keutamaan sahabat Nabi, Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu*.
**Muhammad bin al-Husain *rahimahullah* berkata:**
"Beliau (Rasulullah ﷺ) menikahkannya (Utsman) pertama kali dengan Ruqayyah, lalu menikahkannya lagi dengan Ummu Kultsum dengan mahar yang serupa, dan atas persahabatan yang serupa pula. Kemudian ketahuilah—semoga Allah merahmati kalian—bahwa sesungguhnya beliau dinamai *Dzun Nurain* (Pemilik Dua Cahaya) karena tidak pernah ada seorang nabi pun yang mengumpulkan (menikahi) dua putri nabi, satu demi satu setelah yang lain, sejak zaman Nabi Adam Alaihis Salam, kecuali Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu*. Oleh karena itulah beliau dinamai *Dzun Nurain*.
Dan ini adalah salah satu dari sekian banyak keutamaan beliau yang mulia. Qatadah berkata: 'Sesungguhnya Utsman *radhiyallahu 'anhu* mempersiapkan pasukan *Al-'Usrah* (pasukan yang serba sulit pada Perang Tabuk) dengan membawa sembilan ratus tiga puluh ekor unta dan tujuh puluh ekor kuda.' Ibn Syihab az-Zuhri berkata: '(Utsman bin Affan *radhiyallahu 'anhu* membawa sembilan ratus ekor unta dan empat puluh ekor kuda dalam Perang Tabuk, kemudian beliau datang lagi membawa sisa hewan lainnya sehingga genap berjumlah seribu ekor).'
Dan Nabi ﷺ bersabda: *'Barangsiapa yang membeli sumur Rumaah, lalu dia menjadikannya sebagai tempat minum bagi kaum muslimin, maka Allah akan mengampuninya.'* Lalu Utsman *radhiyallahu 'anhu* membelinya. Kemudian disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Nabi ﷺ bersabda: *'Sesungguhnya para malaikat benar-benar malu kepada Utsman bin Affan.'*
Kemudian Nabi ﷺ juga mengabarkan tentang fitnah (kekacauan) yang akan terjadi setelah beliau wafat, dan beliau mengabarkan bahwa Utsman *radhiyallahu 'anhu* berlepas diri (bersih) dari fitnah tersebut. Beliau juga mengabarkan bahwa Utsman akan dibunuh secara zalim, dan Nabi memerintahkannya untuk bersabar. Maka Utsman pun bersabar *radhiyallahu 'anhu* hingga beliau dibunuh secara zalim.
Para sahabat Rasulullah ﷺ telah berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk menolong beliau, namun beliau melarang mereka dan berkata: *'Kalian berada dalam kebebasan dari baiatku (aku melepaskan sumpah setia kalian untuk melindungiku), dan sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Allah 'Azza wa Jalla dalam keadaan selamat (tidak menumpahkan darah) lagi dizalimi.'*
Beliau (Utsman) terbiasa menghidupkan seluruh malam dengan satu rakaat, di mana beliau mengkhatamkan Al-Qur'an di dalamnya. Beliau memiliki banyak keutamaan yang mulia, di mata orang-orang yang berakal, di antara orang-orang yang dianugerahi kemanfaatan ilmu oleh Allah yang Maha Mulia. Kami akan menyebutkannya kembali, insya Allah, pada tempatnya.
Abdurrahman bin Mahdi berkata: 'Seandainya tidak ada keutamaan pada diri Utsman *radhiyallahu 'anhu* kecuali dua perkara ini, niscaya itu sudah cukup baginya: Pengumpulan mushaf Al-Qur'an olehnya, dan pengorbanan darahnya demi menjaga darah kaum muslimin.'
Dan dari Jundub *radhiyallahu 'anhu*, ia berkata: (Hudaifah *rahimahullah* berkata: 'Sungguh mereka telah berjalan menuju Utsman, dan demi Allah, mereka pasti akan membunuhnya!' Aku bertanya: 'Lalu di manakah posisi Utsman (setelah terbunuh)?' Ia menjawab: 'Di surga.' Aku bertanya lagi: 'Lalu di manakah posisi orang yang membunuhnya?' Ia menjawab: 'Di neraka, demi Allah.')"
**Muhammad bin al-Husain *rahimahullah* berkata:**
"Dan sungguh para sahabat Rasulullah ﷺ telah mengingkari pembunuhan Utsman *radhiyallahu 'anhu* dengan pengingkaran yang sangat keras, dan mereka menangisinya. Orang pertama di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib *radhiyallahu 'anhu*. Beliau melemparkan sorban hitam dari kepalanya dan berseru sebanyak tiga kali: *'Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari darah (pembunuhan) Ibnu Affan. Ya Allah, aku tidak rida atas pembunuhannya, dan aku tidak memerintahkannya!'*"
*(Catatan kaki di bagian bawah gambar merujuk pada referensi hadis riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq, Kitab al-Wakahah, bab Min asy-Syurb, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Sunan-nya).*