Senin, 13 Juli 2026

[SALAH PAHAM STANDAR KEBERHASILAN DAKWAH ]

SEBERKAS CATATAN LIQA MAFTUH DALAM DAUROH RODJA BERSAMA SYAIKH ABDUL MALIK RAMADHANI AL-JAZAIRI

[SALAH PAHAM STANDAR KEBERHASILAN DAKWAH ]

Pertanyaan: 
"Wahai Syaikh yang mulia -semoga Allah menjaga anda-, apa standar keberhasilan dalam dakwah kepada Allah. Dan kapan seorang da'i dianggap berhasil dalam dakwahnya?"

Jawaban: 
“Jangan sampai Anda salah memahami makna keberhasilan. Sebagian orang menganggap keberhasilan adalah tercapainya tujuan pada diri mad’u (objek dakwah), yaitu ketika manusia menerima dakwahnya. Jika pemahaman ini diterima, maka dikhawatirkan akan dikatakan bahwa seorang Nabi yang berdakwah kepada Allah namun tidak memiliki seorang pengikut pun berarti gagal dalam dakwahnya —kita memohon keselamatan kepada Allah ﷻ dari pemahaman seperti ini—. Tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan demikian.

Keberhasilan dalam dakwah kepada Allah ﷻ adalah dengan berdakwah sesuai dengan metode yang diperintahkan, dan engkau teguh di atasnya dan tidak berubah. Inilah da'i yang berhasil. 

Adapun orang yang berdakwah kepada Allah dengan tanpa mengikuti metode Nabi ﷺ -yakni dia berdakwah, akan tetapi menyelisihi firman-Nya:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah ini adalah jalanku, aku berdakwah kepada Allah di atas bashirah ilmu, jalanku dan orang yang mengikutiku. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." QS. Yusuf: 108

Maka da'i tersebut tidaklah mengikuti Nabi ﷺ dalam dakwahnya. Orang seperti ini tidak bisa dikatakan berhasil alias gagal. 

Demikian pula orang yang awalnya dia berdakwah dengan metode Nabi ﷺ, namun ketika melihat manusia tidak menerima dakwahnya, ia merubah metode tersebut. inilah dilakukan oleh para tukang kisah, harakiyyun, dan selain mereka. Setiap hari muncul  warna baru dalam dakwah yang mereka buat-buat. Mengapa? Karena mereka tidak sabar berdakwah dengan metode Nabawi. 

Metode ini memang melelahkan, butuh kesabaran dan keuletan yang mereka tidak sanggupi. Mereka menginginkan jalan yang mudah-mudah saja. Mereka mengkomtemporisasi dakwah sesuai dengan khayalan-khayalan mereka. Setiap saat mereka menciptakan metode-metode baru. 

Awalnya mereka berdakwah dengan Al-Qur'an, kemudian meninggalkannya karena dianggap tidak berhasil.  Lalu mereka rubah dengan nasyid. Mereka bernyanyi-nyanyi di hadapan manusia agar masuk Islam. Ketika berdakwah kepada Allah dengan ayat dan hadits tidak mendatangkan banyak pengikut, mereka menggantinya dengan sandiwara dan drama. Mereka katakan: "inilah dakwah kepada Allah."

Seandainya hal itu baik,  tentu Rasulullah ﷺ sudah mendahului mereka. Rasulullah ﷺ bukanlah aktor, bukan pemain drama, atau pelantun nasyid. Sekali-kali tidak! Rasulullah ﷺ berdakwah kepada Allah ﷻ. 

Pernah sebagian pembesar Qurasy mendatangi beliau dan berkata: 
"Wahai Muhammad, kalau engkau menginginkan harta, kami akan berikan dari harta terbaik kami. Kalau engkau menginginkan wanita, maka kami akan pilihkan wanita terbaik dan nikahkan engkau dengannya. Kalau engkau menginginkan kekuasaan, kami akan jadikan engkau raja." 

Maka Nabi - berkata: "kalian sudah selesai?" 

Mereka menjawab: "sudah."
Maka Nabi membacakan beberapa ayat Al-Qur'an, 

حم ۝ تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
"Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” QS. Fushshilat: 1-2

Dan beliau membacakan beberapa ayat dari surat ini yang berisi tentang tauhid. 

Subhanallah, mereka (para harakiyyun) berada pada satu sisi, Nabi berada pada sisi yang lainnya. Nabi tidak pernah merubah metode dakwahnya. Tidak pernah berfikir: "Iya, benar. Aku akan meminta mereka menjadikan aku raja. Ketika aku sudah menjadi raja, aku akan paksa mereka masuk Islam, sukarela atau terpaksa. Hal ini sebagaimana pemikiran harakiyyyun, padahal Nabi tidak pernah berfikir seperti itu ﷺ. 

