Jumat, 31 Juli 2026

Fiqih Mazhab Maliki -​ Tata Cara Salat Jenazah

Fiqih Mazhab Maliki -​ Tata Cara Salat Jenazah

​Posisi Berdiri Imam:
Imam berdiri sejajar dengan pinggang/tengah tubuh jenazah laki-laki, dan sejajar dengan kedua bahu jenazah perempuan, dengan posisi kepala jenazah berada di sebelah kanannya.

​Pengangkatan Tangan Saat Takbir:
Tangan diangkat hanya pada takbir pertama. Adapun pada takbir-takbir berikutnya, tangan tidak perlu diangkat kembali, menurut pendapat yang paling masyhur dalam mazhab Maliki.

​Batas Minimal Doa:
Doa minimal dalam salat jenazah setelah setiap takbir adalah membaca:
​"Allahummaghfir lahu warhamh"
(Ya Allah, ampunilah dia dan rahmutilah dia).

​Hukum Membaca Al-Fatihah:
Membaca Al-Fatihah dalam salat jenazah tidak disunnahkan menurut mazhab Maliki. Namun, jika ada yang membacanya demi menjaga/menghormati perbedaan pendapat (mura'atan lil-khilaf), hal itu tidak mengapa.
Al-'Allamah Zarruq mengatakan: (Dan ia boleh melakukannya, yakni membaca Al-Fatihah, sebagai bentuk kehati-hatian untuk keluar dari perselisihan ulama).

​Anjuran Setelah Takbir Pertama:
Sebagian ulama, seperti Ibn Abi Zayd rahimahullah dalam Al-Risalah-nya, menganjurkan agar pada takbir pertama, salat diawali dengan memuji Allah serta bersalawat kepada Rasulullah ๏ทบ.

​๐Ÿ“š Al-Risalah Al-Qayrawaniyyah dan At-Tawdih karya Imam Khalil

ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum

๐”๐ฌ๐ญ ๐€๐ฌ๐ž๐ฉ ๐’๐จ๐›๐š๐ซ๐ข: ๐“๐ž๐ซ๐ฃ๐ž๐ฆ๐š๐ก๐š๐ง ๐Š๐ข๐ญ๐š๐› ๐€๐ซ-๐‘๐š๐ก๐ข๐ช ๐€๐ฅ-๐Œ๐š๐ค๐ก๐ญ๐ฎ๐ฆ ๐๐ข ๐ˆ๐ง๐๐จ๐ง๐ž๐ฌ๐ข๐š ๐๐ข๐ฌ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐๐ข๐ฌ๐ญ๐จ๐ซ๐ฌ๐ข ๐†๐š๐ฆ๐›๐š๐ซ๐š๐ง ๐”๐ฆ๐š๐ญ ๐ˆ๐ฌ๐ฅ๐š๐ฆ ๐“๐ž๐ซ๐ก๐š๐๐š๐ฉ ๐’๐จ๐ฌ๐จ๐ค ๐๐š๐›๐ข ๐Œ๐ฎ๐ก๐š๐ฆ๐ฆ๐š๐ ๐’๐€๐–

CIPUTAT – Pendiri Sirah Community Indonesia, Ust Asep Sobari, memperingatkan bahwa ada sejumlah kesalahan terjemahan dalam beberapa kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum edisi Indonesia yang dapat mendistorsi konstruksi mental dan gambaran umat Islam terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. 

Pernyataan tegas ini disampaikan dalam Simposium Sejarah Islam bertema "Rewriting Islamic History, Sources, Networks and Social Changes" yang digelar di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah, Selasa (28/7/2026).

Dalam artikel penelitiannya yang berjudul “Missunderstanding Sirah Nabawiyah: Kesalahan  Penerjemahan dalam Buku Sirah Ar-Rahiq al-Makhtum pada Beberapa Edisi Cetakan  Indonesia Suatu Analisis Kritis Terhadap Kualitas Alih Wahana Teks Historiografi Islam”, Ust Asep Sobari melakukan komparasi terhadap lima (5) buku terjemahan ar-Rahiqul al-Makhtum yang popular beredar di Indonesia. Di antaranya dari Penerbit Al-Kautsar, Ummul Quro, Darul Haq, Qisthi Press dan Gema Insani.

Ust Asep menjelaskan bahwa kesalahan dalam alih bahasa bukan sekadar masalah teknis linguistik, melainkan masalah hilangnya ruh sejarah. Ia mencontohkan kesalahan penerjemahan istilah Syi’b Abi Thalib (lembah/celah bukit) menjadi "perkampungan" yang terdapat pada beberapa penerbit besar. 

"Jika penderitaan fisik para sahabat saat diboikot digambarkan terjadi di sebuah perkampungan yang terkesan nyaman, maka empati sejarah dan pemahaman pembaca terhadap beratnya perjuangan Rasulullah akan luntur," ungkapnya,.

Penelitian ini dilakukan dengan membedah naskah terjemahan dari lima penerbit besar di Indonesia melalui pendekatan analisis kontrastif dan kritik teks,. Ust Asep menemukan adanya kesalahan leksikal-semantis yang fatal, seperti istilah "jeroan unta" (sala jazurin) yang diterjemahkan menjadi "kotoran unta", hingga kesalahan identitas kabilah Bani Salimah yang dengan kompak ditulis oleh seluruh kitab terjemah edisi berbahasa Indonesia menjadi Bani Salamah. 

Ia menekankan bahwa tanpa akurasi filologis, wibawa ilmiah kitab sirah sebagai rujukan otoritatif akan menurun menjadi sekadar bacaan populer yang tidak presisi. (fajar)

Menjaga Wibawa Pemimpin

*Menjaga Wibawa Pemimpin*

Burhanuddin Al Biqa'i berkata: 

"Sesungguhnya kemaslahatan agama tidak mungkin terwujudkan tanpa menghormati pemimpin".

(Nadhmu Surat 9/302)

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

Bantahan Asy'ariyah kepada Mu'tazilah dalam masalah sifat adalah bantahan yg sama Atsariyah/salafiyah kepada asy'ariyah.

๐—”๐˜€-๐—ฆ๐˜‚๐˜†๐˜‚๐˜๐—ต๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ๐—ถ๐—ป

[๐™†๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ]

Sekitar dua tahun setelah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal atas jasa beliau dalam melayani Islam, saya mengunjungi beliau di masjidnya di 'Unaizah. Saya bertanya kepada beliau tentang karya-karya Imam As-Suyuthi.

Beliau menjawab:

"๐—”๐˜€-๐—ฆ๐˜‚๐˜†๐˜‚๐˜๐—ต๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—บ ๐—ธ๐—ฎ๐˜‚๐—บ ๐—บ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ๐—ถ๐—ป. ๐—œ๐—น๐—บ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐˜€. ๐—”๐—ธ๐˜‚ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—น ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ณ๐—ฎ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ, ๐—ธ๐—ต๐˜‚๐˜€๐˜‚๐˜€๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ถ๐—น๐—บ๐˜‚ ๐—ป๐—ฎ๐—ต๐˜„๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ. ๐—”๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ, ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ถ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ถ. ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป-๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป, ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐˜‚."

— Dr. Ahmad bin Musfir Al-'Utaibi

๐™๐™–๐™š๐™™๐™–๐™

Inilah manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi para ulama:

- Mengakui keutamaan dan jasa mereka.
- Mengambil manfaat dari ilmu mereka.
- Tidak mengikuti kesalahan mereka.
- Menjelaskan kekeliruan dengan dalil dan adab.
- Tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menjatuhkan kehormatan seorang alim.

Sebagaimana dikatakan:
ูŠُุฑَุฏُّ ุงู„ْุฎَุทَุฃُ، ูˆَูŠُุญْูَุธُ ุงู„ْูَุถْู„ُ
"Kesalahan ditolak, namun keutamaan tetap dijaga."

๐—œ๐—ป๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—น: ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐˜‚๐—น๐˜๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐˜‚๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐˜‚๐—น๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐˜๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—น๐—ถ๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ป.

๐Ÿ“ Kisah ini juga menunjukkan salah satu akhlak mulia Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah. Meskipun beliau telah meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal—sebuah penghargaan bergengsi di dunia Islam—hal itu tidak membuat beliau sombong, ujub, atau meremehkan ulama lain.

Beliau tetap mengakui keilmuan Imam As-Suyuthi, mengambil manfaat dari karya-karyanya, sekaligus menjelaskan bahwa beliau memiliki beberapa kekeliruan yang tidak boleh diikuti. Tanpa celaan, tanpa merendahkan kehormatan beliau.
ustadz abu ya'la hizbul majid

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Bantah berbantah itu terus berkembang, dengan bahasa yang pedas atau bahasa yang lebih pendas lagi.

Silahkah simak, agar anda yang seperti saya kelas penonton dan tukang sorak tidak usah gatel lisan ikut masuk ke lapangan.

Syeikh Musyhur Hasan Al Salman menkritik Syeikh Rabi' bin Hadi Al Madkhli.

https://youtu.be/XXIFus7gwj4?si=63vxrkScQRWOlsj

Kritik di atas dicounter oleh Syeikh Sholeh As Suhaimi.

https://youtu.be/Qa__CIcJq1c?si=TESccGnBcjqZZXMs

Di bawah ini juga contoh bagaimana komentar syeikh Sholeh As Suhaimi perihal Syiekh Utsman Al khumais.

https://youtu.be/ldy2W_o8mN4?si=YCXgGjUP9JsTtADj

Kawan! Menurut saya, sekali lagi menurut saya nih ya, tema seperti ini membingungkan anda bukan? 

Saya yakin banyak dari anda yang bingung duduk masalahnya antara para syeikh itu sebenarnya apa sih.

Akan lebih membingungkan lagi, bila anda mengikuti jejak mereka dengan menggunakan isu yang sama untuk menilai orang lain sesama penuntut ilmu di negri kita, sedangkan syeikh syeikh panutan anda saja saling lempar tuduhan.

So?

Nantikan seri selanjutnya

https://www.facebook.com/share/18xisLuQs5/

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Tidak Semua Orang Mampu Menghadapi Ujian Kekayaan

Ibnu Taimiyah rahimahullah:

“Kemiskinan lebih cocok bagi kebanyakan orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi sedikit orang saja. Karena itu, orang-orang miskin lebih banyak masuk surga, sebab ujian kemiskinan pada umumnya lebih ringan daripada ujian kekayaan. Baik orang miskin maupun orang kaya sama-sama menghadapi ujian; yang satu dituntut untuk bersabar, sedangkan yang lain dituntut untuk bersyukur. Akan tetapi, karena keadaan kaya identik dengan kenikmatan, sedangkan keadaan miskin identik dengan kesulitan dan penderitaan, maka syukur lebih sering disebut dalam konteks kenikmatan, sedangkan sabar lebih sering disebut dalam konteks kesulitan.”
ustadz didik suyadi

Kamis, 30 Juli 2026

hati hati yang suka jawab pertanyaan agama tanpa ilmu maka dia berdosa meskipun benar jawabannya sebagaimana dijelaskan imam an nawawi rahimahullah ,


hati hati yang suka jawab pertanyaan agama tanpa ilmu maka dia berdosa meskipun benar jawabannya sebagaimana dijelaskan imam an nawawi rahimahullah  , sebab benarnya tersebut hanya kebetulan ,bukan diatas ilmu ... sedangkan dihadist patokannya bukan benar salah ,tapi diatas ilmu dan dasar yang jelas atau tidak
sebaliknya fatwa ahli ilmu tetap dapat pahala , jika benar dapat 2 pahala jika salah dapat 1 pahala  , sebab dibangun diatas ilmu 

ingat baik baik hadist berikut

ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: "ู…ู†
 ุฃูุชูŠ ุจุบูŠุฑ ุนู„ู… ูƒุงู† ุฅุซู…ู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุฃูุชุงู‡" .ูˆุฑูˆู‰ ุงุจู† ู…ุงุฌู‡  ุฃูŠุถุงً ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„: "ู…ู† ุฃูุชูŠ ุจูุชูŠุง ุบูŠุฑ ุซุจุช، ูุฅู†ู…ุง ุฅุซู…ู‡ ุนู„ู‰ ู…ู† ุฃูุชุงู‡"

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:
"Barang siapa memberikan fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa tersebut."
Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:
"Barang siapa diberi fatwa dengan suatu fatwa yang tidak memiliki dasar (tidak kokoh kebenarannya), maka sesungguhnya dosanya ditanggung oleh orang yang memberikan fatwa kepadanya."
Ustadz abdurahman patri

tidah usah trauma

Ini salah satu contoh.... yang lain masih banyak.

Ini salah satu contoh.... yang lain masih banyak.

