BAGAIMANA SIKAP MUSLIM TERHADAP PEMIMPIN ?
[Tabligh Akbar bersama Syaikh Dr. Muhammad Hisyam At-Thahiri hafizhahullah dengan penerjemah Ustadz Maududi Abdullah, Lc hafizhahullah pada hari Sabtu ba'da Maghrib tgl 6 Al-Muharram 1448 H / 20 Juni 2026 M di Masjid Al-Hijrah Markaz Hijrah Nusantara, Pekanbaru]
Hal yang pertama kali harus diketahui dalam muamalah terhadap pemimpin termasuk dalam permasalahan Aqidah sebagian dan permasalahan ibadah di sebagian lainnya.
Nabi bersabda :
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.”
(HR. Muslim no. 1851 dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu).
Maksud hadits, seorang yang tidak mau patuh kepada pemimpin maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Patuh kepada pemimpin dalam perihal yang ma'ruf. Maka jika selamat dalam perkara Aqidah ini maka ia akan selamat dari Aqidah khawarij.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..."
(QS. An-Nisa' : 59)
Umara pemimpin dalam negara, ulama pemimpin dalam agama.
Dalam hadits :
مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي.
“Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.”
(HR. Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya)
Penamaan pemimpin banyak, diantaranya : raja, presiden, sulthan, dll.
Patuh dan taat kepada pemimpin dalam hal yang ma'ruf sudah disepakati oleh para ulama Ahlussunah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali khawarij, mu'tazilah dan pengikut hawa nafsu lainnya. Sebagaimana terdapat dalam kitab Aqidah Ath-Thahawiyah, Ushulus Sunnah dan kitab-kitab ulama lainnya.
Kalau kita ingin mengetahui penerapan lihatlah praktek sahabat Nabi Radhiyallahu 'anhum. Lihatlah sejarah bagaimana ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi wa sallam wafat, tidak langsung di kubur, sebelum ada di bai'at pengganti Rasul, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu.
Pemimpin ibarat seorang ayah bagi suatu wilayah, maka jika kita renungkan tidaklah seorang ayah zhalim terhadap anaknya.
Berkata Imam Hasan Al-Bashri, "Pemimpin yang zhalim adalah cobaan dari Allah, maka hendaklah rakyat kembali (bertaubat) kepada Allah agar Allah memperbaiki pemimpinnya."
Pelajaran dari Nabi Musa 'Alayhissalam, Nabi Musa tidak menyulut umat agar memberontak kepada Fir'aun.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
تِلْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلْغَيْبِ نُوحِيهَآ إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَٱصْبِرْ ۖ إِنَّ ٱلْعَٰقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Hud : 49)
Banyak kejadian yang kita saksikan ketika memberontak kepada pemimpin, terjadinya pertumpahan darah, hilangnya nyawa dan lainnya, sehingga manfaat yang di dapat lebih sedikit dan mudharat yang di dapat lebih banyak.
Mendengar dan ta'at kepada pemimpin adalah merupakan perkara agama yang termasuk ibadah kepada Allah bukan termasuk perkara mendapatkan hasil dari perkara dunia. Seperti shalat, apa manfaatnya untuk perkara dunia kita? Tetapi kita mengetahui bahwa shalat adalah ibadah wajib kita kepada Allah Ta'ala.
Do'akanlah dengan ikhlas agar Allah memperbaiki keadaan pemimpin kita, maka ini termasuk dari pertolongan kita kepada pemimpin.
Hadits Nabi,
عن عوف بن مالك رضي الله عنه مرفوعاً: «خِيَارُ أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتُصَلُّون عليهم ويصلون عليكم. وشِرَارُ أئمتكم الذين تبُغضونهم ويبغضونكم، وتلعنونهم ويلعنونكم!»، قال: قلنا: يا رسول الله، أفلا نُنَابِذُهُم؟ قال: «لا، ما أقاموا فيكم الصلاة. لا، ما أقاموا فيكم الصلاة».
[صحيح] - [رواه مسلم]
Dari 'Auf bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Ia) berkata, “Kami pun bertanya: ‘Apakah kami boleh melawan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, selama mereka menegakkan salat di tengah kalian. Tidak, selama mereka masih menegakkan salat di tengah kalian.’”
[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Muslim]
Diantara bersih hati seseorang, ia mendo'akan kebaikan bagi pemimpinnya. Mendo'akan pemimpin termasuk bagian dari menasehati pemimpin.
Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”
Ada yang bertanya pada Fudhail, “Kenapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”
(Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim)
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah hidup di 3 zaman Khalifah yang zhalim ( al-Makmun, al-Mu’tashim, al-Watsiq pada masa Daulah Abasiyah) beliau di siksa oleh Khalifah karena mereka terpengaruh Aqidah mu'tazilah. Lalu dikatakan orang kepada Imam Ahmad, "wahai imam, kenapa engkau tidak memerintahkan umat untuk memberontak kepada Khalifah"? Imam Ahmad menjawab : "Dari nash-nash bahwasanya kita bersabar dengan keadaan pemimpin kita."
Khalifah ketika itu telah mencopot jabatan ulama-ulama Ahlussunah, menyiksa mereka, bahkan sampai membunuh mereka dan menjauhkan mereka dari masyarakat (umat), tetapi para ulama Ahlussunah tidak menyuruh manusia untuk memberontak.