Nabi Ingin mengeluarkan setan dari hati-hati mereka, dan setan terbesar adalah setan kesyirikan.Beliau membacakan ayat ini agar mereka bertauhid dan beriman. Inilah metode yang benar.

Kemudian, sampailah beliau membaca firman Allah ﷻ: 

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
"Apabila mereka berpaling, maka katakanlah aku peringatkan kalian adzab, seperti adzab yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud." QS. Fushshilat: 13

Maka orang musyrik mengatakan: cukup! Diamlah!

Mereka mengetahui bahwa ketika Nabi ﷺ berbicara satu kalimat maka akan benar-benar terjadi. Subhanallah! Mereka mengetahui bahwa Nabi di atas kebenaran. Mereka takut apabila Nabi ﷺ mengucapkan hal ini, Allah akan turunkan Adzab. Mereka berkata: "jangan lanjutkan ayat ini...!"

Pelajaran dari kisah hal ini adalah bahwa dai' yang berhasil adalah orang yang sabar dalam menempuh metode dakwah Nabi dan tidak merubahnya sampai ia bertemu Allah. Apakah yang menjadi pengikutmu satu orang, atau satu juta orang, hal ini tidak menjadi penting bagimu. 

Sekarang manusia berkata: "Followers Ustadz fulan ribuan, dan dikalahkan oleh ustadz fulan lain yang followersnya jutaan."

 Perkataan macam apa ini wahai sudaraku?!!! Ini adalah dakwah kepada Allah!! (maksudnya ini adalah dakwah kepada Allah, kenapa bisa diperbuat semacam ini, -pent.) Ini adalah riya!! Ini mencari sum'ah dari manusia!! 
Dan Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ

"Barang siapa yang namanya ingin diperdengarkan oleh manusia, Allah akan perdengarkan aibnya"

Pada hari kiamat Allah akan bongkar dihadapan manusia -Kita mohon kepada Allah keselamatan-.  Ini adalah riya wahai saudaraku, janganlah engkau pentingkan hal semacam ini. 

Ada orang berdakwah kepada Allah, kemudian di Medsos ia berusaha menarik manusia. Bahkan pernah diceritakan kepadaku bahwa ada sebagian manusia yang membuat konten dakwah umum, walaupun kepada non muslim. Jika telah terkumpul sejumlah besar penonton di you tube atau selainnya, mereka memberinya uang. Maka da'i tersebut seakan akan adalah hamba uang. Ia membuat konten dakwah untuk mendapatkan uang. Orang ini telah rusak agamanya, Allah berfirman:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ
"Aku tidak meminta upah kepada kaliam atas dakwah ini, sesungguhnya upahku hanyalah dari Allah."

Kemana ayat ini dihadapan perbuatan semacam ini??!!

 Oleh karena itu, jangan pentingkan banyaknya pengikut. Berdakwahlah mengajak kepada Allah ﷻ. Karena terkadang -سبحان الله العظيم- engkau hanya  berdakwah kepada 10 orang, maka Allah pilih dari mereka  2 atau 3 orang murid terbaikmu. Dan 1 dari 3 muridmu tersebut, bisa berhasil seperti ibnu Taimiyyah pada zamannya bahkan sampai kepada zamanmu ini- karena orang ini (Syaikhul Islam) adalah Imam bagi seluruh generasi-.

Syaikhul Islam tidak mengetahui (bahwa ia akan menjadi Imam Besar). Beliau sudah wafat di kuburnya -semoga Allah merahmatinya-. Dia tidak mengetahui bagaimana penerimaan terhadap dirinya sepeninggal kematiannya. Akan tetapi Allahlah yang menetapkan baginya penerimaan dihati manusia. 

Semua universitas, baik Islam maupun non Islam, menukil perkataannya. Semua akademisi menukil darinya, karena dia adalah tokoh besar. Sampai-sampai para peneliti mengatakan: "akalnya bukan akal manusia biasa. Allah kumpulkan pada akalnya berbagai hal yang tidak mungkin disimpan kecuali pada otak ratusan manusia." 

Bisa jadi Allah ﷻ pilihkan murid untukmu satu orang. Dan muridmu ini satu berbanding seribu. Dan sebaliknya seribu orang , tapi tidak berharga. Wallahul mustaan. 

Dika Wahyudi
Kawarang, 12 juli 2026
27 Muharram 1448 H