Perkataan para pendahulu kita (generasi Salaf), termasuk Imam Ahmad, itu punya ciri khas yang unik banget: super ringkas, lugas, tapi sarat makna. Bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka, ucapan itu bisa langsung dipahami tanpa ada keraguan. Tapi bagi kita yang hidup belakangan, sering kali kita butuh "bedah makna" ekstra supaya bisa menangkap esensi mendalam di baliknya.
Salah satu contohnya adalah perkataan Imam Ahmad mengenai sebuah riwayat yang berbunyi,
فَخُذْ دُكَّانًا ، تَكُونُ جَنَازَةً ، يَكُونُ مَرِيضٌ
yang artinya, "Ambillah (bukalah) toko; (supaya jika) ada jenazah (kamu bisa melayat), atau ada orang sakit (kamu bisa menjenguk)."
Kalau dibaca sekilas, kesannya memang sederhana sekali, tapi maknanya ternyata sangat dalam terkait dengan etos kerja dan pengelolaan waktu ibadah.
Maksud dari Imam Ahmad adalah jika kita bekerja berdagang atau memiliki usaha mandiri untuk diri sendiri, kita akan memiliki keleluasaan waktu yang longgar untuk menyalatkan atau mengiringi jenazah serta menjenguk orang sakit. Dengan kendali penuh atas waktu tersebut, kita jadi lebih mudah untuk mengamalkan berbagai macam amal saleh dan ketaatan yang dianjurkan. Sebaliknya, jika status kita adalah seorang pekerja atau karyawan yang digaji oleh orang lain, maka kita tidak memiliki kebebasan tersebut karena waktu kita sudah disewa dan terikat oleh kontrak kerja. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawab di tengah-tengah waktu kerja demi melakukan ibadah-ibadah sunah, sehingga kesempatan untuk meraih pahala-pahala tersebut menjadi terbatas.
Catatan malam ini yang mengupas Kitab tentang Bekerja karya Imam Al-Khallal, yang diampu langsung oleh Ustadz Yuana Ryan Tresna di Ma'had Khadimus Sunnah Bandung
Barakallahu fiikum.