Doktrin Penuh Kontradiksi
Dalam Al-Jawab Ash-Shahih, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengkritik doktrin Inkarnasi Nasrani secara emosional, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih mematikan, konsistensi logika.
Beliau membiarkan doktrin itu berdiri di atas kakinya sendiri, lalu menunjukkan bahwa kaki-kaki itu justru saling menjegal. Salah satu contohnya adalah ketika beliau mengangkat peristiwa Nabi Musa di Bukit Sinai. Allah menampakkan firman-Nya melalui sebatang pohon hingga gunung hancur luluh dan Musa tersungkur tak sadarkan diri.
Namun, tak seorang pun yang berakal menyimpulkan bahwa Allah telah menjelma menjadi pohon atau bersemayam di dalamnya. Jika manifestasi firman Allah melalui pohon saja menghasilkan guncangan semacam itu, lalu bagaimana mungkin Dzat Allah dikatakan berada dalam rahim selama sembilan bulan, lahir sebagai bayi, menyusu, tidur, dan tumbuh seperti manusia biasa tanpa meninggalkan jejak keagungan yang bahkan mampu membuat sebutir pasir bergetar?
Kontradiksi berikutnya bahkan lebih menarik. Ketika hendak membuktikan Inkarnasi, mereka bersikeras bahwa lahut (aspek ketuhanan) dan nasut (aspek kemanusiaan) telah melebur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Persatuan itu digambarkan begitu erat hingga nyaris mustahil dibedakan.
Namun anehnya, ketika tiba pada kisah penyaliban, persatuan yang sebelumnya begitu kokoh mendadak berubah selembut lilin yang meleleh di bawah matahari. Yang menderita hanyalah kemanusiaannya. Yang disalib hanyalah kemanusiaannya. Yang mati pun hanyalah kemanusiaannya. Adapun ketuhanannya tetap utuh, aman, dan tak tersentuh sedikit pun. Seolah-olah persatuan itu memiliki tombol hidup dan mati yang dapat diaktifkan sesuai kebutuhan argumentasi.
Jika ketuhanan dapat dipisahkan dari rasa sakit dan kematian, mengapa tidak dapat dipisahkan pula dari rahim, darah, tangisan bayi, dan kebutuhan untuk menyusu?
Membolehkan pemisahan pada satu keadaan sambil menolaknya pada keadaan lain bukanlah misteri teologis. Tapi lebih menyerupai pintu belakang yang dibuka diam-diam setiap kali doktrin itu terjebak oleh kesimpulan kontradiksi yang lahir dari premis-premisnya sendiri.
Puncaknya, Ibnu Taimiyah memberikan sebuah sindiran yang sederhana sekaligus menghancurkan. Jika rahim seorang wanita dianggap layak menjadi jalan lahir Tuhan karena kemuliaannya, maka lisan para nabi yang menyampaikan wahyu Allah tentu jauh lebih mulia daripada itu.
Mengapa tidak dikatakan saja bahwa Tuhan keluar melalui mulut para nabi?
Pertanyaan ini memang terdengar absurd. Namun justru di situlah letak hantamannya. Sebab ketika premis yang keliru diterima sejak awal, kesimpulan yang lebih absurd pun tidak lagi memiliki alasan untuk ditolak.
Dengan cara inilah Ibnu Taimiyah membongkar doktrin Inkarnasi, bukan dengan luapan emosi, tetapi dengan membiarkan kontradiksi-kontradiksinya tumbuh hingga menjadi bantahan bagi dirinya sendiri. Dan ketika sebuah doktrin telah berubah menjadi bantahan bagi dirinya sendiri, biasanya tidak diperlukan bantahan yang panjang; cukup sebuah pertanyaan sederhana yang dijawab dengan jujur.
Allahul musta'an
Ibn Nashrullah
https://www.facebook.com/share/1ERy4UB37u/