Rabu, 15 Juli 2026

Unaizah (kotanya syaikh Ibnu 'Utsaimiin, rahimahullaah).

Repost tulisan 12 tahun yang lalu...
######################

Alhamdulillah, beberapa tahun yang lalu saya sempat main ke 'Unaizah (kotanya syaikh Ibnu 'Utsaimiin, rahimahullaah). Sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi kota "santri" ini. Bedanya, kunjungan kali itu lebih spesial dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Kala itu, saya dibawa oleh seorang murid syaikh Ibnu 'Utsaimiin untuk melihat rumah tinggal yang dulu pernah ditempati oleh faqiih negeri Al-Haramain ini. Setelah diberitahu bahwa itu adalah rumahnya syaikh Ibnu 'Utsaimiin, saya melihat dengan tatapan kekaguman. Padahal rumahnya seperti rumah kebanyakan. Tak tampak mencolok dengan rumah-rumah sekitarnya, baik dari segi arsitekturnya maupun warnanya. Akan tetapi karena syaikh Ibnu 'Utsaimiin nya lah yang membuat saya sedikit "terkesima" memandang bangunan rumah itu.

Hari ini, saya melewati sebuah tempat yang sebenarnya sejak lama sudah sering saya lewati. Tepatnya, di kabupaten Al-Hariiq. Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan kawasan "strategis" tersebut. Secara tidak sengaja saya membaca papan nama yang terpampang besar di pintu gerbang kawasan tersebut. Betapa hal itu membuat mata saya sedikit "terbelalak". Saya pun membacanya dengan seksama:

قاعدة الصواريخ الاستراتيجية

"PANGKALAN STRATEGIS RUDAL BALISTIK"

Setelah itu, setiap saya melewati tempat tersebut ada perasaan kagum menyelimuti pikiran saya. Padahal saya tidak tahu, seberapa besar kekuatan strategis yang ada di dalam kawasan tersebut, berapa banyak rudalnya, dan lain sebagainya. Lha, masuk aja belum pernah, hanya sekadar lewat.  Karena kata "shawaariikh" itu lah yang membuat saya agak "bagaimana" begitu.

Refleksi:
Kita terkadang begitu kagum dengan kebesaran seorang ulama, sampai rumahnya yang sederhana mampu membuat kita tertegun. Kita barangkali kagum dengan kawasan militer yang bersandang namanya dengan "rudal balistik".

Akan tetapi, kenapa kita tidak berperasaan yang serupa ketika kita hendak masuk ke dalam "rumah Allah" yang tak semegah Al-Masjid Al-Haraam atau Al-Masjid An-Nabawi? Di mana rasa ta'zhim kita ketika hendak memasuki masjid yang ada di kampung kita, pesantren kita, atau ma'had kita? Mengapa kita lebih melihat kepada megahnya bangunan masjid, indahnya seni arsitektur masjid, besar kecilnya masjid? Kenapa kita tidak melihat dari sisi rumah siapakah itu, apa yang bisa kita temukan di dalamnya? Bukankah itu rumah Allah, Al-Malikul Jabbaarul Qawiyyul 'Aziizul Ghaffaar, yang kalau kita masuki akan kita dapatkan ketenangan hati dan ketentraman jiwa di dalamnya, dan ketika keluar darinya -insyaAllah- Dia akan mengampuni dan merahmati kita?

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang selalu mengingat-Nya di dalam setiap keadaan.
Ustadz abu yazid nurdin 
https://www.facebook.com/share/p/195QrrZKF2/
Bismillah

Itu rumah yang dihadiahi oleh adik kandung beliau saat beliau sakit...

Rumah awal beliau justru masih terbuat dari Tanah Liat ustadz..

Beliau rahimahullah diberi uang buat membangun rumah oleh Raja Fahd, namun beliau bangunkan masjid.
Diberi hadiah uang lagi oleh pemerintah kementrian tertentu, dibangunkan Sakan Ath Tholabah...

Saat beliau mulai sakit-sakitan, sang Adik bilang, "Saya hadiahkan rumah ini dan kamu harus terima. Bukan rumah mewah. Tapi lebih baik dari rumahmu yang itu..." 
Akhirnya demi menghormati pemberian sang adik, rumah itu beliau terima dan akhirnya hingga akhir hayat beliau di situ 

Rahimahullah rahmatan waasi'ah wa askanahullaahu fasiihal jinaan
ustadz kang umar bogor