Rabu, 15 Juli 2026

Ini tulisan yg sangat indah, tulisan kakak kelas saya yg saya tau keilmuan dan ketinggian adab beliau wala uzakki Alallah ahada, beliau Ustad Dr. Muhtar Arifin hafizhahullah…

BACA!

Ini tulisan yg sangat indah, tulisan kakak kelas saya yg saya tau keilmuan dan ketinggian adab beliau wala uzakki Alallah ahada, beliau Ustad Dr. Muhtar Arifin hafizhahullah…

========

DARI GUDANG MATERIAL MENUJU MEJELIS ILMU: 
AWAL SEBUAH PENGEMBARAAN RUHANI

Tahun 2000 M... 26 tahun yang lalu. Dulu, saya - hamba yang lemah ini - berdiri di ujung jalan.  
Di belakang saya: Asrama PAY Muhammadiyah Muntilan, tempat Allah Ta'ala melapangkan langkah saya di SMU Muhammadiyah 1.  
Di depan saya: Dua pintu takdir.  
- *Pintu kanan:* Kuliah. Tapi mimpi itu terlalu mahal untuk keadaan saya yang serba terbatas.  
- *Pintu kiri:* Menjadi pelayan toko bangunan. Langsung kerja tanpa melamar yang ditawarkan seorang saudara. Tangan saya siap bertaburkan semen. Punggung saya siap bekerja keras memikul besi dan perlengkapannya.

Demi Allah... andai langit saat itu tidak ikut campur, mungkin sampai hari ini, yang saya buka bukan kitab, tapi sak semen. Yang saya hitung bukan lembaran-lembaran tulisan para ulama, tetapi paku-paku yang siap ditancapkan.

Tapi Allah... Dia Maha Indah dalam menata cerita hamba-Nya. Allah Ta'ala kirimkan seorang hamba-Nya: Ustadz Muhammad Wujud hafizhahullah. Beliau tidak hanya menunjuk arah. Beliau turun, menggenggam tangan saya yang gemetar, dan berkata tanpa suara secara langsung: “Ikut saya ke majelis ilmu.”

Bersama Ustadz Marsin hafidzahullah, beliau menuntun saya keluar dari tawaran gemuruhnya besi, semen dan debu... menuju sunyi dan tenangnya cahaya majelis ilmu: Ma’had ‘Ali Al-Irsyad Surabaya, yang kini menjadi STAI Ali bin Abi Thalib. Di sanalah saya duduk bersimpuh... di antara para pelita yang mulia:  
Ustadz Abdurrahman At-Tamimi, Ustadz Mubarak Bamu’allim, Ustadz Salim Ghanim, Ustadz Arif Sulistiyono _hafizhahumullah jami'an_, dan Ustadz Husnul Yaqin _rahimahullah_. Mereka menabur huruf di atas papan hati saya yang gersang. Meski saya tahu... saya murid yang tak sanggup menyerap seratus persen cahaya mereka, tapi mereka tetap sabar.

Imam Syafi’i _rahimahullah_ pernah berkata:  
لولا مالك ما تفقهت  
_"Seandainya bukan karena (Imam) Malik... niscaya saya tidak akan paham agama."_ (_Al-Amali Asy-Syarihah Li Mufradatil Fatihah,_ karya Ar-Rafi’i, tahqiq Wail Muhammad (hlm. 381).

Saya pun ikut terharu dengan atsar tersebut, dan berkata dengan suara yang terpatah-patah:  
_“Seandainya bukan karena Allah, lalu jasa Ustadz Wujud hafizhahullah... Niscaya saya tak akan kenal tafaqquh fiddin.”_

Bahkan mungkin, hingga detik ini, saya masih berdiri di balik rak semen sebagai pelayan toko bangunan.

Demi Allah, ini bukan untuk merendahkan.  
Pelayan toko bangunan itu mulia.  
Tanpa semen mereka, tak ada masjid untuk sujud.  
Tanpa besi mereka, tak ada bangunan ma’had untuk mengaji.  
Tanpa peluh mereka, ilmu tak punya atap. Tapi ini... adalah tahadduts bin ni’mah.  
Ini tangis saya menceritakan nikmat, agar sujud saya tidak kering. Sebagaimana kata penyair itu dalam Ha-iyyahnya:  
فَتَشَبَّهُوْا ‌إِنْ ‌لَمْ ‌تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلاَحُ  
_"Maka menyerupailah... meski tak akan pernah sama. Karena menyerupai orang mulia, itu sudah kemenangan."_ (_Irsyadul Arib Ila Ma'rifatil Adib (Mu'jamul Udaba')_ (VI/2808)

Ustadzku... Ayahku dalam ilmu... Jazakallahu ‘anni khairal jaza’.  
Demi Allah, saya tak bisa membalas satu pun tetes keringatmu dalam mengantarkanku sampai ke gerbang LIPIA. Maka Ya Allah... Balaslah beliau dengan rumah di Surga yang pintunya terbuat dari setiap huruf yang pernah saya baca karena sebab beliau.  
Jadikan setiap faidah yang merasuk ke dada saya, menjadi gunung pahala di timbangan beliau, sampai Kiamat tiba. Amin.
Ustadz fadlan fahamsyah