Syeikh Muhammad bin Hadi memuji Syeikh Abdullah Al Bukhari setinggi langit.

https://youtu.be/d27fat5fJ00?si=jJH4ElKJxe8hx5Yt

Sebaliknya syeikh Abdullah Al Bukhari memuji Syeikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali setinggi langit.

https://youtu.be/rVXXgNJE9iA?si=zhJdqLJumg8xnlPR

Namun tidak selang berapa lama, saling menjatuhkan dan merendahkan.

https://youtu.be/OJx_HXREHkY?si=bh3fm6o895cKQjRT

Uniknya Syeikh Abdullah Al Bukhari kecewa berat atas perdamaian antara Syeikh Muhammad Al Madkhali dengan Syeikh Ibrahim Ar Ruhaily, padahal konon perdamaian itu terjadi dengan dimediasi oleh Syeikh Sholeh Alussyeikh 
salah seorang Menteri di Kerajaan Saudi Arabia.... ditambah lagi belau mengungkapkan kekecewaannya atas nasib buku buku ditarik dari pasaran dan ceramah ceramahnya  ditakedown oleh otoritas setempat.

Kawan! Saya angkat ini agar kita semua sadar bahwa cara kerja yang sama biasanya akan menghasilkan hasil yang serupa atau sama..... masihkah belum saatnya kita menyadari?

Ini bukan kritik terhadap manhaj salaf, namun kritik terhadap oknum yang menisbatkan diri kepada dakwah salaf.
https://www.facebook.com/share/1D1YbCMkGn/
๐Ÿ‘†Status facebook Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma
https://youtu.be/d27fat5fJ00?si=U2E4RdwBloASfAaf

Syaikhul Islam -rahimahullah- mengatakan:"Kemiskinan cocok bagi banyak orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi lebih sedikit orang.

Orang yg lapang kehidupannya tetap harus bersabar .. sebaliknya orang yg sempit kehidupannya tetap harus bersyukur.

Lapang dan sempitnya kehidupan, semuanya adalah ujian, bahkan ujian berupa lapangnya kehidupan lebih sulit dihadapi.

======

Syaikhul Islam -rahimahullah- mengatakan:

"Kemiskinan cocok bagi banyak orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi lebih sedikit orang. 

Oleh karena itu, kebanyakan orang yang masuk surga adalah orang-orang miskin, karena ujian kemiskinan lebih ringan.

(Namun sebenarnya) kedua keadaan tersebut—kemiskinan dan kekayaan—sama-sama membutuhkan sabar dan syukur. 

Akan tetapi, karena dalam kelapangan terdapat kenikmatan, sedangkan dalam kesusahan terdapat penderitaan, maka penyebutan syukur menjadi lebih dikenal dalam keadaan lapang, dan penyebutan sabar lebih dikenal dalam keadaan susah .. ..

Maka, orang yang berada dalam kelapangan lebih membutuhkan syukur, sedangkan orang yang berada dalam kesusahan lebih membutuhkan sabar.

Sabar bagi orang yang berada dalam kesusahan itu wajib. Apabila ia meninggalkannya, ia berhak mendapatkan hukuman. Demikian pula syukur bagi orang yang berada dalam kelapangan.

Adapun orang yang berada dalam kelapangan, sabar baginya terkadang bersifat sunah, yaitu ketika ia menahan diri dari syahwat yg mubah. Dan terkadang sabar bersifat wajib baginya. Akan tetapi, karena ia telah menunaikan syukur, maka sebagian kekurangannya (dalam sabar) dapat diampuni.

Demikian pula orang yang berada dalam kesusahan. Syukur baginya terkadang bersifat sunah, yaitu rasa syukur yang dengannya ia masuk dlm golongan orang-orang yang terdepan dalam kebaikan dan didekatkan kepada Allah. Sedangkan kekurangannya dalam syukur, maka bisa jadi diampuni karena ia telah menunaikan sabar dengan baik. 

Sungguh berkumpulnya sabar dan syukur secara bersamaan (pada diri seseorang) merupakan perkara yang sulit bagi banyak orang".

[Majmu'ul Fatawa 14/305]
Ustadz DR musyaffa ad dariny MA
https://www.facebook.com/share/1D4xavZb1g/

Syariat datang untuk mewujudkan dan menyempurnakan berbagai maslahat, menghilangkan serta meminimalkan berbagai mafsadah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: Syariat Datang untuk Mewujudkan Maslahat dan Menolak Mafsadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ berkata:

ุงู„ุดَّุฑِูŠุนَุฉُ ุฌَุงุกَุชْ ุจِุชَุญْุตِูŠู„ِ ุงู„ْู…َุตَุงู„ِุญِ ูˆَุชَูƒْู…ِูŠู„ِู‡َุง، ูˆَุชَุนْุทِูŠู„ِ ุงู„ْู…َูَุงุณِุฏِ ูˆَุชَู‚ْู„ِูŠู„ِู‡َุง، ูˆَุฃَู†َّู‡َุง ุชُุฑَุจِّุญُ ุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْุฎَูŠْุฑَูŠْู†ِ ูˆَุดَุฑَّ ุงู„ุดَّุฑَّูŠْู†ِ، ูˆَุชُุญَุตِّู„ُ ุฃَุนْุธَู…َ ุงู„ْู…َุตْู„َุญَุชَูŠْู†ِ ุจِุชَูْูˆِูŠุชِ ุฃَุฏْู†َุงู‡ُู…َุง ، ูˆَุชَุฏْูَุนُ ุฃَุนْุธَู…َ ุงู„ْู…َูْุณَุฏَุชَูŠْู†ِ ุจِุงุญْุชِู…َุงู„ِ ุฃَุฏْู†َุงู‡ُู…َุง.

"Syariat datang untuk mewujudkan dan menyempurnakan berbagai maslahat, menghilangkan serta meminimalkan berbagai mafsadah. Syariat juga mendahulukan dua kebaikan yang lebih besar, meraih maslahat yang lebih besar dengan mengorbankan maslahat yang lebih kecil, dan menolak mafsadah yang lebih besar dengan menanggung mafsadah yang lebih ringan." (Majmลซ' Al-Fatฤwฤ, 20/48).
Ustadz ahmad zaenudin al banjari

Ada mata yang terang, tetapi gagal melihat penderitaan manusia. Ada pula mata yang telah kehilangan cahayanya, namun hatinya memandang jauh menembus apa yang tak sanggup ditangkap oleh penglihatan.

Ada mata yang terang, tetapi gagal melihat penderitaan manusia. Ada pula mata yang telah kehilangan cahayanya, namun hatinya memandang jauh menembus apa yang tak sanggup ditangkap oleh penglihatan.

Demikianlah yang kita saksikan pada diri Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Selama tinggal di Madinah, rumah beliau nyaris tak pernah sepi dari tamu. Meja makannya terbuka setiap hari. Para penuntut ilmu, tokoh masyarakat, orang-orang biasa, hingga kaum fakir duduk bersama menikmati rezeki yang Allah hamparkan. 

Di rumah itu, kemuliaan seseorang tidak diukur dari pakaian yang dikenakan atau kedudukan yang disandang, melainkan dari keimanannya kepada Allah.

Suatu hari datang seorang lelaki miskin dengan pakaian yang lusuh dan sederhana. Ia dipersilakan duduk di samping Syaikh Bin Baz, lalu makan bersama beliau dari nampan yang sama.

Namun, seorang pelayan merasa pemandangan itu kurang pantas. Dalam pandangannya, lelaki miskin itu tidak layak duduk di sisi seorang ulama besar. Maka dengan halus ia memindahkan lelaki itu ke tempat lain. Semua berlangsung begitu cepat hingga Syaikh Bin Baz tidak mengetahui apa yang telah terjadi.

Usai makan siang, ketika waktu Asar tiba, Syaikh Bin Baz berangkat menuju Masjid Nabawi. Di dalam mobil bersama beliau ada sopir dan beberapa orang dekat, di antaranya Syaikh Ibrahim Al-Hushain.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau bertanya,

"Apakah tadi saat makan siang terjadi sesuatu?"

Syaikh Ibrahim menjawab dengan heran,

"Tidak, wahai Syaikh. Saya tidak melihat sesuatu."

Beliau kemudian mengulangi pertanyaan itu kepada sopir.

Sang sopir berkata,

"Tidak ada sesuatu yang besar, wahai Syaikh. Hanya saja, salah seorang pelayan memindahkan seorang lelaki miskin dari tempat duduk di samping Anda ke tempat lain."

Mendengar jawaban itu, wajah Syaikh Bin Baz berubah. Kesedihan memenuhi hatinya. Padahal, beliau dikenal sebagai sosok yang amat penyabar dan hampir tak pernah marah karena urusan dirinya sendiri.

Dengan suara yang bergetar dan kedua mata yang tak lagi melihat dunia namun basah oleh air mata, beliau berkata,

"Apakah rumah ini miliknya? Mengapa orang miskin itu dipindahkan?"

Hari itu hati beliau tidak tenang. Beliau memerintahkan agar lelaki miskin tersebut segera dicari. Bukan untuk diberi harta, tetapi untuk dimintai maaf dan diobati luka yang mungkin telah tergores di dalam hatinya. Para pelayan pun beliau tegur dengan keras agar jangan sekali-kali membeda-bedakan orang kaya dan orang miskin di meja makan. Sebab, rezeki itu milik Allah, dan rumah itu hanyalah titipan dari-Nya.

๐—›๐—ถ๐—ธ๐—บ๐—ฎ๐—ต

๐Ÿญ. ๐—ž๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ธ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ.

Allah tidak meninggikan seseorang karena kemewahan yang dikenakannya, tetapi karena ketakwaan yang bersemayam di dalam dadanya. Seorang fakir tetap memiliki kemuliaan yang sama sebagai hamba Allah.

๐Ÿฎ. ๐— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐—ฎ, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜†๐—ฎ.

Syaikh Bin Baz tidak lagi melihat dengan kedua matanya. Namun Allah menggantinya dengan hati yang begitu peka. Ketika orang lain melihat tidak terjadi apa-apa, beliau justru merasakan ada hati yang telah terluka.

๐Ÿฏ. ๐—Ÿ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฎ๐—น๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ธ๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ป, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป.

Barangkali memindahkan tempat duduk tampak sebagai perkara kecil. Namun bagi hati seorang fakir, perlakuan semacam itu dapat menjadi luka yang sulit sembuh.

๐Ÿฐ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ.

Karena itulah Syaikh Bin Baz tidak merasa cukup dengan menegur pelayan. Beliau ingin mencari lelaki miskin itu, meminta maaf kepadanya, dan mengembalikan kehormatan yang sempat terusik.

๐Ÿ“. ๐ˆ๐ฌ๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฃ๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฌ๐š๐ฆ๐š๐š๐ง ๐๐ข ๐ก๐š๐๐š๐ฉ๐š๐ง ๐€๐ฅ๐ฅ๐š๐ก.

Rasulullah ๏ทบ bersabda,

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)

Betapa banyak manusia yang matanya terbuka, tetapi hatinya tertutup. Ia melihat wajah, namun tidak melihat air mata yang tersembunyi. Ia melihat pakaian, tetapi gagal melihat kemuliaan seorang hamba.

Sebaliknya, Syaikh Bin Baz kehilangan cahaya penglihatannya, namun Allah memenuhi hatinya dengan cahaya iman. Dari kisah ini kita belajar, bahwa kebutaan yang paling menakutkan bukanlah ketika mata tak lagi mampu memandang, melainkan ketika hati tak lagi mampu merasakan luka sesama.
____
• Diterjemahkan dan digubah dari tulisan Syaikh Muhammad Abdul Latif, admin akun fage al-Imam Nashiruddin al-Albaniy

• Yani Fahriansyah

EMPAT ALIRAN BESAR DALAM MASALAH ASMA WA SIFAT ALLAH

EMPAT ALIRAN BESAR DALAM MASALAH  ASMA WA SIFAT ALLAH

1. Jahmiyah: menafikan dan menolak semua nama dan sifat Allah, 

2. Mu'tazilah: menafikan semua sifat Allah dan  menetapkan nama² Allah tapi sekedar nama tanpa makna....  Menurut mereka Allah itu punya nama as-samii' (yang mendengar), tapi Allah tak punya pendengaran. Allah itu al-Bashir (yang melihat) tapi Allah tak punya penglihatan. Hanya sekedar nama tanpa makna.

Nomer satu dan dua disebut juga: al-Mu'atthilah (penolak sifat² Allah)

3. Al- Asya'irah wal maturudiyah : Menetapkan sebagian sifat Allah, dan meniadakan sebagian yang lain dg cara mentakwilkannya.

4. Atsariyah/salafiyah: menetapkan semua nama dan sifat Allah apa adanya sesuai yang tercantum dalam al-Qur'an dan as-Sunnah tanpa menyerupakannya (tasybih), tanpa memalingkan maknanya (tahrif), tanpa membagaimanakannya (takyif), dan tanpa meniadakannya (ta'thil).

