Saya berkali-kali mengamati bahwa para ahli filsafat dan ahli kalam menggambarkan pendapat lawan debatnya berdasarkan bayangan mereka sendiri, lalu memberi istilah yang mereka definisikan sendiri, kemudian menghukumi gambaran dan istilah tersebut. Padahal, pihak yang mereka kritik sering kali sangat jauh, bahkan tidak memiliki kesesuaian sama sekali, dengan gambaran yang mereka bangun itu.
Karena itu, saya cenderung biasa saja menyikapi banyak polemik semacam ini. Sebab yang dibantah, dibahas, dan dihukumi sering kali bukan pendapat yang sebenarnya, melainkan sebuah gambaran yang telah dikonstruksi terlebih dahulu dalam benak mereka. Jika demikian, maka objek yang mereka kritik pada hakikatnya tidak pernah ada sebagaimana yang mereka bayangkan.
Hal seperti inilah yang banyak terjadi dalam perlakuan sebagian kritikus terhadap Ibnu Taimiyah. Mereka terlebih dahulu membangun definisi dan gambaran tertentu tentang beliau, lalu mengkritik gambaran tersebut, padahal tidak benar-benar merepresentasikan apa yang beliau yakini atau tuliskan dalam karya-karyanya.