajar bertahun-tahun, dan dibimbing secara langsung.
Karena itu dikenal di kalangan ulama banyak istilah dalam menuntut ilmu, seperti أخذ عنه (mengambil ilmu darinya), وتتلمذ عليه (belajar sebagai muridnya), ولازمه (selalu membersamai gurunya).
Semuanya menunjukkan kadar hubungan yang berbeda-beda dengan guru tersebut.
Maka tidak masalah bagi seseorang yang ikut kajian sesekali disebut murid dalam makna umum, selama ia benar-benar belajar dari seorang guru. Namun semakin kuat hubungan belajar seorang murid dalam membersamai gurunya, dan dalam mendapatkan pembinaannya, maka semakin tinggi pula martabat kemuridan tersebut.
والله أعلم بالصواب
Ust hafit muhammad