Senin, 13 Juli 2026

Abu Hatim Ar-Razi dan Putranya Abdurrahman: Sebuah Keluarga yang Hidup untuk Ilmu

Abu Hatim Ar-Razi dan Putranya Abdurrahman: Sebuah Keluarga yang Hidup untuk Ilmu
(Penggalan Faidah Dauroh Rodja)

Ada keluarga yang mewariskan harta. Ada pula keluarga yang mewariskan nama. Namun ada keluarga yang Allah muliakan dengan warisan yang jauh lebih agung: ilmu, ibadah, dan pengorbanan. Di antara keluarga itu adalah keluarga Imam Abu Hatim Ar-Razi dan putranya, Imam Abdurrahman bin Abi Hatim.

[Ayah yang Mengorbankan Masa Muda untuk Ilmu]

Abu Hatim Ar-Razi memulai perjalanan menuntut ilmu saat usianya baru sekitar dua puluh tahun. Tidak ada kendaraan mewah, tidak ada bekal yang melimpah. Yang beliau miliki hanyalah tekad yang tidak pernah padam.
Beliau melakukan rihlah pertama dalam menuntut ilmu selama tujuh tahun berturut-turut, berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya; mendatangi para ulama di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan berbagai wilayah Islam. Dalam perjalanan itu beliau menemui lebih dari seribu guru.

Jarak yang beliau tempuh mencapai seribu farsakh. Iman Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa jarak sejauh itu, jika ditempuh dengan kendaraan secara terus-menerus tanpa berhenti, memerlukan waktu sekitar empat bulan. Namun Abu Hatim tidak memiliki kendaraan. Sebagian besar perjalanan itu beliau tempuh dengan berjalan kaki, menahan lapar, haus, dan kelelahan. Baru setelah sampai di Irak beliau memperoleh kesempatan untuk menggunakan kendaraan.
Semua itu dilakukan ketika kebanyakan pemuda seusianya masih sibuk mengejar kesenangan dunia.

Begitulah para ulama memahami firman Allah. Mereka sadar bahwa ilmu tidak diberikan kepada orang yang mencintai kenyamanan.

[Mendidik Anak dengan Mengajak Berjalan Bersama Ilmu]

Ketika Allah menganugerahkan seorang putra, Abu Hatim tidak hanya mengajarinya di rumah. Beliau membawanya hidup bersama ilmu.
Putranya, Abdurrahman bin Abi Hatim, sejak kecil diajak menghadiri majelis hadits, menempuh perjalanan panjang, bertemu para imam, dan mendengar hadits langsung dari para ulama.
Dalam salah satu perjalanan haji sekaligus menuntut ilmu, terjadi peristiwa yang sangat mengharukan. Di tengah perjalanan itu Abdurrahman mengalami ihtilam, sehingga ia telah mencapai usia baligh.
Sang ayah sangat bergembira. Sebab sejak saat itu, haji yang sedang dilaksanakan putranya berubah menjadi Hajjatul Islam, haji pertama yang wajib bagi seorang muslim yang telah baligh. Di tengah beratnya perjalanan, hati seorang ayah dipenuhi rasa syukur karena Allah memberikan nikmat yang begitu besar kepada anaknya.

Syaikh Abdul Malik Ramadhani pernah mengingat sebuah kisah yang serupa. Seorang ulama membawa putranya yang belum baligh dalam perjalanan laut untuk menunaikan haji. Di atas kapal, anak itu mengalami ihtilam. Sang ayah sangat bahagia karena anaknya memperoleh Hajjatul Islam.

 Namun muncul persoalan: bagaimana memandikan anaknya mandi janabah di tengah lautan?
Maka orang-orang mengikat tubuh anak itu dengan tali agar aman, lalu menurunkannya ke laut hingga seluruh badannya terkena air, kemudian mereka mengangkatnya kembali ke atas kapal.

