Kamis, 02 Juli 2026

Jadi, Al-Qur'an memang tertulis di Lauhul Mahfuzh tanpa ada keraguan, akan tetapi Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh –sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Asy'ariyyah– melainkan menerimanya dari Allah Jalla wa 'Ala


**عقيدة السلف في كلام الله عز وجل**
> **Akidah Salaf tentang Kalamullah (Firman Allah) 'Azza wa Jalla**
### **Isi Teks Utama**
والْكَلَامُ إِنَّمَا يُضَافُ إِلَى مَنْ قَالَهُ مُبْتَدِئاً، لَا إِلَى مَنْ قَالَهُ مُبَلِّغاً مُؤَدِّياً(١)؛ لِأَنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ مِنْ ثَلَاثَةٍ، فَاللهُ أَخْبَرَ أَنَّهُ كَلَامُهُ. وَأَضَافَهُ إِلَى الرَّسُولِ الْمَلَكِيِّ، وَإِلَى الرَّسُولِ الْبَشَرِيِّ مِنْ بَابِ إِضَافَةِ التَّبْلِيغِ فَحَسْبُ، وَهُوَ كَلَامُ اللهِ ابْتِدَاءً، وَهُوَ كَلَامُ جِبْرِيلَ وَمُحَمَّدٍ ﷺ تَبْلِيغاً عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
> Dan suatu perkataan itu hanyalah disandarkan kepada orang yang pertama kali mengucapkannya (sumber aslinya), bukan kepada orang yang sekadar menyampaikannya(1). Karena tidak mungkin satu perkataan berasal dari tiga pihak sekaligus. Allah telah mengabarkan bahwa itu adalah firman-Nya. Adapun penyandaran perkataan tersebut kepada rasul dari kalangan malaikat (Jibril) dan rasul dari kalangan manusia (Muhammad) hanyalah dari sisi penyampaian (tabligh) saja. Maka, ia adalah firman Allah pada asalnya, dan menjadi perkataan Jibril serta Muhammad ﷺ dalam hal penyampaian dari Allah 'Azza wa Jalla.
لَا يَشُكُّ الْمُسْلِمُونَ فِي هَذَا، أَنَّهُ كَلَامُ اللهِ، مُنَزَّلٌ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ﴾ [الزمر: ٢]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ﴾ [الزمر: ١]، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ﴾ [الأنعام: ١١٤].
> Kaum muslimin tidak meragukan hal ini, bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, yang diturunkan dan bukan makhluk. Allah Ta'ala berfirman: *"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab"* [QS. Az-Zumar: 2], dan Allah Ta'ala berfirman: *"Diturunkannya Kitab ini dari Allah"* [QS. Az-Zumar: 1], serta Allah Ta'ala berfirman: *"Bahwa Al-Qur'an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar"* [QS. Al-An'am: 114].
وَاللهُ -جَلَّ وَعَلَا- وَصَفَهُ بِأَنَّهُ كَلَامُهُ، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ﴾ [التوبة: ٦]، ﴿يُرِيدُونَ أَن يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ﴾ [الفتح: ١٥]، فَوَصَفَهُ بِأَنَّهُ كَلَامُهُ، وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَهُ.
> Dan Allah –Jalla wa 'Ala– menyifati Al-Qur'an sebagai firman-Nya. Allah Ta'ala berfirman: *"..agar dia sempat mendengar firman Allah"* [QS. At-Tawbah: 6], dan *"Mereka hendak mengubah firman Allah"* [QS. Al-Fath: 15]. Maka Allah menyifatinya sebagai firman-Nya, dan Dialah yang telah menurunkannya.
أَمَّا الْأَشَاعِرَةُ فَيَقُولُونَ: إِنَّهُ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَإِنَّ جِبْرِيلَ أَخَذَهُ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَنَزَلَ بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ!
> Adapun kaum Asy'ariyyah, mereka mengatakan: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu tertulis di Lauhul Mahfuzh, dan sesungguhnya Jibril mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh, lalu turun membawanya kepada Muhammad ﷺ!"
وَهَذَا قَوْلٌ بَاطِلٌ؛ فَإِنَّ جِبْرِيلَ لَمْ يَأْخُذْهُ عَنِ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، وَإِنَّمَا أَخَذَهُ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. نَعَمْ هُوَ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ * فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ﴾ [البروج: ٢١-٢٢]، ﴿وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ﴾ [الزخرف: ٤]، يَعْنِي: الْقُرْآنَ، فَهُوَ مَكْتُوبٌ فِي اللَّوْحِ بِلَا شَكٍّ، وَلَكِنَّ جِبْرِيلَ لَمْ يَأْخُذْهُ مِنَ اللَّوْحِ -كَمَا تَقُولُ الْأَشَاعِرَةُ- وَإِنَّمَا أَخَذَهُ عَنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا، فَيَنْبَغِي مَعْرِفَةُ هَذَا؛ لِأَنَّ هَذَا مَذْكُورٌ فِي عَقَائِدِ الْأَشَاعِرَةِ، وَقَدْ رَدَّ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ -رَحِمَهُ اللهُ- عَلَى هَذَا الْقَوْلِ فِي رِسَالَةٍ مَطْبُوعَةٍ -وَهِيَ
> Dan ini adalah pendapat yang batil (keliru); karena Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh, melainkan ia menerimanya langsung dari Allah 'Azza wa Jalla. Benar bahwa Al-Qur'an tertulis di Lauhul Mahfuzh, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: *"Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauhul Mahfuzh"* [QS. Al-Buruj: 21-22], dan *"Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam Induk Kitab (Lauhul Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar tinggi dan penuh hikmah"* [QS. Az-Zukhruf: 4], maksudnya adalah Al-Qur'an. Jadi, Al-Qur'an memang tertulis di Lauhul Mahfuzh tanpa ada keraguan, akan tetapi Jibril tidak mengambilnya dari Lauhul Mahfuzh –sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Asy'ariyyah– melainkan menerimanya dari Allah Jalla wa 'Ala. Perkara ini harus diketahui, karena hal ini disebutkan dalam kitab-kitab akidah Asy'ariyyah, dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim –rahimahullah– telah membantah pendapat ini dalam sebuah risalah (buku saku) yang dicetak –yaitu... *(teks terputus)*
### **Catatan Kaki (Footnote)**
(١) انظر: الواسطية (ص١٣٦) بشرح المؤلف حفظه الله، ط. مكتبة المعارف بالرياض.
> (1) Lihat: *Al-Wasithiyyah* (hal. 136) dengan syarah (penjelasan) oleh penulis –semoga Allah menjaganya–, cetakan Maktabah al-Ma'arif, Riyadh