Ustadz tampan, santun, ramah, rapi dan murah senyum.
Ampun deh, maju kena, mundurpun kena.
Gini salah, gitu salah.
Nabi Yusuf 'alaihi sallam sangat tampan rupawan, infonya ketampanan beliau setara dengan separuh ketampanan seluruh manusia di dunia....andai ketampanan semua manusia di zaman beliau digabungkan, maka separuhnya ada pada Nabi Yusuf 'alaihissalam.
Wajar bila wanita wanita zaman beliau berkata:
Maha suci Allah, ia bukan manusia namun ia adalah malaikat yang mulia.
Nabi Yusuf 'alaihissalam diperkarakan oleh sebagian pejabat dan sebagian orang di zamannya gara gara ketampanannya, sehingga beliau harus mendekam di penjara untuk beberapa lama.
Kajian sejenis terjadi pada seorang pemuda di era Khalifah Umar bin Al Khatthab radhiallahu 'anhu. Ada seorang pemuda bernama Naser bin Hajjaj bin 'Ulath. Ketampanannya menjadikan sebagian wanita serasa tak kuat menahan rasa terpesona, sehingga sebagian mereka di tengah malam mengekspresikan rasa terpesonanya kepada Naser bin hajjaj dengan bersenandung:
هل من سبيل إلى خمر فأشربها * أم هل سبيل إلى نصر بن حجاج
Adakah alasan bagiku agar bisa meneguk khamer
atau adakah jalan bagiku tuk bersatu dengan naser bin Hajjaj.
Mendengar senandung wanita ini, segera Umar bin Al Khatthab memanggil Naser bin Hajjaj. Setiba di hadapannya, beliau menyaksikan seorang pemuda yang sangat tampan wajahnya dan rambut yang indah.
Segera Umar memerintahkan agar rambut Nasher digundul, dengan harapan ketampanannya berkurang sehingga para wnaita tidak lagi tergoda oleh ketampanannya.
Setelah gundul, bukannya berkurang ketampanannya, Nasher semakin nampak tampan alias bertambah imut imut, sehingga sebagian wanita kembali mengutarakan perasaan mereka dalam senandung bait syair:
حلقوا رأسه ليزداد قبحا ... غيرة منهم عليه وشحا
كان قبل الحلاق صبحاً وليلا ... فمحوا ليله وأبقوه صبحا وقال:
Mereka mencukur kepalanya agar nampak jelek ...
mereka melakukannya karena cemburu kepadanya dan pelit.
Sebelum digundul, ia bagaikan pagi dan malam ...
Setelah mereka menghapus malamnya maka ia bak pagi selalu terang.
Mengetahui kondisi ini, Umar memerintahkan nasher untuk mengenakan imamah, dan menutup wajahnya... namun demikian, ternyata matanya yang indah, tetap menjadikan sebagian wanita tergoda.
Wong ganteng ya ganteng walau berpakaian compang camping, rambut digundul atau lainnya, apalagi bila dibalut dengan pakaian yang rapi, mengenakan wewangian yang harum, ya jelas saja bertambah gimana gitu.
Lalu salahkah orang yang diciptakan ganteng dan senang dengan pakaian yang rapi dan hobi menggunakan parfum yang semerbak harum?
Ya jelas tidak salah sih, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقالُ ذرة من كبر)). قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله حسنةً. قال: ((إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس)) رواه مسلم.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini termasuk sombong?). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” (Muslim)
Mengetahui bahwa menggundul Naser, demikian pula imamah tidak bisa menutupi ketampanan Nasher, maka Khalifah Umar radhiallahu 'anhu memutuskan untuk memindahkan Nasher bin Al Hajjaj ke kota basrah, agar wanita wanita madinah tidak tergoda dengan ketampanannya.
Beliau membekali Nasher dengan uang, dan memberinya sebidang tanah yang luas agar Nasher bin Al Hajjaj bisa hidup layak di kota Basrah.
Namun apakah ketampanannya jadi pudar ketika berpindah ke Basrah, sehingga wanita wanita tidak tergoda dengannya?
