Kamis, 25 Juni 2026

Suatu hari Asy-Sya'bi bertanya kepada Syuraih Al-Qadhi:

بسم الله الرحمن الرحيم 

Kisah ini dinukil oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitab Ahkam an-Nisa' dari Syuraih Al-Qadhi rahimahullah.

Suatu hari Asy-Sya'bi bertanya kepada Syuraih Al-Qadhi:

"Wahai Abu Umayyah, bagaimana keadaanmu bersama keluargamu?"

Syuraih menjawab:

"Selama dua puluh tahun, aku tidak pernah melihat sesuatu dari istriku yang membuatku marah."

Asy-Sya'bi berkata:

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

Syuraih pun mulai bercerita.

Beliau berkata:

"Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku melihat kecantikan dan keelokan yang luar biasa. Maka aku berkata dalam diriku: Aku akan berwudhu dan mengerjakan shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Setelah aku selesai shalat, ternyata istriku ikut shalat bersamaku.

Ketika rumah telah sepi dari para tamu, aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku kepadanya.

Namun ia berkata:

'Tunggu sebentar wahai Abu Umayyah, tetaplah di tempatmu.'

Lalu ia berkata:

'Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Amma ba'du.

Sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang asing bagimu. Aku tidak mengetahui akhlak dan kebiasaanmu. Maka beritahukanlah kepadaku apa yang engkau sukai agar aku melakukannya, dan apa yang engkau benci agar aku meninggalkannya.

Di tengah kaummu ada banyak wanita yang dapat engkau nikahi, dan di tengah kaumku ada banyak laki-laki yang sepadan denganku. Akan tetapi apabila Allah telah menetapkan suatu perkara, maka pasti terjadi.

Kini engkau telah menjadi pemimpinku. Maka lakukanlah apa yang Allah perintahkan: mempertahankan dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik.

Aku mengatakan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu.'"

Syuraih berkata:

"Demi Allah, ucapannya membuatku harus berkhutbah saat itu juga."

Maka aku berkata:

"Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Adapun setelah itu.

Apa yang engkau ucapkan, apabila engkau benar-benar melaksanakannya maka itu menjadi keberuntungan bagimu. Namun jika hanya sekadar ucapan, maka itu akan menjadi hujjah atas dirimu.

Aku menyukai ini dan ini.

Aku membenci ini dan ini.

Apa saja kebaikan yang engkau lihat dariku, sebarkanlah.

Dan apa saja keburukan yang engkau lihat dariku, maka tutuplah."

Lalu istrinya bertanya:

"Bagaimana pendapatmu tentang kunjungan keluargaku?"

Aku menjawab:

"Aku tidak suka apabila para mertuaku terlalu sering datang sehingga membuatku bosan."

Lalu ia berkata:

"Tetangga mana yang engkau sukai masuk ke rumahmu sehingga akan kuizinkan, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga akan kuhindari?"

Aku menjawab:

"Keluarga Fulan adalah orang-orang yang baik, sedangkan keluarga Fulan adalah orang-orang yang kurang baik."

Syuraih berkata:

"Malam itu aku lalui sebagai malam yang paling membahagiakan. Aku hidup bersamanya selama satu tahun dan tidak melihat darinya kecuali apa yang aku sukai."

Ketika genap setahun, aku pulang dari majelis peradilan dan mendapati seorang wanita berada di rumah.

Aku bertanya:

'Siapa dia?'

Mereka menjawab:

'Itu ibu mertuamu.'

Lalu ibu mertuaku bertanya:

'Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?'

Aku menjawab:

'Sebaik-baik istri.'

Lalu ia berkata:

'Wahai Abu Umayyah, tidak ada keadaan yang lebih berbahaya bagi seorang wanita selain dua keadaan: ketika ia melahirkan anak laki-laki dan ketika ia sangat dimanjakan oleh suaminya.

Demi Allah, tidak ada keburukan yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki di rumahnya daripada wanita yang terlalu dimanja.

Maka didiklah jika perlu dididik dan perbaikilah jika perlu diperbaiki.'"

Syuraih berkata:

"Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun. Aku tidak pernah mencelanya dalam suatu perkara kecuali satu kali saja, dan pada saat itu justru akulah yang zalim."

---

Renungkanlah..

Rumah tangga yang penuh ketenangan itu ternyata tidak dimulai dengan tuntutan, tetapi dengan adab.

Tidak dimulai dengan ego, tetapi dengan kerendahan hati.

Tidak dimulai dengan mencari kesalahan pasangan, tetapi dengan kesiapan memperbaiki diri sendiri.

Mungkin inilah sebab mengapa para salaf begitu menaruh perhatian pada ilmu dan akhlak sebelum berbicara tentang cinta.

Semoga Allah memperbaiki rumah tangga kaum muslimin, memberikan pasangan yang shalih dan shalihah kepada yang belum menikah, serta menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai sebab kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

📚 Ahkam an-Nisa' karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, hlm. 134.

✍ Akhuukum, Abdullah Bin Dahrul