Syubhat kelompok 1-3: jika Allah memiliki sifat berarti sama dg Makhluk. Sehingga semua golongan tsb meniadakan sifat Allah, baik seluruhnya atau sebagiannya.

Adapun ahlussunnah meyakini:

ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ู…ุณู…ูŠุงุช

" Kesamaan nama tidak MELAZIMKAN kesamaan hakikat sesuatu.

Bagaimana menerapkan kaidah ini? 

Contoh:

Ketika ahlussunnah menetapkan bahwa Allah punya wajah dan tangan sesuai dg keagunganNya, maka mereka menuduh bahwa Salafiyun (ahlussunnah) menyerupakan Allah dengan Makhluk, karena makhluk juga punya wajah dan tangan

Padahal kenapa salafiyun (ahlussunah) menetapkan Allah punya Wajah? Karena Allah sendiri yang mengabarkan bahwa Dia punya wajah sesuai dengan kebesaran dan kemulianNya. 

(ูˆَูŠَุจْู‚َู‰ٰ ูˆَุฌْู‡ُ ุฑَุจِّูƒَ ุฐُูˆ ุงู„ْุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุงู„ْุฅِูƒْุฑَุงู…ِ) ุงู„ุฑุญู…ู† 27

"Dan kekal lah wajah tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan" ar-Rahman: 27. 

Tetapi dengan menetapkan sifat wajah bagi Allah bukan berarti Salafiyun menyamakan wajah dan tangan Allah dengan Wajah dan tangannya makhluk. 

Karena kaidah mengatakan: 

ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ุฃุณู…ุงุก ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุงู„ุงุชูุงู‚ ููŠ ุงู„ู…ุณู…ู‰

"Kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat yang dinamai"

Contoh lain:

Dalam surat an-Nisa ayat 58 Allah menamai dirinya dengan ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Teks ayat:

 ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุงู†َ ุณَู…ِูŠุนًุง ุจَุตِูŠุฑًุง....ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู†ุณุงุก 58

Sesungguhnya Allah itu samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Meskipun demikian Allah pun mensifati manusia dalam Surat al-insan ayat ke 2 dengan ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran (yang mendengar dan melihat) 

Teks ayat:

(ุฅِู†َّุง ุฎَู„َู‚ْู†َุง ุงู„ْุฅِู†ْุณَุงู†َ ู…ِู†ْ ู†ُุทْูَุฉٍ ุฃَู…ْุดَุงุฌٍ ู†َุจْุชَู„ِูŠู‡ِ ูَุฌَุนَู„ْู†َุงู‡ُ ุณَู…ِูŠุนًุง ุจَุตِูŠุฑًุง)....

 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia   ุณู…ูŠุนุง ุจุตูŠุฑุง samii'an bashiiran ( mendengar dan melihat) QS. Al-insan: 2

Tentunya pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. 

Jadi kesamaan nama tidak melazimkan kesamaan hakekat.

Referensi:

Syarh Lum'atul I'tiqad Syaikh Utsaimin, aqidah at-Tauhid Syaikh shalih Fauzan, Al-Qaul al-Mufid Syaikh Utsaimin.
Ustadz Dr fadlan fahamsyah

Dahulu Syekh Muhyiddin (Imam an-Nawawi) — *semoga Allah merahmatinya* — adalah seorang yang menempuh jalan (manhaj) para sahabat *semoga Allah meredai mereka* —, dan aku tidak mengetahui seorang pun di zaman kita sekarang yang menempuh jalan mereka selain beliau.">


**ุชุญูุฉ ุงู„ุทุงู„ุจูŠู† ููŠ ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ู…ุญูŠูŠ ุงู„ุฏูŠู†**
**ูˆู‚ุงู„ ู„ูŠ ุงู„ุดูŠุฎ ุงู„ุนุงุฑู ุงู„ู…ุญู‚ู‚ ุงู„ู…ูƒุงุดِู (ูก) ุฃุจูˆ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญูŠู… ู…ุญู…ุฏ ุงู„ุฅุฎู…ูŠู…ูŠ - ู‚َุฏَّุณ ุงู„ู„ู‡ ุฑูˆุญู‡، ูˆู†ูˆَّุฑ ุถุฑูŠุญู‡ - :**
**«ูƒุงู† ุงู„ุดูŠุฎ ู…ุญูŠูŠ ุงู„ุฏูŠู† ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุณุงู„ูƒุงً ู…ู†ู‡ุงุฌ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฑุถูˆุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ، ูˆู„ุง ุฃุนู„ู… ุฃุญุฏุงً ููŠ ุนุตุฑู†ุง ุณุงู„ูƒุงً ุนู„ู‰ ู…ู†ู‡ุงุฌู‡ู… ุบูŠุฑู‡».**
*Tuhfatut Thalibin fi Tarjamati al-Imam an-Nawawi Muhyiddin*


Dan telah berkata kepadaku Syekh al 'Arif al-Muhaqqiq al-Mukasyif, Abu Abdurrahim Muhammad al-Ikhmimi 
> **"Dahulu Syekh Muhyiddin (Imam an-Nawawi) — *semoga Allah merahmatinya* — adalah seorang yang menempuh jalan (manhaj) para sahabat  *semoga Allah meredai mereka* —, dan aku tidak mengetahui seorang pun di zaman kita sekarang yang menempuh jalan mereka selain beliau."

Selasa, 28 Juli 2026

sa'dan

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

“Maka berbuat baiklah dengan diri kalian dan harta kalian, nasihatilah (sesama), dan bantulah saudara/teman kalian, khususnya orang-orang terdekat kalian. 

Jauhilah permusuhan, perdebatan, dan menyakiti kaum muslimin dalam bentuk apa pun.”

(Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Majmu’ Fatawa wa Maqalat, 19/249)

Kiat-Kiat Ketika Kehilangan Orang Yang Disayangi

Kiat-Kiat Ketika Kehilangan Orang Yang Disayangi 

1. Pertebal Iman Kepada Takdir Allah
Meyakini bahwa kematian adalah takdir Allah yang sudah ditetapkan, bukan karena kebetulan. Ketika itu takdir Allah, maka itu yang terbaik. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ู„ุง ูŠุคู…ู†ُ ุนุจุฏٌ ุญุชู‰ ูŠุคู…ู†َ ุจุงู„ู‚ุฏَุฑِ ุฎูŠุฑِู‡ ูˆ ุดุฑِّู‡ ، ุญุชู‰ ูŠุนู„ู…َ ุฃู†َّ ู…ุง ุฃุตุงุจู‡ ู„ู… ูŠَูƒู† ู„ِูŠุฎุทِุฆَู‡ ، ูˆ ุฃู†َّ ู…ุง ุงุฎุทุฃู‡ ู„ู… ูŠูƒู† ู„ِูŠُุตูŠุจَู‡

“Tidak beriman seorang hamba sampai ia beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Dan sampai ia meyakini bahwa apa yang menimpanya, itu bukan karena kebetulan. Dan apa yang tidak ditakdirkan kepadanya, tidak akan menimpanya” (HR. at-Tirmidzi no.2144, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi).

2. Takdir Pasti Terjadi, Kita Tidak Bisa Lari
Meyakini bahwa kematian ini pasti akan tetap terjadi apapun upaya yang dilakukan untuk mencegahnya, ia tetap akan terjadi pada waktunya, tidak bisa lari darinya. Allah Ta’ala berfirman:

ูَุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฃَุฌَู„ُู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَุณْุชَุฃْุฎِุฑُูˆู†َ ุณَุงุนَุฉً ูˆَู„َุง ูŠَุณْุชَู‚ْุฏِู…ُูˆู†َ

"Jika telah datang ajal seseorang, maka tidak bisa ditunda walaupun sebentar dan tidak bisa dipercepat" (QS. Al A'raf: 34).

3. Sedih Itu Wajar
Ketika ada orang yang disayangi meninggal, boleh bersedih. Sedih itu wajar. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ุฅู†َّ ุงู„ุนَูŠู†َ ุชَุฏู…َุนُ، ูˆุงู„ู‚َู„ุจَ ูŠَุญุฒَู†ُ، ูˆู„ุง ู†َู‚ูˆู„ُ ุฅู„َّุง ู…ุง ูŠَุฑุถู‰ ุฑَุจُّู†ุง، ูˆุฅู†َّุง ุจูِุฑุงู‚ِูƒَ ูŠุง ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…ُ ู„َู…َุญุฒูˆู†ูˆู†َ

“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194).

4. Tidak Boleh Niyahah
Betapapun sedihnya kita, tidak boleh melakukan niyahah. Yaitu ekspresi kesedihan yang berlebihan. Seperti meraung-raung, berteriak-teriak, melempar barang, menampar pipi, merobek pakaian, memukul tembok dan semisalnya. Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ุฃَุฑْุจَุนٌ ูِูŠ ุฃُู…َّุชِูŠ ู…ِู†ْ ุฃَู…ْุฑِ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ، ู„َุง ูŠَุชْุฑُูƒُูˆู†َู‡ُู†َّ: ุงู„ْูَุฎْุฑُ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุญْุณَุงุจِ، ูˆَุงู„ุทَّุนْู†ُ ูِูŠ ุงู„ْุฃَู†ْุณَุงุจِ، ูˆَุงู„ْุงุณْุชِุณْู‚َุงุกُ ุจِุงู„ู†ُّุฌُูˆู…ِ، ูˆَุงู„ู†ِّูŠَุงุญَุฉُ

“Ada empat perkara jahiliyah pada umatku, mereka tidak akan meninggalkannya: Membanggakan kemuliaan orang tua, mencela nasab (garis keturunan), menganggap turunnya hujan dengan munculnya bintang tertentu, dan niyรขhah (meratap).” (HR.Muslim, no. 934).

5. Jangan Larut Dalam Kesedihan, Fokus Pada Apa Yang Manfaat Untuk Mayit
Kesedihan itu melemahkan. Daripada larut dalam kesedihan, lebih baik fokus pada apa-apa yang manfaat untuk mayit.

Di antaranya:
1. Mendoakan kebaikan untuk mayit
2. Mendoakan ampunan untuk mayit
3. Bersedekah atas nama mayit
4. Melunasi hutang mayit
5. Menjalankan wasiat dari mayit
6. Melanjutkan amalan kebaikan mayit ketika masih hidup
7. Menjalin hubungan baik dengan kerabat dan teman-teman mayit

Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

===================

Setiap gerakan tentunya membutuhkan aktor untuk siap bergerak dan melakukan aksinya. Posisi aktor sendiri sangat sentral dalam mendukung kegiatan-kegiatan dari sebuah gerakan. Maka setiap gerakan memiliki cara tersendiri untuk penguatan niliai dan ideologi dengan menghasilkan aktor-aktor yang dapat mendukung tujuan dari gerakan. Dan bagi gerakan dakwah salafi, LIPIA-lah yang memegang peran sentral tersebut.

LIPIA didirikan oleh Pemerintah Saudi Arabia pada tahun 1980 dengan Nama Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA). Di awal hanya mengajarkan kursus-kursus bahasa Arab secara regular kepada para siswanya. Baru di tahun 1986 LPBA resmi berganti akronim menjadi LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab) setelah membuka program Syariah. 

Di Indonesia lembaga ini berafiliasi dengan DDII dan beberapa organisasi Islam seperti Al Irsyad dan Persis. Sehingga dalam perjalanannya banyak kader-kader dakwah dari DDII yang belajar di lembaga ini termasuk dari kalangan salafi.

LIPIA setidaknya memiliki dua peran strategis sekaligus bagi gerakan dakwah salafi. 

Pertama, lembaga ini secara penuh memberikan penguatan nilai dan ideologi bagi perkembangan dakwah salafi di Indonesia.

Kedua, lembaga ini adalah lembaga yang mencetak aktor-aktor dari gerakan dakwah salafi untuk menyebarkan pemahaman Salafi ke seluruh lapisan masyarakat. 

Dua hal tersebut yang mengantarkan gerakan dakwah salafi ideologinya terus direproduksi hingga saat ini.

Penguatan ideologi dan nilai sangat terlihat dari kurikulum yang diajarkan di lembaga ini. Lembaga ini secara khusus mengajarkan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Salafi baik yang klasik (Ibn Taimiyah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Qayyim, dll) hingga kontemporer (Utsaimin, Bin Baaz, Al Albani, dll) (Hasan, 2008: 60-61). 

Mahasiswanya dituntut berbagai subjek Islam seperti Ushulul Tafsir, Ushulul Fiqh, Ilmu Diroyah, Ilmu Riwayah, Mustholahul Hadits, Nahwu Sharraf dan lain lain.

Kendati demikian, sebenarnya sebagian kalangan salafi melihat LIPIA, di awal berdirinya, bukan sebagai bagian dari dakwah salafi. 

