[Ilmu yang Paling Mulia dan Dari Mana Ia Diambil]
Amma ba'du: Sesungguhnya hal yang paling utama untuk diperebutkan oleh orang-orang yang saling bersaing, dan paling layak untuk dipacu dalam arena perlombaan oleh orang-orang yang berlomba adalah: sesuatu yang dapat menjamin kebahagiaan seorang hamba dalam kehidupan dunia dan akhiratnya, serta menjadi penunjuk jalan menuju kebahagiaan tersebut. Sesuatu itu adalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, yang mana tidak ada kebahagiaan bagi seorang hamba kecuali dengan keduanya, dan tidak ada keselamatan baginya kecuali dengan berpegang teguh pada sebab keduanya. Barangsiapa yang dikaruniai keduanya, maka ia telah menang dan beruntung. Barangsiapa yang terhalang dari keduanya, maka ia telah terhalang dari seluruh kebaikan. Keduanya merupakan titik pangkal terbaginya hamba menjadi orang yang dirahmati dan orang yang terhalang dari rahmat, dan dengan keduanya pula dapat dibedakan antara orang yang baik dan orang yang fajir (gemar maksiat), orang yang bertakwa dan orang yang sesat, serta orang yang zalim dan orang yang dizalimi.
Dan karena ilmu itu adalah pasangan dan pendorong bagi amal, serta kemuliaannya mengikuti kemuliaan apa yang diketahuinya (objek ilmunya), maka ilmu yang paling mulia secara mutlak adalah ilmu Tauhid, dan yang paling bermanfaat untuk hukum-hukum perbuatan hamba (ilmu Fikih). Tidak ada jalan untuk mengambil kedua cahaya ini, dan menerima kedua ilmu ini, melainkan dari lentera (sumber) seseorang yang telah tegak dalil-dalil pasti akan kemaksumannya, dan kitab-kitab samawi telah menyatakan secara tegas akan kewajiban menaati dan mengikutinya. Beliau adalah As-Shadiq Al-Masduq (orang yang benar dan dibenarkan), yang tidak berbicara dari hawa nafsunya:
{إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى}
"Tidak lain (yang diucapkannya itu) melainkan wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An-Najm: 4).
--- I'lam al-Muwaqqi'in, Ibnul Qayyim, 1/7-8
Haz