Betapa indahnya kebahagiaan mereka. Yang mereka rayakan bukan keberhasilan dunia, tetapi nikmat agama.

[Ilmu Dikumpulkan dalam Setiap Detik Kehidupan]

Kelak, Abdurrahman bin Abi Hatim menyusun kitab raksasa Al-Jarh wa at-Ta'dil, ensiklopedia para perawi hadits yang hingga hari ini menjadi rujukan para ulama.
Orang-orang bertanya kepadanya,
"Dari mana engkau memperoleh begitu banyak penilaian ayahmu terhadap para perawi?"
Sebab hampir di setiap halaman tertulis kalimat,
"Aku bertanya kepada ayahku..."

Abdurrahman menjawab bahwa semua itu tidak didapat dalam satu atau dua majelis. Ia mengambil ilmu ketika berjalan bersama ayahnya, ketika makan bersamanya, ketika minum, bahkan ketika ayahnya pergi ke khalā' (tempat buang hajat). Setiap kesempatan menjadi majelis ilmu.
Tidak ada waktu yang dibiarkan berlalu tanpa faedah.
Demikianlah ilmu dikumpulkan; bukan dengan waktu yang tersisa, tetapi dengan menjadikan seluruh kehidupan sebagai perjalanan belajar.

[Tujuh Bulan Tanpa Makanan Matang]

Kesungguhan Abdurrahman menuntut ilmu hampir sulit dipercaya oleh ukuran manusia hari ini.
Pada siang hari beliau menghadiri majelis para ulama.
Pada malam hari beliau menulis hadits-hadits yang didengar.
Lalu memeriksa kembali tulisannya.
Kemudian melakukan muqabalah, mencocokkan catatan dengan naskah teman-temannya agar tidak ada satu huruf pun yang keliru.
Kesibukan itu berlangsung terus-menerus hingga selama tujuh bulan beliau tidak pernah sempat memakan makanan yang dimasak.

Pernah suatu hari beliau melewati pasar dan melihat seekor ikan segar. Beliau membelinya dengan harapan dapat memasaknya setelah selesai menghadiri majelis gurunya yang sedang sakit.
Namun sebelum sempat memasaknya, datang waktu majelis berikutnya.
Esoknya demikian lagi.
Hari ketiga pun sama.
Akhirnya ikan itu mulai berubah dan tidak lagi segar. Karena tidak ingin kehilangan kesempatan menghadiri majelis ilmu, beliau memakannya apa adanya.

Pada saat itulah beliau mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi semboyan para penuntut ilmu:

لا يُنالُ العِلْمُ بِراحَةِ الجَسَدِ
"Ilmu tidak akan diperoleh dengan memanjakan jasad."

[Ilmu yang Dihiasi Ibadah]

Keagungan Abdurrahman bukan hanya pada hafalan dan kitab-kitabnya.
Beliau juga dikenal sebagai ahli ibadah.
Bahkan ayahnya sendiri pernah berkata,

"Siapakah yang mampu menandingi ibadah Abdurrahman?"

Inilah pendidikan seorang ayah yang berhasil.
Ia tidak hanya melahirkan anak yang pandai berbicara tentang agama, tetapi anak yang hidup bersama agama.

Ilmunya menerangi akalnya.

Ibadahnya menghidupkan hatinya.

Akhlaknya menjadi buah dari keduanya.

Demikianlah keluarga para ulama. Mereka tidak mewariskan istana, tetapi mewariskan ilmu. Mereka tidak meninggalkan kekayaan, tetapi meninggalkan teladan. Berabad-abad setelah mereka wafat, nama mereka tetap hidup di majelis-majelis ilmu, sedangkan harta orang-orang kaya telah lama habis tak bersisa.

Semoga Allah merahmati Imam Abu Hatim Ar-Razi dan putranya, Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai ilmu, menghormati waktu, dan mendidik anak-anak di atas jalan yang mereka tempuh.

Dika Wahyudi 
11 Juli 2026
26 Muharram 1448 H.