Pendapat ini terutama dikarenakan di awal berdirinya banyak pengajarnya yang terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. 

Seperti yang diungkapkan Z, yang juga pernah belajar di LIPIA,

“LIPIA (di awal berdirinya—pen.) bukan Salafi, ia mewakili Ikhwanul Muslimin…bahwa generasi awal LIPIA itu dosen-dosennya banyak terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. Makanya hampir nyaris, termasuk saya, terpengaruh oleh pemikiran Ikhwan di kelas saya hanya dua yang Salaf.”

(Wawancara dengan Z, 25 April 2012, di Jakarta)

Z menambahkan dari sejak pertama kali LIPIA berdiri hingga tahun 90-an dari kalangan Salafi hanya ada beberapa generasi. 

Generasi Pertama ada Abu Nida, Yazid Jawas, Abdul Hakim dan Ja’far. 

Generasi kedua ada Aunur Rafiq, Ahmad Faiz Asifuddin, Ali Hijrah, generasi berikutnya ada Kholid Syamhudi, Zaenal Abidin, dan selanjutnya ada Badrussalam, Jazuli. 

Jumlah Ikhwanul Muslimin cenderung lebih banyak diantaranya adalah Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Dan meskipun memang kitab-kitab yan diajarkan di lembaga tersebut adalah kitab-kitab salafi sebenarnya tidak mengajak kepada manhaj tertentu. Ilmu yang diajarkan adalah ilmu uluh bahasa hanya mengajarkan bagaimana membaca kitab, sehingga tidak mengajak kepada satu manhaj tertentu. 

Tapi kegiatan di luar kegiatan belajar lah yang kemudian menjadi penentu manhaj para mahasiswa. Dan kelompok Ikhwanul Muslimin memiliki akses terhadap hal tersebut, seperti ditambahkan oleh Z,

“Sebetulnya kalau masalah kurikulum kan uluh bahasa, dan kuliah yang ditekankan syariah jadi tidak membentuk manhaj dan tidak anti manhaj juga, jadi belajar gitu aja, belajar kitab. Cuma yang membentuk itu kan di luarnya. Ana diajak ngaji, ikut daurah-daurah. Nah terutama kegiatan kesiswaan itu banyak diperalat oleh orang-orang ikhwanul muslimin untuk mengkader. Misalnya kegiatan dakwah ke puncak atau rihlah, digunakan untuk daurah ikhwan… dulu ada yang namanya Abdullah Idhan, orang Saudi, tapi fanatis sama Ikhwan, dan dia memegang jabatan Mudhir Syu’uni Thullab (Ketua Kegiatan Siswa—pen.) akhirnya semua kegiatan siswa di luar belajar diperalat oleh ikhwanul muslimin”

(Wawancara dengan Z, 9 April 2012 di Jakarta)

Namun, keadaan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ada kemungkinan banyaknya keluhan yang disampaikan kepada Pemerintah Saudi, banyak dosen-dosen pengajar yang kemudian diganti (Wawancara dengan B, 9 Mei 2012 di Bogor). Sehingga belakangan lembaga ini menghasilkan lebih banyak aktor-aktor untuk gerakan dakwah salafi. Dan keadaan yang seperti ini yang terus berlangsung hingga saat ini.

Dan lembaga ini tetap menjadi bagian penting yang menghasilkan aktor-aktor salafi. Penulis mencatat, hampir bisa dipastikan generasi awal yang membangun dakwah Salafi sejak era Soeharto hingga reformasi adalah alumnus dari LIPIA. Lembaga ini juga berperan dalam mengirimkan mahasiswanya ke Saudi Arabia untuk belajar Islam di sana. 

Hal ini juga menunjukkan bukti dukungan Saudi Arabia yang memang mencanangkan pendirian lembaga ini sebagai antisipasi menyebarnya paham Syi’ah pasca-Revolusi Iran tahun 1979 (Hasan, 2008). Melalui lembaga ini lah gerakan dakwah salafi menghasilkan aktor-aktor mumpuni secara pemikiran yang kemudian tampil di masa Reformasi.

===================

Dinukil dari salah satu Sub-Bab pada skripsi karya Dady Hidayat pada FISIP Universitas Indonesia Tahun 2012 berjudul “Gerakan Dakwah Salafi Di Indonesia: Studi Tentang Kemunculan Dan Perkembangannya Pada Era Reformasi"

Senin, 27 Juli 2026

Empat (4) hal mengundang rezeki

ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงุจู† ุงู„ู‚ูŠّู… - ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ - :

” ุฃุฑุจุนุฉ ุชุฌู„ุจ ุงู„ุฑุฒู‚ :

 ู‚ูŠุงู… ุงู„ู„ّูŠู„ ، ูˆูƒุซุฑุฉ ุงู„ุงุณุชุบูุงุฑ ุจุงู„ุฃุณุญุงุฑ ، ูˆุชุนุงู‡ุฏ ุงู„ุตّุฏู‚ุฉ ، ูˆุงู„ุฐูƒุฑ ุฃูˆّู„ ุงู„ู†ّู‡ุงุฑ ูˆุขุฎุฑู‡ “

【 ุฒุงุฏ ุงู„ู…ุนุงุฏ  -  ุงุจู† ุงู„ู‚ูŠّู… 】
"Empat (4) hal mengundang rezeki : 1. Qiyamullail 2. Banyak beristighfar di waktu sahur 3. Merutinkan sedekah 4. Menjaga Dzikir pagi & petang"
【 Zฤdul Ma'ฤd - Ibnul Qayyim 】
UBFS

Dzikir pagi dan petang itu bagaikan perisai

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

"Dzikir pagi dan petang itu bagaikan perisai. Semakin tebal perisai tersebut, semakin kecil kemungkinan pemiliknya terluka. Bahkan, kekuatan perisai itu dapat mencapai tingkat sehingga anak panah dapat memantul kembali dan mengenai orang yang melepaskannya."

Al-Wabilus-Sayyib, hlm. 71

“Tidaklah seorang pelaku kejahatan menanggung selain akibat kejahatannya sendiri. Seorang ayah tidak menanggung atas anaknya, dan seorang anak tidak menanggung atas ayahnya.”

Hafshah pernah menyebut Shafiyyah -radhiyallahu 'anhuma- :
ุจِู†ْุชُ ูŠَู‡ُูˆุฏِูŠٍّ
“Anak perempuan seorang Yahudi.”

Shafiyyah menangis. Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- kemudian menghiburnya:

ุฅِู†َّูƒِ ู„َุงุจْู†َุฉُ ู†َุจِูŠٍّ، ูˆَุฅِู†َّ ุนَู…َّูƒِ ู„َู†َุจِูŠٌّ، ูˆَุฅِู†َّูƒِ ู„َุชَุญْุชَ ู†َุจِูŠٍّ، ูَูِูŠู…َ ุชَูْุฎَุฑُ ุนَู„َูŠْูƒِ؟

“Sesungguhnya engkau keturunan seorang nabi, pamanmu seorang nabi, dan engkau menjadi istri seorang nabi. Lantas, dengan apa ia membanggakan diri terhadapmu?”

Kemudian beliau menegur Hafshah: “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah.” 

Riwayat at-Tirmidzi dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Albani.

Rasulullah juga bersabda ketika haji wada':

ู„َุง ูŠَุฌْู†ِูŠ ุฌَุงู†ٍ ุฅِู„َّุง ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِู‡ِ، ู„َุง ูŠَุฌْู†ِูŠ ูˆَุงู„ِุฏٌ ุนَู„َู‰ ูˆَู„َุฏِู‡ِ، ูˆَู„َุง ู…َูˆْู„ُูˆุฏٌ ุนَู„َู‰ ูˆَุงู„ِุฏِู‡ِ

“Tidaklah seorang pelaku kejahatan menanggung selain akibat kejahatannya sendiri. Seorang ayah tidak menanggung atas anaknya, dan seorang anak tidak menanggung atas ayahnya.” 

Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, shahih.
Ustadz ristiyan ragil 
https://www.facebook.com/share/17pRyNdYJ1/

akhlak baik

Akhlak Baik = Inner Peace

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

ุญُุณْู†ُ ุงู„ْุฎُู„ُู‚ِ، ู„َู‡ُ ุฎَุงุตِّูŠَّุฉٌ ูِูŠ ูَุฑَุญِ ุงู„ู†َّูْุณِ، ู„َุง ูŠَุนْุฑِูُ ุฐَู„ِูƒَ ุญَู‚َّ ู…َุนْุฑِูَุชِู‡ِ ุฅِู„َّุง ุงู„ْู…ُุฌَุฑِّุจُูˆู†َ.

“Akhlak yang mulia memiliki keistimewaan yang dapat menghadirkan kebahagiaan dalam jiwa. Hal ini tidak akan benar-benar dipahami kecuali oleh orang-orang yang telah merasakannya sendiri.”

๐Ÿ“š Intiแนฃฤrul แธคaqq, 1/46.

Kalau sudah berurusan dengan wanita, ulama'pun bisa memilih angkat bendera putih.

https://www.facebook.com/share/1L66eHYf7q/
Kalau sudah berurusan dengan wanita, ulama'pun bisa memilih angkat bendera putih.

Salim bin Abdullah bin Umar mengisahkan: "Aku menikah semasa ayahku masih hidup, dan beliau mengundang orang-orang untuk menghadiri walimahku.

Sahabat Abu Ayyub Al Anshari, termasuk di antara para tamu. 

Kala itu dinding rumahku telah dipasangi dekorasi berupa kain penutup berwarna hijau.

Ketika sahabat Abu Ayyub datang dan melihat ke dalam rumahku, beliau terperangah lalu bertanya: 'Wahai Abdullah ibnu Umar, apakah engkau menutupi dinding-dinding ini dengan kain?' 

Dengan rasa malu, ayahku menjawab: istriku mengalahkanku dalam urusan ini, wahai Abu Ayyub.' 

Sahabat Abu Ayyub menanggapi: siapa lagi orangnya yang tidak layak dikawatirkan akan terkalahkan oleh kemauan istri istrinya? (At Thabrani dll)

Kalau sudah urusan walimah dan urusan yang melibatkan istri, jangan sok merasa jago kalau belum membuktikannya sendiri.

Ya sudah gitu saja, semoga bermanfaat.
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma

Minggu, 26 Juli 2026

Kitab-Kitab Akidah Salaf Antara Tahun 200H - 900H

Kitab-Kitab Akidah Salaf Antara Tahun 200H - 900H

1. Al Iman, karya Abu Ubaid Al Qasim (w. 224H)
2. Al Iman, karya Abu Bakr bin Abi Syaibah (w. 235H)
3. Ushulus Sunnah, karya Imam Ahmad (w. 241H)
4. Khalqu 'Af'alil Ibad, karya Al Bukhari (w. 256H)
5. Syarhus Sunnah, karya Isma'il bin Yahya Al Muzanni (w. 264H)
6. Ar Radd 'alal Jahmiyah, karya Utsman bin Sa'id Ad Darimi (w. 280H)
7. As Sunnah, karya Abu Bakar bin Abi Ashim (w. 287H)
8. As Sunnah, karya Abdullah bin Imam Ahmad (w. 290H)
9. Sharihus Sunnah, karya Abu Ja'far Ath Thabari (w. 310H)
10. As Sunnah, karya Abu Bakar Al Khallal (w. 311H)
11. At Tauhid, karya Ibnu Khuzaimah (w. 311H)
12. Al Aqidah Ath Thahawiyah, karya Abu Ja'far Ath Thahawi (w. 321H)
13. Syarhus Sunnah, karya Al Barbahari (w. 329H)
14. I'tiqad Aimmatil Hadits, karya Abu Bakr Al Isma'ili (w. 371H)
15. Ash Shifat, karya Ad Daruquthni (w. 385H)
16. At Tauhid & Al Iman, karya Ibnu Mandah (w. 395H)
17. Al Iman & Ushulus Sunnah, karya Ibnu Abi Zamanin (w. 399H)
18. Syarh Aqidah Ahlissunnah wal Jama'ah, karya Hibbatullah Al Lalika'i (w. 481H)
19. Aqidatus Salaf wa Ashabil Hadits, karya Abu Utsman Ash Shabuni (w. 489H)
20. Dzammul Kalam, karya Abu Ismail Al Harawi (w. 489H)
21. Lum'atul I'tiqad, karya Ibnu Qudamah Al Maqdisi (w. 629H)
22. Al Aqidah Al Wasithiyyah, karya Ibnu Taimiyah (w. 728H)
23. Al 'Uluw, karya Adz Dzahabi (w. 748H)
24. Tajrid at-Tauhid al-Mufid, karya Ahmad bin Ali Al Maqrizi (w. 845H).

Mana kitab yang sudah anda khatamkan? Yok terus belajar.

