Faidah
*Tergesa-gesa dalam Memvonis adalah Tanda Kejahilan*
Dalam pelajaran hari ini, Syekh Masyhur Hasan Salman, hafizhahullah, menyebutkan bahwa "Termasuk tanda kejahilan adalah engkau tergesa-gesa dalam menghukumi seseorang sebagai fasiq, ahli bid'ah atau kafir."
Dan berikut ini beberapa ucapan ulama Ahlus Sunnah yang menunjukkan bahwa tidak boleh tergesa-gesa menghukumi seseorang, khususnya dalam masalah takfir (mengkafirkan), tabdi' (membid'ahkan), dan tafsiq (memfasiqkan);
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
Beliau berkata,
وليس لأحد أن يكفر أحداً من المسلمين وإن أخطأ وغلط حتى تقام عليه الحجة وتبين له المحجة.
"Tidak seorang pun boleh mengkafirkan seorang muslim, meskipun ia melakukan kesalahan atau kekeliruan, sampai ditegakkan hujjah kepadanya dan dijelaskan kepadanya jalan yang benar."
(Majmū' al-Fatāwā, 12/500)
Ini menunjukkan bahwa vonis terhadap individu tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
Beliau juga berkata,
إن تكفير المعين وتفسيقه وتبديعه يحتاج إلى إقامة الحجة التي يكفر تاركها.
"Mengkafirkan, memfasiqkan, dan membid'ahkan seseorang secara individu butuh kepada ditegakkannya hujjah yang dengan meninggalkannya seseorang menjadi kafir."
(Majmū' al-Fatāwā, 35/165)
2. Imam Adz Dzahabi رحمه الله
Beliau berkata,
ولو أنا كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد المسائل خطأً مغفوراً له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه، لما سلم معنا لا ابن نصر ولا ابن منده ولا من هو أكبر منهما.
"Seandainya setiap kali seorang imam keliru dalam ijtihadnya pada suatu masalah yang kesalahannya diampuni, lalu kita membid'ahkannya dan memboikotnya, niscaya tidak akan selamat dari kita Ibnu Nashr, Ibnu Mandah, bahkan orang-orang yang lebih besar daripada keduanya."
(Siyar A'lām an-Nubalā', 14/39.)
Perkataan ini menunjukkan bahayanya mudah membid'ahkan ulama hanya karena kesalahan ijtihad.
3. Imam Asy Syathibi رحمه الله
Beliau menjelaskan bahwa seseorang tidak otomatis keluar dari Ahlus Sunnah hanya karena satu kesalahan atau satu bentuk penyimpangan yang belum menjadikannya ahli bid'ah.
(Al-I'tishām, jilid 2, pembahasan tentang bid'ah dan hukum pelakunya)
Beliau menerangkan pentingnya membedakan antara kesalahan yang terjadi sesekali dengan bid'ah yang dijadikan sebagai prinsip hidup.
4. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله
Imam Ahmad sangat berhati-hati dalam menghukumi individu.
Beliau dikenal tidak mudah mengkafirkan orang tertentu meskipun sangat keras terhadap keyakinan Jahmiyyah.
Ibnu Taimiyah menukilkan bahwa Imam Ahmad,
كان يدعو لهم ويستغفر لهم، لعلمه أنهم لم يتبين لهم أنهم مكذبون للرسول.
"Beliau tetap mendoakan mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka, karena beliau mengetahui bahwa belum jelas bagi mereka bahwa mereka telah mendustakan Rasul."
(Majmū' al-Fatāwā, 23/349)
5. Al Hafizh Ibnu Rajab رحمه الله
Beliau berkata,
فإن كثيراً من الناس قد يقول قولاً أو يفعل فعلاً يكون كفراً، ولا يحكم بكفره حتى تقوم عليه الحجة.
"Banyak orang mengucapkan suatu ucapan atau melakukan suatu perbuatan yang merupakan kekufuran, namun tidak langsung dihukumi kafir hingga ditegakkan hujjah kepadanya."
(Jāmi' al-'Ulūm wal-Hikam, penjelasan hadis ke-48)
Kesimpulannya,
Dari perkataan para imam Ahlus Sunnah di atas dapat disimpulkan beberapa kaidah penting;
- *Tidak boleh tergesa-gesa mengkafirkan, memfasiqkan, atau membid'ahkan seorang muslim.*
- *Harus dibedakan antara kesalahan dengan pelaku kesalahan.*
- *Harus diperhatikan terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang (الشروط وانتفاء الموانع) sebelum menjatuhkan vonis kepada individu.*
- *Menghukumi individu tanpa ilmu dan tanpa kaidah syariat merupakan penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah.*
Catatan penting;
Sikap hati-hati dalam menghukumi individu bukan berarti meremehkan bid'ah atau membenarkan kesesatan.
Ahlus Sunnah tetap wajib mengingkari bid'ah berdasarkan dalil, namun mereka juga menjaga keadilan dan tidak melampaui batas dalam menjatuhkan vonis terhadap orang tertentu. Inilah jalan pertengahan yang ditempuh oleh para imam Salaf Saleh.
_18 Juli 2026, Masjid Al Aziz Bandung_
@isyu_aliskandar
https://www.facebook.com/share/18zD258U7Q/