“Apabila hati-hati berada di antara dua jari Allah, Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki, maka wajib bagi kita untuk berlindung dan memohon kepada-Nya agar meneguhkan hati-hati ini di atas kebenaran, serta mengarahkannya kepada ketaatan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Dan seorang hamba hendaknya merasakan kebutuhan dan kefakiran yang sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia meneguhkan hatinya di atas kebenaran. Sebab, ia tidak akan mampu meneguhkan hatinya sendiri kecuali jika Allah yang meneguhkannya.”
(Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah Ta’ala, Adz-Dzariah, 2/116)