*Nasehat al-Ustadz al-Waalid Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I حفظه اللّه dalam Reuni Akbar Hasanat Ke-05 Tahun 2026*
1) Salah satu pilar terpenting dalam agama Allah adalah nasehat. Meskipun yang memberikan nasehat belum tentu lebih baik dari yang dinasehati.
2) Selalu menjaga keikhlasan dalam seluruh aktivitas kita, dalam menolong agama Allah dan beribadah kepada-Nya.
3) Teruslah meningkatkan kualitas diri kita dan dalam meningkatkan kualitas diri ini juga harus ikhlas dan dengan tujuan memberikan manfaat lebih besar kepada kaum muslimin. Jangan rendah diri dan merasa minder. Allah berfiman:
وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139)
4) Berkayarlah pada bidangnya masing-masing. Jangan hanya menjiplak dan ini akan memberikan contoh pada generasi mendatang. Ini akan menjadi amal jariyah.
5) Pupuklah semangat kita, jangan lemah dan mengeluh. Ingatlah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)
Jangan takut dengan masa depan dan carilah teman yang shalih dan bisa memberikan semangat serta motivasi. Ingatlah kisah Musa dan Harun!
6) Mintalah pertolongan kepada Allah, karena kita manusia yang lemah.
لا حول ولا قوّة إلا باللّه
Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah
7) Mulailah sesuatu dari nol, jangan jadi orang yang maunya instant. Angka 10 itu dari 1, angka 1000 pun dari angka 1. Begitu pula dalam membangun pondok, jangan maunya langsung banyak. Mulai dari yang sedikit, ikutilah sunnatullah. Hanya Allah yang bisa langsung jadi "kun fayakun". Lihatlah dakwah para anbiya, ada mereka yang tak ada pengikut, apakah gagal dakwah mereka? Tidak, karena tugas mereka hanya menyampaikan!
8) Dalam mendidik ikutilah metode para anbiya dan para Rasul, yang terpenting adalah MENCETAK MANUSIA. Bagaimana manusia-manusia ini bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. Jangan sibuk sarana prasarana, kelasnya tidak pakai AC dan makanannya begini begitu. Itu adalah pelengkap, justru yang prioritas tidak boleh ditinggalkan.
9) Miliki tanggung jawab moral di tengah umat, umat percaya pada anda. Lalu apa yang harus anda lakukan untuk menjaga kepercayaan ini? Setelah Anda berbuat maksimal untuk umat maka serahkan kepada Allah. Lihatlah Nuh 'alaihissalam yang tetap maksimal mendakwahkan anaknya, bahkan ketika anaknya telah binasa masih terus didoakan sampai akhirnya di tegur oleh Allah.
10) Jangan pernah merasa sudah maksimal dan berhasil. Ingatlah juga kisah Imam Ahmad رحمه الله yang disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi رحمه الله tatkala akan wafat maka anaknya mengatakan, "Wahai ayahku, katakanlah Laa Ilaaha illallah!" Maka Imam Ahmad mengatakan, "Nanti!" Hal ini terjadi berulang. Setelah Imam Ahmad sadar dari mabuk kematiannya, maka sang anak pun bertanya, "Apa yang engkau katakan tadi wahai ayahku?" Maka Imam Ahmad menjawab, "......ada setan di hadapanku yang mengatakan
"نجوت مني يا أحمد"
"Engkau telah selamat dariku, wahai Ahmad",
maka imam Ahmad menjawab; "Tidak...aku belum selamat darimu."
Ditulis oleh Noviyardi Amarullah dan telah dikoreksi oleh al-Ustadz Mubarak Bamualim حفظه اللّه
Kusuma Agro Wisata, 28 Muharram 1448 H / 14 Juli 2026