Sekali tampan ya tetap tampan, imut imut ya imut imut di manapun ia berada.
Setelah menetap di kota Basrah, problem serupa juga terjadi, sebagian wanita kota Bashrah tak kuat Iman, sehingga ndak tahan melihat ketampanan Nasher bin Al Hajjaj.
Pendek cerita, di kota bashrah, Nasher dijamu oleh seorang pejabat bernama Mujasyi' bin Mas'ud, yang kebetulan beristrikan seorang gadis cantik rupawan, bagaikan "tumbu ketemu tutup" , pandangan pertama keduanya bagaikan panah beracun yang menancap di hati keduanya.
Tak kuat menahan rasa Nasher bin Hajaj menulis di lantai rumah Mujasyi' satu kata: I love you (tentunya dalam bahasa arab). Ia melakukan ini karena mengetahu Mujasyi sang tuan rumah tidak bisa buta huruf, sedangkan sang istri bisa membaca.
Membaca tulisan itu, tak kuasa menahan rasa, sang istri merespon dengan berkata: me too.
Mendengar ucapan istrinya, Mujasyi' heran, dan berusaha bertanya maksud ucapannya, namun istrinya berusaha menutup nutipnya.
Semual Mujasyi' percaya dengan jawaban sang istri, namun betapa terkejutnya beliau karena melihat ada tulisan Nasher di lantai rumahnya. Segera ia memanggil salah saorang pelayannya dan memintanya untuk membacakan tulisan itu, dan ternyata berbunyikan: i love you.
Tanpa pikir panjjang, Mujasyi' segera menceraikan istrinya, dan mempersilahkan kepada nasher untuk menikahinya bila masa iddahnya telah berlalu. Mungkin beliau sadar diri, bahwa kejadian ini berawal dari keputusannya mengizinkan nasher untuk datang ke rumahnya dan mengizinkan istrinya untuk turut menyambut kedatangannya, sehingga beliau tidak menimpakan petaka ini kepada orang lain, namun menganggapnya sebagai konsekwensi langsung atas kesalahan sikapnya.
Makanya jangan sembarangan ngajak sahabat yang tampan rupawan ke rumah, atau sahabat yang cantik jelita ke rumah.... bisa bahaya.
Kondisi wanita di Bashrah ternyata berbeda dengan wanita di Madinah, walau tergoda dengan ketampanan Nasher, wanita kota Madinah tetap bisa menahan diri mereka, keterpesoan mereka hanya diungkapkan dalam kata kata tidak berlanjut menjadi aksi, sebagaimana tergambar pada bait syair mereka berikut ini:
إِنَّ الْهَوى زَمَّهُ التَّقْوَى وَقَيَّدَهُ
حَتَّى أَقَرَّ بِإِلْجامٍ وَإِسْراجِ
Hasrat itu bak kuda yang dibelenggu oleh taqwa dan terikat;
hingga hasratpun tunduk pada kendali dan pelana.
So! Di setiap zaman urusan tergoda oleh ketampanan dan kecantikan itu selalu ada, solusinya bukan mencela ketampanan atau kecantikan, namun menumbuhkan ketakwaan yang dapat mengekang hasrat dan godaan.
So! yang salah tuh yang gagal mengendalikan perasaannya bukan yang berwajah tampan atau cantik jelita, karena itu karunia yang harus disyukuri.... walaupun mbok yo pengertian dikit gitu, kalau sadar diri tampannya itu kelewatan, mbok yo berkenan mundur sedikit gitu, dan yang cantiknya tuh kelewatan, mbok yo berkenan mundur sedikit agar orang lain ndak gugur karena panah liar yang melesat tanpa ada yang melesatkannya.
Ealah dongeng ini dari mana sumbernya?
Saya rangkum dari beberapa riwayat yang dibawakan dalam kitab Tarikh Dimasq oleh Ibnu 'Asakir.
Semoga bermanfaat, menemani istirahat anda di akhir pekan.
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma