Kemarin, selepas kajian di KSBB saya lihat ustadz nda pegang cangkir sama sekali. Saya tanya apa sedang puasa, beliau jawab iya. Jadilah saya tanya ke beliau soal beda puasa dalam 3 hari ini. Pilih ikut pemerintah tapi kali ini pakai hisab, atau tetap ikut yg ru'yatul hilal, atau supaya aman puasa di 3 hari.
Beliau sampaikan yang intinya, yang utama adalah ikut pemerintah karena merekalah yang berwenang memutuskan. Mau metode apapun yang mereka pakai.
Kalau tadi pagi ikut kajian tentang Birrul Walidain, ustadz menjelaskan bahwa salah satu makna "uff" yang kita dilarang mengucapkan pada orang tua, adalah perasaan jijik jika orang tua yang sudah sepuh / pikun buang hajat (BAB). Kita diperintahkan membersihkan tanpa ada perasaan jijik, karena perasaan itu akan jadi awal mula perbuatan durhaka pada orang tua.
Birrul walidain adalah hablumminannas yang paling agung, di antara prakteknya adalah dengan mendoakan orang tua di tiap akhir tasyahud, menuruti keinginan orang tua selama tidak dilarang agama. Sekalipun minum es teh meski orang tua diabetes.
Atau semisal kisah Imam Abu Hanifah yang ibundanya bertanya tentang sesuatu dan setelah beliau jawab, ibundanya tetap tidak puas lalu ingin tanya ke seseorang yang ternyata hanya da'i biasa jika dibandingkan Imam Abu Hanifah yang seorang ulama besar. Namun meski demikian Imam Abu Hanifah tetap menuruti keinginan ibunya tanpa menyombongkan dirinya, meski kemudian da'i tadi menjawab dengan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah dan ibunya baru puas.
Allahu a'lam.
Al akh satrio rahmad
https://www.facebook.com/share/1Bn6aiUUoa/