Selasa, 28 Juli 2026

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

LIPIA dan Gerakan Salafi di Indonesia

===================

Setiap gerakan tentunya membutuhkan aktor untuk siap bergerak dan melakukan aksinya. Posisi aktor sendiri sangat sentral dalam mendukung kegiatan-kegiatan dari sebuah gerakan. Maka setiap gerakan memiliki cara tersendiri untuk penguatan niliai dan ideologi dengan menghasilkan aktor-aktor yang dapat mendukung tujuan dari gerakan. Dan bagi gerakan dakwah salafi, LIPIA-lah yang memegang peran sentral tersebut.

LIPIA didirikan oleh Pemerintah Saudi Arabia pada tahun 1980 dengan Nama Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA). Di awal hanya mengajarkan kursus-kursus bahasa Arab secara regular kepada para siswanya. Baru di tahun 1986 LPBA resmi berganti akronim menjadi LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab) setelah membuka program Syariah. 

Di Indonesia lembaga ini berafiliasi dengan DDII dan beberapa organisasi Islam seperti Al Irsyad dan Persis. Sehingga dalam perjalanannya banyak kader-kader dakwah dari DDII yang belajar di lembaga ini termasuk dari kalangan salafi.

LIPIA setidaknya memiliki dua peran strategis sekaligus bagi gerakan dakwah salafi. 

Pertama, lembaga ini secara penuh memberikan penguatan nilai dan ideologi bagi perkembangan dakwah salafi di Indonesia.

Kedua, lembaga ini adalah lembaga yang mencetak aktor-aktor dari gerakan dakwah salafi untuk menyebarkan pemahaman Salafi ke seluruh lapisan masyarakat. 

Dua hal tersebut yang mengantarkan gerakan dakwah salafi ideologinya terus direproduksi hingga saat ini.

Penguatan ideologi dan nilai sangat terlihat dari kurikulum yang diajarkan di lembaga ini. Lembaga ini secara khusus mengajarkan pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Salafi baik yang klasik (Ibn Taimiyah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Qayyim, dll) hingga kontemporer (Utsaimin, Bin Baaz, Al Albani, dll) (Hasan, 2008: 60-61). 

Mahasiswanya dituntut berbagai subjek Islam seperti Ushulul Tafsir, Ushulul Fiqh, Ilmu Diroyah, Ilmu Riwayah, Mustholahul Hadits, Nahwu Sharraf dan lain lain.

Kendati demikian, sebenarnya sebagian kalangan salafi melihat LIPIA, di awal berdirinya, bukan sebagai bagian dari dakwah salafi. 

Pendapat ini terutama dikarenakan di awal berdirinya banyak pengajarnya yang terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. 

Seperti yang diungkapkan Z, yang juga pernah belajar di LIPIA,

“LIPIA (di awal berdirinya—pen.) bukan Salafi, ia mewakili Ikhwanul Muslimin…bahwa generasi awal LIPIA itu dosen-dosennya banyak terpengaruh oleh Ikhwanul Muslimin. Makanya hampir nyaris, termasuk saya, terpengaruh oleh pemikiran Ikhwan di kelas saya hanya dua yang Salaf.”

(Wawancara dengan Z, 25 April 2012, di Jakarta)

Z menambahkan dari sejak pertama kali LIPIA berdiri hingga tahun 90-an dari kalangan Salafi hanya ada beberapa generasi. 

Generasi Pertama ada Abu Nida, Yazid Jawas, Abdul Hakim dan Ja’far. 

Generasi kedua ada Aunur Rafiq, Ahmad Faiz Asifuddin, Ali Hijrah, generasi berikutnya ada Kholid Syamhudi, Zaenal Abidin, dan selanjutnya ada Badrussalam, Jazuli. 

Jumlah Ikhwanul Muslimin cenderung lebih banyak diantaranya adalah Anis Matta dan Ahmad Heryawan.

Dan meskipun memang kitab-kitab yan diajarkan di lembaga tersebut adalah kitab-kitab salafi sebenarnya tidak mengajak kepada manhaj tertentu. Ilmu yang diajarkan adalah ilmu uluh bahasa hanya mengajarkan bagaimana membaca kitab, sehingga tidak mengajak kepada satu manhaj tertentu. 

Tapi kegiatan di luar kegiatan belajar lah yang kemudian menjadi penentu manhaj para mahasiswa. Dan kelompok Ikhwanul Muslimin memiliki akses terhadap hal tersebut, seperti ditambahkan oleh Z,

“Sebetulnya kalau masalah kurikulum kan uluh bahasa, dan kuliah yang ditekankan syariah jadi tidak membentuk manhaj dan tidak anti manhaj juga, jadi belajar gitu aja, belajar kitab. Cuma yang membentuk itu kan di luarnya. Ana diajak ngaji, ikut daurah-daurah. Nah terutama kegiatan kesiswaan itu banyak diperalat oleh orang-orang ikhwanul muslimin untuk mengkader. Misalnya kegiatan dakwah ke puncak atau rihlah, digunakan untuk daurah ikhwan… dulu ada yang namanya Abdullah Idhan, orang Saudi, tapi fanatis sama Ikhwan, dan dia memegang jabatan Mudhir Syu’uni Thullab (Ketua Kegiatan Siswa—pen.) akhirnya semua kegiatan siswa di luar belajar diperalat oleh ikhwanul muslimin”

(Wawancara dengan Z, 9 April 2012 di Jakarta)

Namun, keadaan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ada kemungkinan banyaknya keluhan yang disampaikan kepada Pemerintah Saudi, banyak dosen-dosen pengajar yang kemudian diganti (Wawancara dengan B, 9 Mei 2012 di Bogor). Sehingga belakangan lembaga ini menghasilkan lebih banyak aktor-aktor untuk gerakan dakwah salafi. Dan keadaan yang seperti ini yang terus berlangsung hingga saat ini.

Dan lembaga ini tetap menjadi bagian penting yang menghasilkan aktor-aktor salafi. Penulis mencatat, hampir bisa dipastikan generasi awal yang membangun dakwah Salafi sejak era Soeharto hingga reformasi adalah alumnus dari LIPIA. Lembaga ini juga berperan dalam mengirimkan mahasiswanya ke Saudi Arabia untuk belajar Islam di sana. 

Hal ini juga menunjukkan bukti dukungan Saudi Arabia yang memang mencanangkan pendirian lembaga ini sebagai antisipasi menyebarnya paham Syi’ah pasca-Revolusi Iran tahun 1979 (Hasan, 2008). Melalui lembaga ini lah gerakan dakwah salafi menghasilkan aktor-aktor mumpuni secara pemikiran yang kemudian tampil di masa Reformasi.

===================

Dinukil dari salah satu Sub-Bab pada skripsi karya Dady Hidayat pada FISIP Universitas Indonesia Tahun 2012 berjudul “Gerakan Dakwah Salafi Di Indonesia: Studi Tentang Kemunculan Dan Perkembangannya Pada Era Reformasi"