KENAPA SAUDI YANG DISALAHKAN ATAS JATUHNYA TURKI UTSMANI?
-----
Dalam berbagai narasi tentang runtuhnya Turki Utsmani, Arab Saudi kerap dijadikan sasaran tuduhan sebagai pihak yang "mengkhianati" Khilafah.
Daniel Haq dan yang semisal selalu menyudutkan Arab Saudi atas runtuhnya Turki Utsmani dan anehnya jarang atau tidak pernah menyinggung-nyinggung keluarga Syarif Husein yang secara terang-terangan bekerjasama dengan Inggris untuk memerangi Turki dan kabilah Arab loyalis Turki.
Yang berperang melawan Turki Utsmani dalam Pemberontakan Arab pada Perang Dunia I bukanlah Dinasti Saud, melainkan keluarga Syarif Makkah yang dipimpin Syarif Hussein dan putranya, Amir Faisal, dengan dukungan Inggris.
Saya sendiri tidak 100 persen menyalahkan pemberontakan Syarif Husein. Masalahnya kompleks.
Di penghujung era Utsmani, pemerintahan telah didominasi oleh gerakan nasionalis Turki yang cenderung sekuler. Ini pergeseran politik yang menjadi salah satu pemicu ketegangan antara pusat kekuasaan di Istanbul dan para pemimpin Arab di Hijaz.
Keluarga Saud kemana?
Ibn Saud lebih banyak memusatkan perhatiannya pada konflik melawan para rival mereka suku-suku Arab di Najd dan sekitarnya.
Justru Amir Faisal, putranya Syarif Huseinlah yanh menandatangani Perjanjian Faisal–Weizmann (1919) dengan Chaim Weizmann yang menyatakan dukungan terhadap kerja sama Arab–Yahudi..
Benar, yang anda baca tidak salah. Coba googling "Faisal-Weizmann Agreement" atau dalam bahasa Arab اتفاقية فيصل وايزمان
Di antara bunyi perjanjiannya:
His Royal Highness the Emir Feisal, representing and acting on behalf of the Arab Kingdom of Hedjaz, and Dr. Chaim Weizmann, representing and acting on behalf of the Zionist Organization, mindful of the racial kinship and ancient bonds existing between the Arabs and the Jewish people.
Terjemahnnya:
Yang Mulia Amir Faisal, yang mewakili dan bertindak atas nama Kerajaan Arab Hijaz, dan Dr. Chaim Weizmann, yang mewakili dan bertindak atas nama Organisasi Zionis, dengan menyadari adanya kedekatan etnik (ras) dan ikatan-ikatan kuno yang telah lama terjalin antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi.
Di masa itu, sampai berkuasa di seluruh wilayahnya sekarang, Dinasti Saud tidak ikut dalam Pemberontakan Arab melawan Utsmani sama sekali dan juga tidak menjalin kerja sama politik dengan gerakan Zionis sebagaimana yang dilakukan Amir Faisal melalui Perjanjian Faisal–Weizmann.
Setelah Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan Turki, Ibn Saud kemudian menaklukkan Kerajaan Hijaz yang diperintah keluarga Syarif Husein pada 1924–1925.
Sebelumnya, wilayah kekuasaan Dinasti Saud berpusat di Najd, sedangkan Hijaz masih berada di bawah pemerintahan keluarga Syarif. Penaklukan Hijaz inilah yang kemudian menjadi salah satu tahap penting dalam terbentuknya Kerajaan Arab Saudi modern.
Dengan kronologi ini, menjadi jelas bahwa tuduhan "pengkhianatan terhadap Khilafah" yang selama ini dialamatkan ke Arab Saudi sebenarnya lebih tepat ditujukan pada peran historis keluarga Syarif Husein — bukan Dinasti Saud, yang justru baru menguasai Hijaz setelah keruntuhan Utsmani dan pemberontakan tersebut selesai.
Jadi kenapa mereka yang disalahkan?
----
Wira Bachrun, pengajar sejarah Islam di ANB Channel.
Keterangan foto ada di komentar.