Sabtu, 20 Juni 2026

Mereka tidak mengatakan:"Karena dia salah dalam satu masalah, maka seluruh jasanya tidak ada nilainya."Mereka juga tidak mengatakan:"Karena dia ulama besar, maka semua pendapatnya pasti benar."Mereka mengambil jalan yang lebih adil:"Yang benar diterima, yang salah ditolak, dan keutamaan orangnya tetap diakui."Mungkin inilah salah satu makna ucapan para ulama bahwa Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling adil terhadap manusia. Mereka tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak buta terhadap kebaikan.

Salah satu hal yang cukup berkesan ketika membaca karya-karya Ibn Taimiyah adalah cara beliau memperlakukan ulama yang pendapatnya beliau kritik.
Banyak orang membayangkan bahwa jika suatu pendapat dibantah dengan panjang lebar, maka otomatis pemilik pendapat itu dianggap sesat total, tidak punya jasa, atau tidak ada lagi kebaikan yang layak disebut. Namun yang saya temukan justru sering sebaliknya.
Tidak sedikit saya dapati setelah menjelaskan kesalahan suatu pemahaman atau membantah argumentasi seorang tokoh, beliau kemudian mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menyebut keutamaannya, mengakui keluasan ilmunya, bahkan berharap Allah membalas jasa-jasanya bagi umat Islam.
Beliau tampaknya sangat memahami bahwa manusia tidak pernah hanya terdiri dari benar atau salah semata. Seorang ulama bisa keliru dalam sebagian masalah, tetapi pada saat yang sama memiliki lautan ilmu, perjuangan, dakwah, pengajaran, pembelaan terhadap Islam, dan manfaat yang dirasakan oleh umat selama berabad-abad.
Karena itu, kritik ilmiah dalam tradisi para ulama besar dahulu sering kali berbeda dengan budaya "cancel" yang populer hari ini.
Mereka tidak mengatakan:
"Karena dia salah dalam satu masalah, maka seluruh jasanya tidak ada nilainya."
Mereka juga tidak mengatakan:
"Karena dia ulama besar, maka semua pendapatnya pasti benar."
Mereka mengambil jalan yang lebih adil:
"Yang benar diterima, yang salah ditolak, dan keutamaan orangnya tetap diakui."
Mungkin inilah salah satu makna ucapan para ulama bahwa Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling adil terhadap manusia. Mereka tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak buta terhadap kebaikan.
Kadang saya berpikir, andai adab seperti ini lebih banyak hadir dalam perdebatan keilmuan hari ini, mungkin suasana akan jauh lebih sehat. Kita bisa berbeda pendapat tanpa harus menghapus jasa orang lain. Kita bisa membantah suatu pandangan tanpa harus membangun kebencian pribadi. Kita bisa mengingat kesalahan seseorang tanpa melupakan puluhan tahun pengabdiannya untuk ilmu dan umat.
Sebab keadilan bukan hanya mengakui kesalahan orang yang kita cintai, tetapi juga mengakui keutamaan orang yang kita kritik.
Dan barangkali itulah yang sering saya lihat dalam banyak karya Ibnu Taimiyah: ketegasan dalam menjaga kebenaran, namun tetap disertai keluasan hati dalam menilai manusia.
Ustadz noor akhmad setiawan
https://www.facebook.com/1047101720/posts/pfbid02QTZabn9exfkdkvWSdUr2gGaw31vW6v4trVP9dJUA4FaPF35jXs48FVeBda47fBcsl/?mibextid=Nif5oz