Senin, 13 Juli 2026

Hukum Shalat Jenazah di Kuburan

Hukum Shalat Jenazah di Kuburan

Oleh : Ngaji Turats 

Permasalahan: 

Tidak semua orang dapat mengikuti shalat jenazah sebelum mayat dimakamkan. Terkadang karena jarak yang jauh, baru mendapat kabar setelah pemakaman selesai, atau karena adanya uzur tertentu, seseorang tidak sempat menyalatkan jenazah.

Karena memiliki hubungan dekat dengan almarhum, ia kemudian ingin melaksanakan shalat jenazah di atas kuburnya.

Pertanyaan : 

Apakah boleh dan sah melaksanakan shalat jenazah di atas kuburan? Jika boleh, apakah ada syarat-syaratnya?

Jawaban : 

Pada dasarnya, shalat jenazah di atas kubur hukumnya boleh dan sah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyalatkan seseorang di atas kuburnya setelah ia dimakamkan.

Imam Taqiyuddin Al-Hishni menjelaskan dalam Kifayatul Akhyar hal: 209

«ولو صلى على من مات في يومه وغسل صح. قاله الروياني. ولو صلى على من دفن، صحت صلاته، لأنه عليه الصلاة والسلام صلى على قبر بعدما دفن. رواه الشيخان، زاد الدارقطني: بعد شهر. والله أعلم.»

Artinya:

"Apabila seseorang menyalatkan jenazah yang meninggal pada hari itu dan telah dimandikan, maka shalatnya sah. Demikian dikatakan oleh Imam Ar-Ruyani. Demikian pula apabila seseorang menyalatkan jenazah yang telah dimakamkan, maka shalatnya tetap sah, karena Rasulullah ﷺ pernah menyalatkan seseorang di atas kuburnya setelah dimakamkan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Dalam riwayat Imam ad-Daraquthni disebutkan: setelah satu bulan."

Akan tetapi, kebolehan tersebut memiliki beberapa syarat.

Pertama, jenazah yang dishalatkan bukan jenazah para nabi. Oleh karena itu, tidak sah melaksanakan shalat jenazah di atas kubur para nabi,

Hal ini dijelaskan dalam kitab I'anatut Thalibin jilid: 2, hal: 1011 cet, Darussalam : 

«فلا تصح على قبر نبي، أي: لخبر: لعن الله اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد، أي: بصلاتهم إليها.»

Artinya:

"Tidak sah melaksanakan shalat jenazah di atas kubur seorang nabi, berdasarkan hadis: 'Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid,' yakni dengan melaksanakan shalat menghadap ke kuburan tersebut."

Kedua, orang yang melaksanakan shalat jenazah di kuburan harus termasuk orang yang ketika mayat meninggal memang telah terkena kewajiban menshalatinya. Artinya, pada saat kematian mayat ia telah berstatus Muslim, mukallaf, dan suci dari haid maupun nifas.

Syekh Zainuddin Al-Malibari berkata dalam Fathul Mu'in:

«(و) تصح على حاضر (مدفون) ولو بعد بلائه (غير نبي) فلا تصح على قبر نبي لخبر الشيخين (من أهل فرضها وقت موته) فلا تصح من كافر وحائض يومئذ كمن بلغ أو أفاق بعد الموت ولو قبل الغسل كما اقتضاه كلام الشيخين.»

Artinya:

"Shalat jenazah sah dilakukan terhadap mayat yang telah dimakamkan, meskipun jasadnya telah hancur, selama bukan jenazah seorang nabi. Adapun shalat jenazah di atas kubur seorang nabi tidak sah berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim. Shalat tersebut hanya sah dilakukan oleh orang yang pada saat mayat meninggal termasuk orang yang terkena kewajiban menshalatinya. Oleh karena itu, tidak sah dilakukan oleh orang kafir, perempuan yang sedang haid ketika mayat meninggal, atau orang yang baru baligh maupun baru sembuh dari gila setelah kematian mayat, meskipun hal itu terjadi sebelum jenazah dimandikan."

Penjelasan tersebut diterangkan kembali oleh Syekh Abu Bakar Syatha dalam I'anatut Thalibin: hal: 1012

«قوله (من أهل فرضها وقت موته) أي تصح الصلاة على الميت الغائب وعلى الحاضر المدفون إن كان من يريد الصلاة من أهل أداء فرضها وقت الموت بأن يكون حينئذ مسلما مكلفا طاهرا لأنه يؤدي فرضا خوطب به.»

Artinya:

"Yang dimaksud dengan 'termasuk orang yang terkena kewajiban menshalatinya saat kematian mayat' adalah bahwa shalat jenazah terhadap mayat ghaib maupun mayat yang telah dimakamkan hanya sah apabila orang yang menyalatkannya ketika mayat meninggal telah berstatus Muslim, mukallaf, dan suci (dari haid dan nifas), karena ia sedang melaksanakan kewajiban yang memang telah dibebankan kepadanya."

Kesimpulan

- Shalat jenazah di atas kubur hukumnya boleh dan sah.

- Dasarnya adalah Rasulullah saw pernah menyalatkan seseorang setelah dimakamkan, bahkan dalam riwayat ad-Daraquthni disebutkan setelah satu bulan.

- Shalat tersebut tidak sah apabila dilakukan di atas kubur para nabi.

- Orang yang menyalatkannya harus termasuk orang yang ketika mayat meninggal telah terkena kewajiban menshalatinya, yaitu telah berstatus Muslim, mukallaf, dan suci dari haid maupun nifas.

Wallohu a'lam.

📚 Kifayatul Akhyar, I'anatut Thalibin
#Ngaji