Senin, 13 Juli 2026

Asy'ariyah Mutaqaddimin dan Muta'akhirin

Asy'ariyah Mutaqaddimin dan Muta'akhirin

مَسائِلُ الصِّفاتِ مِن أَعظَمِ المَسائِلِ الَّتي خالَفَ فيها الأشاعِرةُ أهْلَ السُّنَّةِ والجَماعةِ، ومَنهَجُهم في هذا البابِ يَنْحَصِرُ إجْمالًا في إثْباتِ بعضِ الصِّفاتِ للهِ تَعالى إثْباتًا مُقارِبًا للسَّلَفِ مِن وَجْهٍ، ومُقارِبًا مِن وَجْهٍ آخَرَ للمُعْتَزِلةِ، وأمَّا في النَّفْيِ فقدْ سَلَكوا مَسلَكَ المُعْتَزِلةِ؛ حيث يُفَصِّلونَ في نَفْيِ صِفاتِ النَّقْصِ بأنَّه غَيْرُ جِسْمٍ ولا جَوْهَرٍ ولا مُتَحَيِّزٍ ولا مُرَكَّبٍ ولا قابِلٍ للتَّجْزئةِ، ونَحْوِ ذلك مِن الألْفاظِ المُحدَثةِ الَّتي لا يَجوزُ إطْلاقُها على اللهِ سُبْحانَه .

Permasalahan sifat Allah adalah salah satu masalah terbesar yang diselisihi oleh Asya'irah terhadap akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Manhaj Asya'irah dalam bab ini, secara global, dalam penetapan sifat mereka menetapkan hanya sebagian sifat Allah Ta'ala dengan metode penetapan yang dari satu sisi mendekati manhaj salafus shalih, namun dari sisi lain mendekati manhaj Mu'tazilah.

Adapun dalam penafian sifat, mereka murni menempuh manhaj Mu'tazilah. Yaitu mereka menafikan sifat-sifat Allah yang dianggap sifat yang kurang oleh mereka. Mereka mengatakan bahwa Allah bukanlah jism, bukanlah jauhar, bukan sesuatu yang menempati ruang (mutahayyiz), bukan sesuatu yang tersusun (murakkab), bukan pula sesuatu yang dapat dibagi-bagi (mutajazza'), dan istilah-istilah ilmu kalam lainnya yang semisal itu, yang sebenarnya tidak boleh digunakan untuk Allah Subḥanahu wa Ta'ala.

وأَثبَتَ مُتَقَدِّمو الأشاعِرةِ كَثيرًا مِن الصِّفاتِ الذَّاتيَّةِ والفِعْليَّةِ؛ كالاسْتِواءِ، والوَجْهِ، واليَدَينِ، والرَّحْمةِ، والسَّخَطِ، ونَحْوِ ذلك ، وإن كانَ بَعضُهم يُثبِتُها معَ تَفْويضِ مَعانيها كما تَقدَّمَ، وليس كما يُثبِتُها السَّلَفُ الصَّالِحُ على حَقيقتِها اللَّائِقةِ باللهِ سُبْحانَه، معَ تَفْويضِ كَيْفِيَّاتِها ، وأمَّا الأشاعِرةُ المُتَأخِّرونَ فالمُعْتمَدُ عنْدَهم إثْباتُ سَبْعِ صِفاتٍ سَمَّوها صِفاتِ المَعاني، وهي: العِلمُ، والقُدْرةُ، والإرادةُ، والحَياةُ، والكَلامُ، والسَّمْعُ، والبَصَرُ، وبعضُهم يُثبِتُ صِفةَ الإدْراكِ

Para ulama Asy'ariyah mutaqaddimun menetapkan banyak sifat dzatiyyah dan fi'liyyah, seperti sifat istiwa' di atas 'Arsy, wajah, dua tangan, rahmat, murka, dan sifat-sifat lainnya. Hanya saja, sebagian dari mereka menetapkannya dengan tafwidh ma'na, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Cara ini tidak sebagaimana manhaj salafus salih, yang menetapkan sifat-sifat tersebut sesuai hakikatnya yang layak bagi Allah Subḥanahu wa Ta'ala, disertai dengan tafwidh kaifiyah, bukan tafwidh ma'na.

Adapun Asy'ariyah muta'akhkhirun, maka pendapat yang menjadi pegangan mereka adalah menetapkan 7 sifat yang mereka sebut sebagai sifat al-ma'ani, yaitu:

1. ilmu,
2. qudrah (kekuasaan),
3. iradah (kehendak),
4. hayat (hidup),
5. kalam (berfirman),
6. sam'u (mendengar),
7. bashar (melihat).

Sebagian dari mereka juga menetapkan sifat idrak (mengetahui atau menyadari secara langsung).

(Mausu'ah al-Firaq Durarus Saniyyah, link: https://dorar.net/frq/233)