Video ini membahas diskusi Syekh Prof. Dr. Shalih Sindi mengenai masalah penetapan sifat *al-Istiwa* (bersemayam/tinggi di atas Arsy) menurut Al-Baqillani, dan apakah hal tersebut sejalan dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah atau tidak.
**Poin-poin penting yang terdapat dalam video:**
* **Pendapat Al-Baqillani:** Syekh menjelaskan bahwa sebagian ulama, seperti As-Sijzi, menyebutkan bahwa Al-Baqillani berpendapat bahwa *al-Istiwa* adalah "perbuatan yang Allah lakukan pada Arsy", dan bukan sifat yang melekat pada Zat Allah Subhanahu wa Ta'ala (0:12 - 0:56).
* **Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah:** Syekh membedakan antara pandangan tersebut dengan mazhab Ahlus Sunnah. Menurut Ahlus Sunnah, *al-Istiwa* adalah sifat yang disandarkan kepada Allah Ta'ala (sifat bagi Allah), sedangkan pandangan yang dinisbatkan kepada Al-Baqillani menjadikannya sebagai perbuatan yang disandarkan pada Arsy (1:15 - 1:30).
* **Kesimpulan:** Syekh mengisyaratkan bahwa perbedaan ini kembali ke dasar akidah, yaitu penolakan terhadap adanya *As-Sifat al-Ikhtiyariyyah* (sifat-sifat pilihan/sukarela yang berkaitan dengan kehendak Allah) pada Zat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan sifat-sifat Allah (1:35 - 1:46).