Dapat faidah dari Ustadz Sofyan Saladin bahwa Syaikh Abdul Karim Al-Khudair pernah menyinggung penilaian Ibnu Hajar terhadap Abu Ja'far Ar-Razi. Secara umum, Ibnu Hajar menilai Abu Ja'far Ar-Razi sebagai perawi yang memiliki kelemahan dalam hafalan, sehingga riwayatnya tidak berada pada tingkat perawi yang kuat. Namun, ketika membahas riwayat Abu Ja'far Ar-Razi terkait qunut Subuh, Ibnu Hajar tampak memberikan penilaian yang lebih dapat diterima dibanding penilaian umumnya terhadap perawi tersebut.
Syaikh Abdul Karim Al-Khudair mengomentari hal ini dengan kemungkinan bahwa faktor madzhab atau kecenderungan fikih dapat memengaruhi cara seorang ulama memandang suatu riwayat pada masalah tertentu. Dari sini, Ustadz Sofyan Saladin mengajukan sebuah pertanyaan renungan yang maknanya:
"Jika ulama sebesar Ibnu Hajar saja dipandang " mungkin" terpengaruh oleh kecenderungan madzhab dalam sebagian penilaiannya oleh beberapa ulama, lalu bagaimana dengan kita yang jauh keilmuannya dibanding Ibnu Hajar? Sudahkah kita berusaha objektif dalam menilai suatu persoalan, atau justru tanpa sadar penilaian kita lebih banyak dipengaruhi oleh kelompok, circle, atau guru yang kita ikuti?"
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan ulama, melainkan sebagai pengingat bahwa manusia tidak lepas dari potensi bias, sehingga kita perlu senantiasa berusaha bersikap adil, objektif, dan mengikuti kebenaran semampu kita.
Sucipto hadi
https://www.facebook.com/share/18mTmao5MS/