Fawaid Kangaswad | Umroh Bersama Kami: bit.ly/fawaid-umroh

Hukum Tersenyum dalam Shalat

Hukum Tersenyum dalam Shalat

Dalam ensiklopedi fiqih dijelaskan :

ุฃู…ุง ุงู„ุถุญูƒ ุจุบูŠุฑ ุตูˆุช ูˆู‡ูˆ ุงู„ุชุจุณู…، ูู„ุง ุชูุณุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจู‡ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุญุฏุซ ููŠู‡ุง ูƒู„ุงู…

"Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara."
(Al-Mausu’ah, 28/174)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

ู…ุฐู‡ุจู†ุง ุฃู† ุงู„ุชุจุณู… ู„ุง ูŠุถุฑ ูˆูƒุฐุง ุงู„ุถุญูƒ ุฅู† ู„ู… ูŠุจู† ู…ู†ู‡ ุญุฑูุงู† ูุฅู† ุจุงู† ุจุทู„ุช ุตู„ุงุชู‡ ูˆู†ู‚ู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ ุงู„ุฅุฌู…ุงุน ุนู„ู‰ ุจุทู„ุงู†ู‡ุง ุจุงู„ุถุญูƒ ูˆู‡ูˆ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ู† ุจุงู† ู…ู†ู‡ ุญุฑูุงู† ู‚ุงู„ ูˆู‚ุงู„ ุฃูƒุซุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ู„ุง ุจุฃุณ ุจุงู„ุชุจุณู… ู…ู…ู† ู‚ุงู„ู‡ ุฌุงุจุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนุทุงุก ูˆู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ ูˆุงู„ุญุณู† ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ูˆุงู„ุฃูˆุฒุงุนูŠ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุฑุฃูŠ 

"Madzhab kami (yakni Syafi'iyyah) berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat, demikian juga tertawa, jika tidak nampak keluar darinya dua huruf. Namun jika keluar dua huruf maka batal shalatnya. 

Ibnul Mundzir menukil adanya ijma' atas batalnya shalat bagi yang tertawa dan tentunya ini dibawa kepada tertawa yang jelas keluar darinya dua huruf. 

Ibnul Mundzir berkata: 'Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada masalah tersenyum di dalam shalat, diantara yang berpendapat seperti ini adalah Jaabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu, 'Athaa`, Mujaahid, Nakha'iy, Al-Hasan, Qataadah, Auzaa'iy, Syaafi'iy dan Ashaabur Ra'yu".
(Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab, 4/89, cet. Darul Fikri)

Ahmad bin 'Abdil Halim Al Harani –Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- rahimahullah pernah ditanya,
“Bagaimana jika ada seseorang tertawa ketika shalat, apakah shalatnya batal?”

Beliau rahimahullah menjawab :
“Jika sekadar tersenyum, tidak membatalkan shalat. Adapun jika tertawa –sampai terbahak-bahak-, maka itu membatalkan shalat namun tidak membatalkan wudhu menurut mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Akan tetapi disunnahkan bagi yang tertawa ketika shalat untuk kembali berwudhu –menurut pendapat yang terkuat dari dua pendapat yang ada-. Alasannya, karena ketika itu ia telah melakukan suatu dosa (dengan tertawa ketika shalat). Juga kenapa dianjurkan tetap berwudhu? Hal ini demi selamat dari perselisihan ulama yang ada karena Imam Abu Hanifah menganggap tertawa ketika shalat membatalkan wudhu (sekaligus membatalkan shalat, pen)."
(Majmu’ Al Fatawa,  22/614, Darul Wafa’, tahun 1426 H)

Tidak batalnya shalat karena tersenyum adalah berdalil dengan hadits-hadits berikut ini :

Dari Jaabir bin 'Abdillah radhiyallahu'anhu bahwa Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

ุงู„ุชَّุจَุณُّู…ُ ู„ุงَ ูŠَู‚ْุทَุนُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَู„َูƒู†ْ ุงู„ู‚َุฑู‚َุฑุฉ - ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจูŠู‡ู‚ูŠ ูˆุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ.

"Senyum itu tidak membatalkan shalat tetapi yang membatalkan adalah tertawa."
(HR. Ibnu Abi Syaibah 1/387 dan Abdurrazzaq no. 378)

ู„ุงَ ูŠَู‚ْุทَุนُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ุงู„ูƒَุดَุฑُ ูˆَู„َูƒِู†ْ ุชَู‚ْุทَุนُู‡َุง ุงู„ู‚َู‡ْู‚َู‡َุฉُ - ูˆุฑูˆุงู‡ ุงู„ุทุจุฑุงู†ูŠ

"Kelihatan gigi ketika tersenyum tidak membatalkan shalat, yang membatalkan shalat itu adalah tertawa dengan suara keras."
(HR. Ath-Thabarani)

Catatan : Namun jika dia tersenyum tanpa ada sebab nya, maka ini Makruh (Dibenci). Sebab hal itu bisa menghilangkan kekhusyu'an dan konsentrasi dalam shalatnya. 
(Shahih Fiqih Sunnah 1/561 dan Tamamul Minnah Shahih Fiqih Sunnah 1/404)

Allahu a'lam
fb fp pengetahuan muslim 

Syaikh Ibnu Utsaimin (rahimahullah) membela dan mengakui kepakaran Syaikh Al-Albani, beliau berkata,

Syaikh Ibnu Utsaimin (rahimahullah) membela dan mengakui kepakaran Syaikh Al-Albani, beliau berkata,

"Barang siapa menuduh Syaikh Al-Albani sebagai penganut irja' (Murji'ah), maka ia telah keliru. Kemungkinan ia tidak mengenal Al-Albani, atau memang tidak memahami apa itu irja'.

Al-Albani adalah seorang ulama Ahlus Sunnah (rahimahullah) yang membela Sunnah. Beliau adalah imam dalam ilmu hadits. Sepanjang yang kami ketahui, pada zaman ini tidak ada seorang pun yang mampu menandinginya dalam bidang tersebut.

Namun, sebagian orang (semoga Allah melindungi kita) menyimpan kedengkian di dalam hatinya. Ketika melihat seseorang diterima dan dicintai umat, mereka berusaha menjatuhkannya dengan berbagai tuduhan. Sikap mereka seperti orang-orang munafik yang mencela kaum mukminin yang bersedekah dengan ikhlas.

Kami mengenal beliau melalui karya-karya tulisnya, dan saya juga mengenalnya karena beberapa kali duduk bersama beliau. Aqidahnya adalah aqidah Salaf, dan manhajnya lurus.

Akan tetapi, ada sebagian orang yang gemar mengafirkan hamba-hamba Allah tanpa dasar yang Allah jadikan sebagai sebab kekafiran. Lalu, ketika ada ulama yang tidak sependapat dengan pengafiran tersebut, mereka langsung menuduhnya sebagai Murji', sebuah tuduhan yang penuh kebohongan, kedustaan, dan fitnah.

Oleh karena itu, janganlah kalian mendengarkan tuduhan semacam ini, siapa pun yang mengucapkannya."

------

Pembelaan Syaikh Ibnu Utsaimin ini bukan sekadar pujian kepada Syaikh Al-Albani. Lebih dari itu, beliau merupakan teladan bagaimana ulama Ahlus Sunnah agar berusaha bersikap adil, saling membela kehormatan sesama ulama, dan menyikapi perselisihan dengan ilmu, bukan hawa nafsu.

✅ Beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik adalah:

๐Ÿ”ธMengakui keutamaan para ulama. 
Kesaksian Syaikh Ibnu Utsaimin bahwa tidak ada seorang pun pada zamannya yang mampu menandingi Al-Albani dalam ilmu hadits menunjukkan keluasan ilmu dan keadilan beliau. Orang yang benar-benar memahami ilmu akan mengetahui kedudukan para ahlinya.

๐Ÿ”ธMembantah tuduhan irja'. 
Beliau menegaskan bahwa menuduh Al-Albani sebagai Murji' merupakan tuduhan yang lahir dari ketidaktahuan. Sebab, kitab-kitab dan fatwa-fatwa Al-Albani dengan jelas menegaskan bahwa amal merupakan bagian dari iman. Perbedaan yang terjadi hanyalah pada rincian beberapa masalah takfir yang menjadi titik tergelincirnya sebagian orang yang bersikap berlebihan.

๐Ÿ”ธPeringatan terhadap sikap ghuluw dalam takfir. 
Pernyataan beliau ini mengungkap bahwa sebagian orang mudah mengafirkan kaum muslimin tanpa landasan yang benar. Ketika para ulama membantah sikap tersebut, mereka justru dilabeli sebagai Murji' untuk menjatuhkan wibawa mereka.

๐Ÿ”ธPentingnya tabayun dalam menilai seseorang.
Syaikh Ibnu Utsaimin mendasarkan penilaiannya pada dua hal yang kuat, yaitu beliau membaca karya-karya Al-Albani dan pernah bergaul langsung dengannya. Inilah metode ilmiah yang benar, bukan sekadar mengikuti kabar burung atau isu yang beredar.

๐Ÿ”ธMenjaga kehormatan para ulama. 
Pernyataan beliau juga mengajarkan agar penuntut ilmu menjauhi hasad dan kedengkian, serta tidak mudah mencela ulama. Kehormatan para ulama harus dijaga, karena mereka adalah pewaris para nabi.

-------

(Sumber : Postingan dari pengawas umum situs Imam Al-Albani, Syaikh Muhammad Abdul Latif, dengan penyesuaian bahasa)

Apakah petasan/kembang api termasuk "al-mal" sehingga sah diperjualbelikan?

Apakah petasan/kembang api termasuk "al-mal" sehingga sah diperjualbelikan?

Jawabannya, sah. Para ulama mengqiyaskan petasan ini ke burung merak yg sah diperjualbeliakan.

Dalam fiqih jual beli, barang yg diperjualbelikan harus punya manfaat.

Para ulama menyebutkan manfaat burung merak yaitu (ุงู„ุงุณุชุฆู†ุงุณ ุจู„ูˆู†ู‡), yaitu senang dan enak dipandang warnanya, manfaat merak hanya ini, karena burung merak -menurut madzhab Syafi'i- tidak halal dimakan.

Kembang api juga seperti itu, ada kebahagiaan melihat rupa dan warnanya, dan itu cukup sebagai manfaat yg mu'tabar.

Sebagian ulama tidak setuju dengan qiyas ini, karena melihat adanya perbedaan antara burung merak dengan kembang api. Manfaat burung merak itu tetap dan tidak hilang, sedangkan manfaat kembang api itu hilang setelah sekali pakai.

Dijawab bahwa tidak disyaratkan dalam ma'qud alaihi, manfaatnya harus tetap ada.

Kebolehan jualbeli petasan atau kembang api ini disyaratkan dua hal:

1. Tidak sampai mengganggu dan membahayakan.
2. Tidak sampai pada taraf israf dalam membelinya.

ู…ุณุชูุงุฏ ู…ู† ุฏุฑุณ ุงู„ุดูŠุฎ ู„ุจูŠุจ ู†ุฌูŠุจ
__

Catatan fawaid muamalah saya:
https://t.me/fawaid_muamalah_ANB

Dan yang dituntut dari Al-Qur'an adalah memahami makna-maknanya serta mengamalkannya. Jika hal ini tidak menjadi fokus dan cita-cita dari penghafalnya, maka ia tidak termasuk dari ahli ilmu dan agama.


Ibnu Taimiyyah berkata:
"Dan yang dituntut dari Al-Qur'an adalah memahami makna-maknanya serta mengamalkannya. Jika hal ini tidak menjadi fokus dan cita-cita dari penghafalnya, maka ia tidak termasuk dari ahli ilmu dan agama.

Majmu' al-Fatawa (23 / 55)
Doa (di bagian bawah):
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami penguasaan Al-Qur'an, baik dalam hafalan maupun ilmunya."

Untuk Yang Meniti Jalan Dakwah

Untuk Yang Meniti Jalan Dakwah

Jangan pernah mengukur keberhasilan dakwah dengan banyaknya manusia yang hadir, sebagaimana jangan menganggap dakwah gagal hanya karena sedikit yang datang.

Seorang da'i tidak diperintahkan untuk memenuhi majelis dengan manusia, tetapi diperintahkan untuk memenuhi amanah dengan keikhlasan dan kebenaran. 

Tugas dalam dakwah adalah menyampaikan, sedangkan hidayah adalah hak Allah semata.
Lihatlah Nabi Nuh 'alaihis salam. Beliau berdakwah selama ratusan tahun, 950 tahun dengan kesabaran yang luar biasa, siang dan malam, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Namun, yang beriman bersamanya hanyalah sedikit.

