Sepenggal Faidah Dauroh Rodja: Abu Zur'ah Ar-Razi: Ketika Seorang Ahli Hadis Merindukan Pertemuan dengan Rabbnya
Diantara faidah yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairy -hafidzahullah- adalah kisah Abu Zur'ah Ar-Razi. Nama yang tidak hanya dikenang karena ilmunya, tetapi juga karena indahnya akhir kehidupan mereka.
Namanya adalah Al-Imam Al-Hafizh Abu Zur'ah Ar-Razi, 'Ubaidullah bin 'Abdul Karim Ar-Razi, seorang ulama besar dari kota Rayy. Kota itu adalah Teheran, Iran dimasa sekarang ini.
Umurnya dihabiskan untuk satu kemuliaan: menjaga warisan Rasulullah ﷺ. Hari-harinya berlalu bersama sanad, matan, perjalanan mencari ilmu, dan hafalan yang memenuhi dadanya.
Orang-orang takjub kepada hafalannya. Sampai-sampai pernah ada seorang lelaki yang bersumpah dengan talak, bahwa Abu Zur'ah menghafal dua ratus ribu hadis. Ketika hal itu ditanyakan kepada beliau, Abu Zur'ah menjawab dengan tenang,
"Ia tidak melanggar sumpahnya, istrinya tidak tertalak. Aku memang menghafal dua ratus ribu hadis sebagaimana salah seorang dari kalian menghafal surat Qul Huwallāhu Aḥad. Bahkan ketika bermudzakarah, hafalanku mencapai tiga ratus ribu hadis."
Betapa luar biasanya hafalan itu. Namun ternyata, yang membuat Abu Zur'ah dikenang sepanjang zaman bukanlah angka dua ratus ribu, bukan pula tiga ratus ribu saja.
Yang membuat air mata ini jatuh adalah detik-detik terakhir kehidupannya. Beliau meninggal terkena thaun.
Ketika sakitnya semakin berat dan ajal telah mendekat, para murid dan sahabat duduk mengelilinginya. Mereka ingin mentalqinkan kalimat Lā ilāha illallāh. Akan tetapi, siapa yang berani mengajarkan kalimat tauhid kepada seorang imam yang seumur hidupnya mengajarkan sabda Rasulullah ﷺ?
Mereka pun memilih jalan yang penuh adab.
Mereka mulai bertanya sanad hadis tentang keutamaan orang yang akhir ucapannya adalah Lā ilāha illallāh kepada gurunya.
Tubuh Abu Zur'ah telah lemah.
Napasnya hampir terputus.
Namun hafalan yang ia jaga puluhan tahun itu tidak pernah meninggalkannya.
Dengan sisa tenaga yang ada, beliau menyambung sanad tersebut hingga lengkap, lalu mengucapkan sabda Rasulullah ﷺ:
«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
"Barang siapa yang akhir ucapannya adalah 'Lā ilāha illallāh', niscaya ia masuk surga."
Beliau mengucapkannya...
Lalu ruhnya terbang meninggalkan dunia.......
Seakan Allah menakdirkan, bahwa hadis yang paling lama beliau ajarkan menjadi hadis terakhir yang keluar dari lisannya.
Lalu sebelumya pernah terucap sebuah kalimat yang menggambarkan seluruh isi hatinya.
أنا أشتاق إلى ربي.
"Aku merindukan Rabbku."
Mereka bertanya,
بِمَ؟
"Dengan bekal apa engkau berharap bertemu dengan-Nya?"
Beliau menjawab,
برحمته.
"Dengan rahmat-Nya."
Lihatlah...
Seorang yang hafal ratusan ribu hadis tidak berkata, "Dengan ilmuku."
Tidak pula berkata, "Dengan hafalanku."
Tidak juga berkata, "Dengan amal dan pengorbananku."
Tetapi beliau berkata,
"Dengan rahmat-Nya."
Begitulah hati para ulama.
Semakin tinggi ilmu mereka, semakin mereka merasa kecil di hadapan Allah.
Semakin banyak amal mereka, semakin besar harapan mereka kepada rahmat-Nya.
Ia gabungkan dua hal, yaitu tidak ujub dengan amal, dan husnudzon kepada Rabbnya.
Ya Allah...
Anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, lisan yang senantiasa mengingat-Mu, dan akhir kehidupan yang seindah akhir kehidupan para pewaris Nabi.
اللهم اختم لنا بخير، واجعل آخر كلامنا من الدنيا: لا إله إلا الله.
Dika Wahyudi
10 juli 2026
25 Muharram 1448 H