Do'akanlah pemimpin di waktu-waktu mustajab dengan do'a-do'a kebaikan. Janganlah kita menjadi anak-anak dunia, maksudnya jika diberi jabatan, kedudukan dan lainnya maka ia mendo'akan pemimpin tersebut dan ridho terhadapnya tapi kalau tidak ia mencela dan memberontak terhadap pemimpin. Maka jadilah anak-anak akhirat, maksudnya yaitu mendo'akan pemimpin meskipun tidak diberi jabatan dan lainnya.
Ada tiga orang yang kelak pada hari kiamat -kata Rasulullah- dia tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat oleh Allah Jalla wa ‘Ala dan tidak akan disucikan dari dosa dan bagi mereka adzab yang pedih.
ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Siapakah tiga orang tersebut?
Yang pertama:
رَجُلٌ عَلَى فَضْلِ مَاءٍ بِالْفَلاَةِ يَمْنَعُهُ مِنِ ابْنِ السَّبِيلِ
“Seorang laki-laki yang mempunyai kelebihan air di padang pasir ternyata dia tidak mau memberinya kepada ibnu sabil yang sangat membutuhkan air.”
Yang kedua:
وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ لَهُ بِاللَّهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ وَهُوَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ
“Seseorang yang berjual beli di waktu ashar lalu ia bersumpah dusta bahwasanya ia telah mengambil barang tersebut dengan nilai seperti ini dan begitu padahal tidak.”
Yang ketiga, kata Rasulullah:
وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ
“Dan orang yang membai’at pemimpinnya karena dunia, bila ia diberi oleh pemimpin ia melaksanakan bai’atnya, dan bila tidak diberi maka ia tidak mau melaksanakan bai’atnya.”
“Seseorang yang membai’at pemimpinnya hanya karena dunia. Jika ia diberi dunia, dia mau taat. Tapi jika ia tidak diberikan dunia, maka ia tidak mau taat.”
(Hadits shahih dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim)
Diantara mu'amalah terhadap pemimpin yaitu menasehatinya dengan sir (rahasia) tanpa mengumbar-umbar aibnya.
Hadits Nabi,
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.”
[HR. Muslim, no. 55]
Jadilah seorang muslim yang menasehati bukan mencela. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. At-Taubah : 71)
Hendaknya kita menjaga persatuan kaum Muslimin, jangan sampai kita berpecah belah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..."
(QS. Ali Imran ayat 103)
Sebagian ulama menafsirkan adalah persatuan dengan Al-Qur'an, Sunnah dan pemimpin, yang pembahasan saling berkaitan.
Hadits Hudzaifah yang dikenal dengan hadits tentang fitnah (huru-hara akhir masa) ini ada dalam Shahihain dengan redaksi yang sudah disepakati keshahihan isinya. Riwayat yang disepakati ini melalui jalur Abu Idris Al-Khaulani yang nama aslinya adalah ‘A`idzullah bin Abdullah yang berkata, Aku mendengar Hudzaifah bin Al-Yaman berkata,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» ، قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي، وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» ، فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا، قَالَ: «نَعَمْ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ» ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»
“Orang-orang semua bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan, sementara aku bertanya tentang keburukan karena aku takut akan menimpa diriku. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini telah melewati masa jahiliyyah dan keburukan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Aku, “Apakah setelah keburukan itu akan kembali datang kebaikan?”
Rasulullah, “Ya, tapi ada sedikit kabut (ketidakjelasan).”
Aku, “Apa kabutnya?”
Rasulullah, “Adanya kaum yang tidak melaksanakan sunnahku dan tidak berpedoman pada petunjukku. Ada yang kamu dukung perbuatan mereka ada pula yang kamu ingkari.”
Aku, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi keburukan?”
Beliau, “Ya, kaum yang menyeru di pintu-pintu jahannam, siapa yang memenuhinya akan mereka lemparkan ke dalamnya.”
Aku, “Tolong diskripskan kaum itu kepada kami ya Rasulullah.”
Beliau, “Orang-orang dari kulit kita sendiri dan bicara dengan bahasa kita.”
Aku, “Wahai Rasulullah, apa saran anda kalau aku mendapati itu?”
Beliau, “Tetaplah bergabung pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka.”
Aku, “Bila tidak ada jamaah tidak pula ada imam?”
Beliau, “Tinggalkan semua kelompok itu meski kau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dalam keadaan seperti itu.”
(HR. Al-Bukhari, no. 3606 dan 7084, Muslim, no. 1847).
Mudah-mudahan pembahasan ini bermanfaat dan di akhiri dengan hadits berikut :
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَإِنْ أَنْتَ أَدْرَكْتَهُمْ فَصَلِّ الصَّ ةَالَ لِوَقْتِهَا-وَرُبَّمَا قَالَ: فِي رَحْلِكَ-ثُمَّ ائْتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتَهُمْ قَدْ صَلُّوا كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَإِنْ وَجَدْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ فَتَكُونُ لَكَ نَافِلَةً.
“Wahai Abu Dzar, sungguh akan muncul di tengah kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Jika engkau dapatkan mereka, shalatlah engkau pada waktunya.’ -atau beliau mengatakan-, ‘Shalatlah di rumahmu, kemudian datangilah mereka. Jika kalian dapatkan mereka sudah selesai menunaikan shalat, engkau telah tunaikan shalat sebelumnya. Seandainya engkau dapatkan mereka belum shalat, shalatlah bersama mereka dan shalat itu adalah nafilah (sunnah) bagimu’.”
(HR. Imam Muslim dan lainnya)
Perhatikanlah dengan seksama hadits ini...
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita pemimpin yang adil.
Aamiin...
Catatan : rahmat silaturahim
Abu abdillah rahmat
https://www.facebook.com/share/p/1LMLKv49oL/