Allah ta'ala berfirman : " Dan tidaklah beriman bersama Nabi Nuh kecuali sedikit " QS Nuh: 40

 Apakah itu berarti dakwah beliau gagal?
Tentu tidak. Justru beliau adalah salah seorang rasul ulul azmi yang paling agung karena beliau telah menunaikan amanah dengan sempurna.

Sebaliknya, banyaknya pengikut bukanlah ukuran kebenaran. Betapa banyak kesesatan yang memiliki pengikut berjuta-juta, dan betapa banyak kebatilan yang dipuja oleh manusia. Allah telah mengingatkan bahwa kebanyakan manusia tidak beriman, tidak bersyukur, dan tidak mengetahui kebenaran.

Maka, jangan bersedih jika majelismu sederhana. Jangan lemah hanya karena yang hadir sedikit. Bisa jadi, satu orang yang mendapat hidayah melalui dakwah lebih berharga daripada memenuhi ruangan dengan orang-orang yang datang tanpa perubahan.

Yang Allah nilai bukanlah berapa banyak manusia yang berjalan di belakangmu, tetapi apakah engkau berjalan di atas jalan yang benar ? karena pada akhirnya, seorang da'i harus mempersiapkan jawaban kelak ketika ditanya: "Apakah engkau telah menyampaikan?" Bukan: "Berapa banyak pengikutmu?"
Teruslah berdakwah. Ikhlaskan niat, luruskan manhaj, dan bersabarlah. Sebab, kemuliaan dakwah terletak pada kebenarannya, bukan pada keramaiannya.
Ustadz abu ya'la kurnaedi

Hukum Menegur/Mengingatkan Pemimpin secara Terbuka dan Perbedaan antara Nasihat dengan Pengingkaran Kemungkaran — Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah


Hukum Menegur/Mengingatkan Pemimpin secara Terbuka dan Perbedaan antara Nasihat dengan Pengingkaran KemungkaranSyaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah

  • Pertanyaan yang Diajukan : Mengenai pendalilan yang sering diulang-ulang tentang kebolehan mengingatkan/menegur pemimpin secara terbuka (di hadapan khalayak umum) , di mana sebagian orang membedakan antara nasihat dan mengingkari kemungkaran  Mereka berpendapat bahwa nasihat dilakukan secara rahasia/tersembunyi, sedangkan jika kemungkaran dilakukan secara terbuka (terang-terangan), maka pengingkaran terhadapnya juga dilakukan secara terbuka, dengan berdalil pada perbuatan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu 
  • Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad :
    • ​Nasihat yang disampaikan secara rahasia, melalui tulisan, atau dengan menghubungi pemimpin secara langsung adalah hal yang sangat baik dan Insya Allah akan mendatangkan manfaat 
    • ​Namun, jika terjadi suatu kemungkaran yang tampak/terlihat oleh masyarakat umum , diam terhadap kemungkaran tersebut seolah-olah mengisyaratkan persetujuan atas kemungkaran itu 
    • ​Oleh karena itu, mengingkari kemungkaran dan menjelaskan bahwa perbuatan tersebut tidak dibenarkan adalah hal yang diperlukan, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu 
    • https://youtu.be/Q-nLn1rdKfc?si=2I1XEl3LKG3TIm9o

PERBEDAAN HUKUM NASIHAT DAN NAHI MUNKAR TERANG-TERANGAN KEPADA PENGUASA

PERBEDAAN HUKUM NASIHAT DAN NAHI MUNKAR TERANG-TERANGAN KEPADA PENGUASA

Terkadang beberapa pihak salah memahami perbedaan antara menasihati penguasa dan nahi munkar. 

Kalau menasihati memang wajib tertutup sebagaimana yang disyariatkan, dan ini terkait aib pribadi atau terkait langsung dengan pribadinya. Tapi nahi munkar maka hukumnya tergantung kondisinya bahkan bisa terang-terangan melalui media, karena memang yg diingkari adalah kemunkarannya yang nampak bukan pelakunya. Dan ini berlaku kepada rakyat ataupun kepada penguasa.

Maka barangsiapa yang mampu mengingkarinya dengan hujjah yang kuat, ataupun mampu merubahnya dengan wasilah yang dibenarkan secara syariat, termasuk melalui media, maka ini disyariatkan. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad,

ูŠุฌุจ ุฅู†ูƒุงุฑ ุงู„ู…ู†ูƒุฑุงุช ูˆุงู„ู…ุนุงุตูŠ ุฅุฐุง ุธู‡ุฑุช ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ุงู†ูŠุฉ، ุฏูˆู† ุฐูƒุฑ ู„ู„ูุงุนู„، ุณูˆุงุก ูƒุงู† ูุงุนู„ู‡ุง ูˆู„ูŠ ุฃู…ุฑู‡ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡، ููŠู†ูƒุฑ ุชุญูƒูŠู… ุงู„ู‚ูˆุงู†ูŠู† ุงู„ูˆุถุนูŠุฉ ูˆุงู„ุฑุจุง ูˆุงู„ุธู„ู… ูˆุดุฑุจ ุงู„ุฎู…ุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ุง؛ ู„ู…ุง ุฌุงุก ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„:”ู…ู† ุฑุฃู‰ ู…ู†ูƒู… ู…ู†ูƒุฑุงً ูู„ูŠุบูŠุฑู‡ ุจูŠุฏู‡، ูุฅู† ู„ู… ูŠุณุชุทุน ูุจู„ุณุงู†ู‡، ูุฅู† ู„ู… ูŠุณุชุทุน ูุจู‚ู„ุจู‡، ูˆุฐู„ูƒ ุฃุถุนู ุงู„ุฅูŠู…ุงู†”

Dan beliau pun memiliki beberapa risalah dalam mengingkari beberapa kemungkaran kepada penguasa di media.

1. ู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ุนุฏู„ ูŠุง ุนุงุฏู„ุฉ

Yang ditujukan kepada 'Adilah, putri Raja Abdullah.

2. ูƒุงุฑุซุฉ ุฃุฎู„ุงู‚ูŠุฉ ุนุธู…ู‰ ุชุญู„ ุจุงู„ุดุนุจ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠ ุจู‚ุฑุงุฑ ุฌุงุฆุฑ ู…ู† ูˆุฒูŠุฑ ุงู„ุชุนู„ูŠู…

Kritik akibat Keputusan zalim Menteri Pendidikan tertanggal 12 Jumadal Akhirah 1438 H

3. ุงุญุฐุฑูˆุง ุชุฏู…ูŠุฑ ุฃุฎู„ุงู‚ ุงู„ุดุนุจ ุงู„ุณุนูˆุฏูŠ ุฃูŠู‡ุง ุงู„ู…ุณุคูˆู„ูˆู† ููŠ ุงู„ู‡ูŠุฆุฉ ุงู„ุนุงู…ุฉ ู„ู„ุชุฑููŠู‡

Yang ditujukan kepada para pejabat Otoritas Hiburan Umum tercatat dalam arsip tulisan beliau tahun 1438 H

4. ุจูŠุงู† ุฌู†ุงูŠุงุช ุงู„ุฏูƒุชูˆุฑ ุฃุญู…ุฏ ุงู„ุนูŠุณู‰ ูˆุฒูŠุฑ ุงู„ุชุนู„ูŠู… ุนู„ู‰ ุงู„ุนู‡ุฏ ุงู„ุณู„ู…ุงู†ูŠ

Yang menjelaskankan tentang pelanggaran Dr. Ahmad Al-Issa Menteri Pendidikan pada Masa pemerintahan Salman bin Abdulaziz Alu Saud. Dan dalam tulisan lain, Syaikh Al-Abbad merujuk langsung artikel ini dan bahkan mengusulkan agar menteri tersebut dicopot serta keputusan-keputusannya dibatalkan.

Termasuk dalam video ini beliaupun memberikan rincian perbedaan antara nasihat dan nahi munkar kepada penguasa

(Simak videonya di dalam kolom komentar)
https://www.facebook.com/share/v/1FvvGFxJvu/
ustadz hafit muhammad fahruzi
https://youtu.be/Q-nLn1rdKfc?si=WYGT61Y60RvDRd1f

Hanbali Fiqh - Akad Dzimmah bagi Majusi dan Ahli Kitab

Hanbali Fiqh -  Akad Dzimmah bagi Majusi dan Ahli Kitab

Secara bahasa, adz-dzimmah bermakna perjanjian, jaminan, dan keamanan. Dalam istilah fikih, akad dzimmah adalah persetujuan untuk membiarkan orang kafir tetap berada di atas agamanya DENGAN SYARAT MEMBAYAR JIZYAH (UPETI) DAN TUNDUK KEPADA HUKUM-HUKUM ISLAM (Hasyiyah 'Utsman, 2/239).

Landasan hukumnya adalah firman Allah Ta'ala:
Hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah: 29)

Akad dzimmah yang bersifat permanen (mu'abbad) tidak sah kecuali dengan 2 syarat :

1. Berkomitmen membayar jizyah setiap tahun.
2. Tunduk kepada hukum Islam, yakni menerima keputusan hukum yang berlaku atas mereka dalam perkara hak dan kewajiban.

Majusi

Dalam mazhab Hanbali, akad dzimmah dan jizyah diterima dari kaum Majusi. Alasannya, terdapat riwayat bahwa mereka dahulu memiliki kitab yang kemudian diangkat, sehingga terdapat syubhat keserupaan dengan Ahli Kitab.

Dasarnya adalah riwayat tentang pengambilan jizyah dari Majusi Hajar, dari 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallahu 'anhu (HR. Al-Bukhari no. 3157; Hasyiyah Al-Iqna', 1/484).

Namun Majusi tidak disamakan sepenuhnya dengan Ahli Kitab. Karena itu, wanita mereka tidak halal dinikahi dan sembelihan mereka tidak halal dimakan (Hawasya Al-Iqna', 1/485).

Al-Qadhi Abu Ya'la menyebut satu wajh bahwa apabila mereka mengikuti suhuf Nabi Syits, Nabi Ibrahim, atau Zabur, maka wanita mereka halal dinikahi dan jizyah diterima dari mereka. Pendapat ini juga disebut dalam kitab Al-Furu' dan dinilai memiliki arah istidlal yang dapat dipertimbangkan (yutawajjah).

Ahli Kitab dan Sekte-Sektenya

Akad dzimmah juga berlaku bagi Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, tanpa membedakan sekte-sekte mereka (thawa'if), serta siapa saja yang memeluk salah satu dari kedua agama tersebut (hal. 398).

Di antara kelompok yang disebut para ulama:

● Samirah (Samaritan), salah satu kelompok dari Bani Israil yang dinisbatkan kepada Samiri. Mereka merupakan sekte Yahudi yang ketat dalam agamanya, meskipun berbeda dengan Yahudi lainnya dalam sebagian masalah cabang (furu') (Kassyaf Al-Qina', 7/223; Hasyiyah Al-Iqna', 1/490).

● Al-Firinj (Frank/Franks), yaitu bangsa Romawi yang dikenal dalam literatur klasik sebagai Bani Al-Ashfar dan termasuk kalangan Nasrani (Hasyiyah Al-Iqna', 1/484).

Para ulama juga menyebutkan bahwa apabila seseorang tidak diketahui asal agamanya, lalu ia mengaku sebagai Yahudi atau Nasrani, maka menurut pendapat yang lebih kuat (al-ashahh) jizyah diterima darinya. 

Bahkan terdapat riwayat yang membolehkan menikahi wanitanya dan memakan sembelihannya, sebagaimana hukum orang yang masuk ke agama Yahudi atau Nasrani (Hawasya Al-Iqna', 1/490).

Selain itu, dinukil pula satu pendapat yang menyatakan bahwa jizyah dapat diambil dari seluruh orang kafir tanpa pengecualian (Taqrirat Aba Buthain).

