Ketika Allah menurunkan Nabi Adam عليه السلام dari surga, itu bukan sekadar kisah tentang sebuah kesalahan yang berujung pada pengeluaran dari tempat yang mulia. Di baliknya terdapat hikmah yang sangat dalam.
Allah menghendaki agar Adam dan keturunannya merasakan letihnya dunia, kesedihannya, kegelisahannya, dan berbagai penderitaannya. Dengan itu mereka akan mengetahui betapa agungnya nikmat surga ketika kelak memasukinya.
Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata:
"Sesungguhnya sesuatu menjadi tampak indah dan bernilai karena adanya lawannya."
Kesehatan terasa nikmat setelah sakit. Keamanan terasa indah setelah ketakutan. Pertemuan terasa manis setelah perpisahan. Dan surga terasa semakin agung setelah kepayahan dunia.
Karena itu, tidak semua kesulitan adalah tanda kemurkaan. Bisa jadi ia adalah bagian dari tarbiyah Allah agar hati lebih mengenal nilai nikmat-Nya.
Maka bersabarlah. Dunia memang bukan tempat istirahat, melainkan tempat perjalanan menuju kampung abadi.
Referensi:
📖 Miftāḥ Dār as-Sa‘ādah (1/5–6) — Ibn al-Qayyim رحمه الله