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah

Bahan bacaan :
๐Ÿ“š Hawasyi Ulama Najd 'ala Ar-Raudhil Murbi'

Syubhat-Syubhat Seputar Bid'ah (2)


Syubhat-Syubhat Seputar Bid'ah (2)
Dikutip secara ringkas dari kitab:
[ Al-Haqqul Ablaj fi Dahdhi Syubahaat Mafhuumil Bid'ah lil 'Arafaj ]
Karya: Dr. Abdul Aziz bin Rays Ar-Rays*
Syubhat: "Nabi ๏ทบ Menyetujui Sebagian Sahabat dalam Melakukan Sebagian Perkara Baru"
Para menyeru bid'ah berusaha mengaburkan kaidah dasar dalam ibadah—yaitu hukum asalnya adalah haram/terlarang—dengan berdalil pada beberapa ibadah yang dilakukan oleh para sahabat, yang menurut prasangka mereka merupakan perkara baru, dan Nabi ๏ทบ menetapkan (menyetujui) hal tersebut sebagai bentuk pembolehan membuat hal-hal baru dalam ibadah.
Jawaban Secara Umum atas Syubhat Ini:
Bahwasanya di antara dalil terbesar yang menunjukkan bahwa **ibadah bersifat tauqifiyah (harus berdasarkan dalil syariat) dan diharamkan membuat perkara baru di dalamnya adalah: banyaknya perkataan para sahabat—radhiyallahu 'anhum—mengenai hal tersebut.
 Seperti perkataan Ibn Mas'ud
: "Ikutilah (sunnah) dan janganlah kalian membuat bid'ah, karena sungguh kalian telah dicukupi."
 Dan perkataan Ibn Umar: "Setiap bid'ah adalah kesesatan, meskipun manusia menganggapnya baik (hasanah)."
Serta masih banyak perkataan lainnya dari nash-nash yang jelas (muhkam). Maka, setiap prasangka yang mengesankan sebaliknya harus dikembalikan kepada perkara yang *muhkam* ini, yang mana nash-nash syariat telah melimpah dalam membuktikannya dan menegaskannya, serta telah disepakati oleh para ahli ilmu (para ulama).

tidak ada bai'at taat kepada penguasa yg tidak bertauhid dan menyeru kepada kekelompokan dan perpecahan umat

Tauhid
Persatuan
Taat Penguasa
Ilmu & Ulama
Wali Allah
Kelima azas ini harus saling berkaitan, tidak boleh saling berdiri sendiri terpisah dari azas lainnya. Tidak ada persatuan tanpa Tauhid. Tidak ada bai'at taat kepada penguasa yang tidak bertauhid dan menyeru kepada kekelompokan dan perpecahan umat. Tidak ada ulama tapi melanggar azas tauhid, mengajak kepada kekelompokan, perpecahan dan pemberontakan kepada penguasa. Tidak ada wali tanpa tauhid, tanpa ilmu, mengajak kepada perpecahan dan pemberontakan dst...

[ kajian cirebon - syarh al ushul as sittah ]

https://www.facebook.com/share/198h5CPgsf/

Beberapa Prinsip Ahlussunnah

Beberapa Prinsip Ahlussunnah 

Imam Abu Bakar Al-Isma'ily rahimahullah (wafat 392H) dalam matan "I'tiqad Aimmatil Hadits" beliau mengatakan:

ู…ุน ู„ุฒูˆู… ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ، ูˆุงู„ุชุนูู ููŠ ุงู„ู…ุฃูƒู„ ูˆุงู„ู…ุดุฑุจ ูˆุงู„ู…ู„ุจุณ، ูˆุงู„ุณุนูŠ ููŠ ุนู…ู„ ุงู„ุฎูŠุฑ، ูˆุงู„ุฃู…ุฑ ุจุงู„ู…ุนุฑูˆู ูˆุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ู…ู†ูƒุฑ، ูˆุงู„ุฅุนุฑุงุถ ุนู† ุงู„ุฌุงู‡ู„ูŠู† ุญุชู‰ ูŠุนู„ู…ูˆู‡ู… ูˆูŠุจูŠู†ูˆุง ู„ู‡ู… ุงู„ุญู‚، ุซู… ุงู„ุฅู†ูƒุงุฑ ูˆุงู„ุนู‚ูˆุจุฉ ู…ู† ุจุนุฏ ุงู„ุจูŠุงู† ูˆุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุนุฐุฑ ุจูŠู†ู‡ู… ูˆู…ู†ู‡ู….

"Dan juga wajib berpegang teguh pada al-jamaah (manhaj Ahlussunnah), bersikap sederhana dan menjaga kehormatan diri dalam makanan, minuman, dan pakaian. Dab bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal kebaikan. DanmMelaksanakan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Dan berpaling dari orang-orang jahil kecuali untuk mengajari mereka dan menjelaskan kebenaran kepada mereka. Kemudian bahwa mengingkari dan menghukum mereka itu hanya dilakukan setelah adanya penjelasan dan penegakan hujjah kepada mereka dan mereka memahaminya".

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

surat an nur


Surah An-Nur
Dinamakan Surah An-Nurkarena Allah Ta'ala menyebutkan kata *
"An-Nur" (cahaya) di dalamnya pada lebih dari satu tempat.
Surah yang mulia ini berbicara tentang 'iffah(menjaga kesucian diri), kesopanan/pakaian yang sopan, dan hijab. Sebagaimana surah ini juga berbicara tentang keharaman zina, keharaman melihat hal yang diharamkan, serta keharaman tabarruj (berhias/menampakkan aurat secara berlebihan) dengan perhiasan.
Syaikh Ibn 'Utsaimin rahimahullah berkata:
"Jika engkau merenungkan surah ini, engkau akan mendapati sebutan 'cahaya' di dalamnya; seperti firman-Nya Ta'ala: {Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi} [An-Nur: 35], dan firman-Nya: {Barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun} [An-Nur: 40]."

Dari sini menjadi jelas bagimu bahwa 'iffah (kesucian diri) merupakan salah satu sebab lahirnya cahaya di dalam hati, sedangkan lawan dari 'iffah—yaitu alfujur (kemaksiatan/kefasikan)—merupakan salah satu sebab kegelapan hati.
Oleh karena itu, pengaruh zina terhadap cahaya hati jauh lebih besar daripada dosa lainnya (baik zina kemaluan, tangan, maupun mata), sebagaimana pengaruh 'iffah terhadap cahaya hati jauh lebih kuat daripada amalan lainnya (1)
(1) Tafsir Surah An-Nur, karya Al-'Allamah Ibn 'Utsaimin, hlm. 15.

Sungai Al-Kautsar

Sungai Al-Kautsar 

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

ุงู„ูƒูˆุซุฑُ ู†ู‡ุฑٌ ููŠ ุงู„ุฌู†ุฉِ ุญุงูَّุชุงู‡ُ ู…ู† ุฐู‡ุจٍ ู…ุฌุฑุงู‡ُ ุนู„ู‰ ุงู„ูŠุงู‚ูˆุชِ ูˆุงู„ุฏُّุฑِّ ุชุฑุจุชُู‡ ุฃุทูŠุจُ ู…ู† ุงู„ู…ุณูƒِ ูˆู…ุงุคُู‡ ุฃุญู„ู‰ ู…ู† ุงู„ุนุณู„ِ ูˆุฃุดุฏُّ ุจูŠุงุถًุง ู…ู† ุงู„ุซู„ุฌِ

"Al-Kautsar adalah sebuah sungai di surga. Kedua tepinya terbuat dari emas, aliran sungainya mengalir di atas batu yaqut dan mutiara. Tanahnya lebih harum daripada kasturi, airnya lebih manis daripada madu, dan lebih putih daripada salju" (HR. At-Tirmidzi no. 3361, Ibnu Majah no. 4334, Ahmad no. 5355, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

dosa dosa jariyah

Sabtu, 25 Juli 2026

ุฑุฏّ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู…ุญุณู† ุงู„ุนุจุงุฏ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ «ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงุชุจุงุน ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ูˆุจูŠุงู† ุฎุทุฑู‡ุง» ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุทุนู†ูˆู† ููŠ ุฑุณุงู„ุชู‡ «ุฑูู‚ًุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ุจุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ

๐Ÿ”ถ ุฑุฏّ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู…ุญุณู† ุงู„ุนุจุงุฏ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูƒุชุงุจู‡ «ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงุชุจุงุน ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ูˆุจูŠุงู† ุฎุทุฑู‡ุง» ุนู„ู‰ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุทุนู†ูˆู† ููŠ ุฑุณุงู„ุชู‡ «ุฑูู‚ًุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ุจุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ»، ุฏูˆู† ุงู„ุชุตุฑูŠุญ ุจุฃุณู…ุงุกู‡ู…، ู„ูƒู†ู‡ ุฐูƒุฑ ุชุงุฑูŠุฎ ุชุฎุฑّุฌู‡ู…، ูˆุจูŠّู† ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ู…ู† ุชู„ุงู…ูŠุฐู‡ ููŠ ุงู„ุฌุงู…ุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ.
๐Ÿ“– ู…ู‚ุชุทูุงุช ู…ู† ุงู„ูƒุชุงุจ:
๐Ÿ”น ู‚ุงู„ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู…ุญุณู† ุงู„ุนุจุงุฏ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡:
[ูˆู…ู† ุฐู„ูƒ ุฃูŠุถุงً ุญุตูˆู„ ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ุญุถูˆุฑ ุฏุฑูˆุณ ุดุฎุต؛ ู„ุฃู†َّู‡ ู„ุง ูŠุชูƒู„َّู… ููŠ ูู„ุงู† ุงู„ูู„ุงู†ูŠ ุฃูˆ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ูู„ุงู†ูŠุฉ، ูˆู‚ุฏ ุชูˆู„َّู‰ ูƒุจุฑ ุฐู„ูƒ ุดุฎุต ู…ู† ุชู„ุงู…ูŠุฐูŠ ุจูƒู„ูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ุจุงู„ุฌุงู…ุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ، ุชุฎุฑَّุฌ ู…ู†ู‡ุง ุนุงู… (ูกูฃูฉูฅ ู€ ูกูฃูฉูฆู‡ู€) ، ูˆูƒุงู† ุชุฑุชูŠุจู‡ ุงู„ุฑุงุจุน ุจุนุฏ ุงู„ู…ุงุฆุฉ ู…ู† ุฏูุนุชู‡ ุงู„ุจุงู„ุบ ุนุฏุฏู‡ู… (ูกูกูฉ) ุฎุฑِّูŠุฌุงً]
๐Ÿ”น[ูˆุฌู„ُّ ุจุถุงุนุชู‡ ุงู„ุชุฌุฑูŠุญ ูˆุงู„ุชุจุฏูŠุน ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ูƒุซูŠุฑูŠู† ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†َّุฉ، ู„ุง ูŠุจู„ุบ ู‡ุฐุง ุงู„ุฌุงุฑุญُ ูƒุนุจَ ุจุนุถ ู…َู† ุฌุฑَุญู‡ู… ู„ูƒุซุฑุฉ ู†ูุนู‡ู… ููŠ ุฏุฑูˆุณู‡ู… ูˆู…ุญุงุถุฑุงุชู‡ู… ูˆู…ุคู„ูุงุชู‡ู…]
๐Ÿ”น ูˆู‚ุงู„ ุฃูŠุถًุง:
[ุฃู†َّ ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุจู† ุจุงุฒ ู€ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู€ ูŠุฎุชู„ู ุนู† ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุชู„ู…ูŠุฐ ุงู„ุฌุงุฑุญ ูˆู…َู† ูŠุดุจู‡ู‡؛ ู„ุฃู†َّ ู…ู†ู‡ุฌ ุงู„ุดูŠุฎ ูŠุชَّุณู… ุจุงู„ุฑِّูู‚ ูˆุงู„ู„ِّูŠู† ูˆุงู„ุญุฑุต ุนู„ู‰ ุงุณุชูุงุฏุฉ ุงู„ู…ู†ุตูˆุญ ูˆุงู„ุฃุฎุฐ ุจูŠุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุทุฑูŠู‚ ุงู„ุณู„ุงู…ุฉ، ูˆุฃู…َّุง ุงู„ุฌุงุฑุญُ ูˆู…َู† ูŠุดุจู‡ู‡ ููŠุชَّุณู…ُ ุจุงู„ุดุฏَّุฉ ูˆุงู„ุชู†ููŠุฑ ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ، ูˆูƒุซูŠุฑูˆู† ู…ِู† ุงู„ุฐูŠู† ุฌุฑุญู‡ู… ููŠ ุฃุดุฑุทุชู‡ ูƒุงู† ูŠُุซู†ูŠ ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ูˆูŠุฏุนูˆ ู„ู‡ู… ูˆูŠุญุซُّู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฏุนูˆุฉ ูˆุชุนู„ูŠู… ุงู„ู†ุงุณ، ูˆูŠَุญุซُّ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชูุงุฏุฉ ู…ู†ู‡ู… ูˆุงู„ุฃุฎุฐ ุนู†ู‡ู…].
๐Ÿ”น ูˆู‚ุงู„ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡:
[ูˆู‚ุฏ ุดุงุฑูƒ ุงู„ุชู„ู…ูŠุฐَ ุงู„ุฌุงุฑุญ ุซู„ุงุซุฉٌ: ุงุซู†ุงู† ููŠ ู…ูƒุฉ ูˆุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ، ูˆู‡ู…ุง ู…ู† ุชู„ุงู…ูŠุฐูŠ ููŠ ุงู„ุฌุงู…ุนุฉ ุงู„ุฅุณู„ุงู…ูŠุฉ ุจุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ، ุฃูˆู„ู‡ู…ุง ุชุฎุฑَّุฌ ุนุงู… (ูกูฃูจูค ู€ ูกูฃูจูฅู‡ู€) ، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุนุงู… (ูกูฃูฉูก ู€ ูกูฃูฉูขู‡ู€) ، ูˆุฃู…َّุง ุงู„ุซุงู„ุซ ูููŠ ุฃู‚ุตู‰ ุฌู†ูˆุจ ุงู„ุจู„ุงุฏ، ูˆู‚ุฏ ูˆุตู ุงู„ุซุงู†ูŠ ูˆุงู„ุซุงู„ุซ ู…َู† ูŠُูˆุฒِّุน ุงู„ุฑุณุงู„ุฉَ ุจุฃู†َّู‡ ู…ุจุชุฏุน، ูˆู‡ูˆ ุชุจุฏูŠุน ุจุงู„ุฌู…ู„ุฉ ูˆุงู„ุนู…ูˆู…، ูˆู„ุง ุฃุฏุฑูŠ ู‡ู„ ุนู„ู…ูˆุง ุฃูˆ ู„ู… ูŠุนู„ู…ูˆุง ุฃู†َّู‡ ูˆุฒَّุนู‡ุง ุนู„ู…ุงุก ูˆุทู„ุจุฉ ุนู„ู… ู„ุง ูŠُูˆุตَููˆู† ุจุจุฏุนุฉ، ูˆุขู…ู„ُ ู…ู†ู‡ู… ุชุฒูˆูŠุฏูŠ ุจุงู„ู…ู„ุงุญุธุงุช ุงู„ุชูŠ ุจู†ูˆุง ุนู„ูŠู‡ุง ู‡ุฐุง ุงู„ุชุจุฏูŠุน ุงู„ุนุงู… ุฅู† ูˆُุฌุฏุช ู„ู„ู†ุธุฑ ููŠู‡ุง].
๐Ÿ“Œ ูู‡ู„ ุนุฑูุชู… ุงู„ุขู† ู„ู…ุงุฐุง ูŠูƒุฑู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ุจุบูŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ู…ุญุณู† ุงู„ุนุจุงุฏ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡؟
#ุฃู‡ู„_ุงู„ุณู†ุฉ_ูˆุงู„ุฌู…ุงุนุฉ
#ุฃู‡ู„_ุงู„ุจุฏุนุฉ_ูˆุงู„ุตู„ุงู„ุฉ
https://www.facebook.com/share/1EMipCj5ae/

Perbedaan Qiyas Syar'i dan Qiyas Ushuli

Perbedaan Qiyas Syar'i dan Qiyas Ushuli

Qiyas Syar'i adalah proses mengembalikan berbagai cabang persoalan (furu') kepada kaidah-kaidah umum syariat (qawa'id kulliyyah). Dalam pendekatan ini, rincian-rincian hukum dipahami dalam kerangka prinsip-prinsip besar yang telah ditetapkan oleh syariat.

Sebagai contoh, seluruh perintah syariat di dalam Al-Qur'an dan Sunnah kembali kepada prinsip adanya maslahat, sedangkan seluruh larangan kembali kepada prinsip adanya mafsadah. Demikian pula rincian hukum yang berkaitan dengan niat dikembalikan kepada kaidah Al-Umuru bi Maqashidiha (segala perkara bergantung pada tujuannya), sementara berbagai persoalan keraguan dikembalikan kepada kaidah Al-Yaqinu La Yazulu bisy-Syakk (keyakinan tidak hilang karena keraguan).

Dengan demikian, Qiyas Syar'i tidak berfokus pada pencarian 'illah suatu hukum secara khusus, melainkan pada pengembalian cabang-cabang hukum kepada prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah syariat yang bersifat umum.

Adapun Qiyas Ushuli adalah proses menghubungkan suatu kasus baru yang belum memiliki ketetapan hukum secara eksplisit dalam nash dengan kasus yang telah ditetapkan hukumnya oleh nash, karena keduanya memiliki 'illah yang sama.

Dalam metode ini, hukum yang terdapat pada kasus asal (ashl) diberlakukan pula pada kasus baru (far') berdasarkan kesamaan 'illah di antara keduanya. Oleh karena itu, 

Qiyas Ushuli merupakan salah satu metode istinbath hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum berbagai peristiwa baru yang tidak disebutkan secara tegas dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah.

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah

Bahan bacaan :
๐Ÿ“š Syarh Qawaid Ibn Rajab

me time

Disunnahkan berdoa setelah sholat fardhu. Setelah dzikir ya. Ada khilaf seputar disunnahkan mengangkat tangan atau tidak

Disunnahkan berdoa setelah sholat fardhu. Setelah dzikir ya. Ada khilaf seputar disunnahkan mengangkat tangan atau tidak 

40 — Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali
Beliau pernah ditanya sebagaimana tercantum dalam Kumpulan Kitab, Risalah, dan Fatwa beliau (jilid 15, halaman 486):
“Apakah orang yang mengangkat kedua tangannya setelah salat dapat dihukumi melakukan bidah?”
Beliau menjawab:
“Kita tidak dapat menganggap perbuatan tersebut sebagai bidah. Mengenai mengangkat kedua tangan untuk berdoa setelah selesai salat wajib, kita tidak dapat menghukumi pelakunya sebagai orang yang melakukan bidah.
Sebab, ia memiliki dalil-dalil yang bersifat umum, bahkan terdapat beberapa hadis yang menjadi landasannya. Pada umumnya, ketika berdoa kedua tangan diangkat. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi ๏ทบ.
Apabila seseorang mengangkat kedua tangannya, pertama-tama kita cukup mengajarinya dengan mengatakan, ‘Engkau mengangkat kedua tangan untuk berdoa setelah salat wajib, padahal hal tersebut tidak pernah ditetapkan dari Nabi ๏ทบ.’
Namun, apabila ia tidak menerima penjelasan tersebut, kita tetap tidak dapat menghukuminya sebagai orang yang melakukan bidah.
Sebab, sebagaimana telah kami katakan, terdapat banyak dalil mengenai hal tersebut dalam berbagai keadaan. Bahkan riwayat-riwayat itu telah mencapai derajat mutawatir bahwa Rasulullah ๏ทบ mengangkat kedua tangannya ketika berdoa.”
Sumber :
https://www.alakhdr.com/?p=39
Ustadz febrian fariansyah

Jumat, 24 Juli 2026

Sesungguhnya awal kemunafikan seseorang adalah celaannya terhadap pemimpinnya

Faedah dari Daurah Syaikh Ibrahim di Jami Abu Darda':

ุนู† ุงุจูŠ ุฏุฑุฏุงุก ุงู†ู‡ ู‚ุงู„
Diriwayatkan dari Abu Darda bahwasanya ia berkata:

ุงู† ุงูˆู„ ู†ูุงู‚ ุงู„ู…ุฑุก ุทุนู†ู‡ ููŠ ุงู…ุงู…ู‡
Sesungguhnya awal kemunafikan seseorang adalah celaannya terhadap pemimpinnya (HR. Al-Baihaqi).

Habisnya Umur Diam-Diam(sebuah tulisan yang indah)

Habisnya Umur Diam-Diam
(sebuah tulisan yang indah)

Seseorang berkata:
"Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, tiba-tiba aku menyadari bahwa usiaku telah mencapai 50 tahun... lalu 55... kemudian hampir 60 tahun!

Dulu, angka-angka itu terasa begitu asing bagiku. Kini aku mulai merasakan kekhawatiran terhadap kehidupan setelah usia 60 tahun.
Aku mendapati para pedagang memanggilku, 'Wahai Pak Haji,' anak-anak memanggilku, 'Paman,' dan para pemuda di toko-toko segera menyodorkan kursi agar aku bisa duduk.
Perlakuan itu memang istimewa, tetapi di sisi lain terasa sebagai pertanda bahwa usia telah bertambah.

Namun kemudian aku merenungkan perjalanan hidup manusia terbaik, Rasulullah ๏ทบ. Wahyu mulai diturunkan kepada beliau saat berusia 40 tahun. Beliau berjihad menghadapi orang-orang kafir pada usia 54 tahun dan terus berdakwah serta berjuang menegakkan agama Allah hingga akhir hayatnya.

Demikian pula Sayyidah Khadijah radhiallahu 'anha, beliau berada pada puncak kekuatan dan kematangannya ketika berusia 40 tahun, bahkan masih melahirkan putra-putri setelah usia tersebut.

Akhirnya aku menyimpulkan bahwa usia yang sebenarnya adalah bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. Rasa ridha & bahagia adalah sesuatu yang berada di tanganmu, bukan di tangan hitungan hari. Karena itu, ketika engkau mencapai usia ini, anggaplah bahwa engkau sedang memasuki fase baru dari masa muda.

Mulailah menghafal Al-Qur'an, karena engkau berada pada masa kematangan akal dan kemampuan. Jagalah salat-salat sunnah rawatib, berpuasalah tiga hari setiap bulan, luangkan waktu untuk bermunajat kepada Rabbmu di 1/3 malam, dan tinggalkan jejak kebaikan agar namamu tetap dikenang dengan amal yang bermanfaat.

Tidak ada sesuatu yang lebih pantas disesali dalam hidup ini selain kelalaian kita terhadap hak Allah.

Bergembiralah karena Allah masih memberimu kehidupan pada hari yang baru. Pada hari itu engkau dapat mendirikan shalat, menanam pahala, bersedekah, dan melakukan berbagai amal saleh. Maka manfaatkanlah setiap menit, karena ia tidak akan pernah kembali.

Pada Hari At-Taghabun (Hari Penyesalan), orang yang paling besar penyesalannya adalah mereka yang menyia-nyiakan umur mereka, meskipun akhirnya mereka masuk surga.
Di antara satu derajat dengan derajat lainnya di surga terdapat perbedaan yang bisa diraih dengan membaca 1 ayat, atau 1 tasbih, 1 tahmid, atau 1 tahlil. Berdagang dengan Allah tidak ada batasnya. Maka marilah kita memanfaatkan sisa umur kita dengan sebaik-baiknya.

Inilah wasiat untuk diriku dan juga untuk kalian.
Marilah kita memanfaatkan umur kita sebaik mungkin. Ingatlah sabda Rasulullah ๏ทบ:

ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู† ุทุงู„َ ุนู…ُุฑُู‡ ูˆَุญَุณُู†َ ุนู…ู„ُู‡
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Ahmad & Tirmidzi)

Diterjemahkan dari status Syaikh Prof. Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah 
https://x.com/i/status/2075320983024443447
===
Follow Chanel telegram & instagram Syaikh Prof.Dr. Ashim Al Qaryuti hafizhahullah dalam bahasa Indonesia: @alqaryuti_id

#SyaikhAshimAlQaryuti #twitulama #nasihat #kehidupan #umur #renungan

Kami tidak mengkafirkan individu (mu'ayyan), melainkan hanya mengatakan perbuatannya adalah kekufuran... Ini adalah perkataan Murji'ah" – Syaikh Shalih Al-Fawzan

Judul Video:

"Kami tidak mengkafirkan individu (mu'ayyan), melainkan hanya mengatakan perbuatannya adalah kekufuran... Ini adalah perkataan Murji'ah"Syaikh Shalih Al-Fawzan 

Poin-Poin Utama Pembahasan Video:

  • Pengkafiran Individu (Takfir al-Mu'ayyan) dan Pemahaman Murji'ah 
    • ​Penanya mengajukan pertanyaan mengenai kebenaran ungkapan: "Setiap orang yang melakukan pembatal keislaman, kita tidak menghukumi sosok individunya secara langsung, tetapi hanya menyebut perbuatan atau perkataannya sebagai kekufuran".
    • ​Syaikh Shalih Al-Fawzan menjelaskan bahwa pemikiran yang disebarkan pada masa ini yang memisahkan secara mutlak perbuatan kufur dari pelakunya merupakan propaganda dari paham Murji'ah 
  • Hukum Penyembah Kubur ]
    • ​Ketika ditanya apakah seseorang yang menyembah kuburan dapat dihukumi kafir secara individu (bi 'ainih), Syaikh menegaskan bahwa orang yang menyembah selain Allah (seperti menyembah kubur) dianggap sebagai orang kafir 
  • Bantahan terhadap Paham Bahwa Kekufuran Hanya Terjadi dalam Hati 
    • ​Penanya menanyakan tentang pendapat orang yang menyatakan bahwa kekufuran hanya terjadi melalui iktikad/keyakinan hati, dan seseorang tidak bisa menjadi kafir hanya melalui perbuatan atau ucapan 
    • ​Syaikh menegaskan bahwa ini adalah madzhab Murji'ah . Menurut paham Murji'ah, iman cukup berada di dalam hati, dan perbuatan atau ucapan tidak membahayakan iman. Syaikh menegaskan bahwa madzhab ini adalah batil 

Tautan video: https://youtu.be/bKueF1HkZr8