Rabu, 15 Juli 2026

Madzhab Hanbali dalam Masalah At-Tahsin wa At-Taqbih (Penilaian Baik dan Buruk)

Madzhab Hanbali dalam Masalah At-Tahsin wa At-Taqbih (Penilaian Baik dan Buruk)

Masalah at-tahsin wa at-taqbih merupakan salah satu pembahasan penting dalam ushul fikih dan ilmu kalam. Secara umum, perdebatan terjadi pada pertanyaan: apakah akal manusia dapat secara mandiri menetapkan bahwa suatu perbuatan layak dipuji atau dicela, diberi pahala atau dihukum, ataukah semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu dan syariat?

Berikut beberapa nukilan dari ulama besar madzhab Hanbali yang menjelaskan masalah ini.

1. Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali رحمه الله
Dalam Al-Wadhih fi Ushulil Fiqh (1/26), beliau berkata:

> فذهب أصحاب الحديث وأهل السنة والفقهاء إلى أن لا تحسين ولا تقبيح، ولا إباحة ولا حظر، إلا من قبل الشرع

"Ashabul Hadits, Ahlussunnah, dan para fuqaha berpendapat bahwa tidak ada penetapan baik dan buruk, tidak pula penetapan mubah dan terlarang, kecuali melalui syariat."

2. Imam Najmuddin Ath-Thufi رحمه الله
Dalam Syarh Mukhtashar Ar-Raudhah (1/403), beliau menjelaskan:

> وتحقيق الكلام في هذا المقام ما حققه بعض المتأخرين: أن الحسن والقبح قد يراد بهما ما لاءم الطبع ونافره، كإنقاذ الغريق واتهام البريء. وقد يراد بهما صفة الكمال والنقص، نحو: العلم حسن والجهل قبيح. وقد يراد بهما ما يوجب المدح والذم الشرعيين عاجلا، والثواب والعقاب آجلا. ولا نزاع في أنهما بالتفسيرين الأولين عقليان: أي يستقل العقل بإدراك الحسن والقبح فيهما. أما الثالث: فهو محل النزاع، فالمعتزلة قالوا: هو عقلي أيضا يستقل العقل بإدراكه بدون الشرع وقبله، وأهل السنة قالوا: هو شرعي، أي لا يعلم استحقاق المدح والذم، ولا الثواب والعقاب شرعًا على الفعل إلا من جهة الشرع على ألسنة الرسل

"Penjelasan yang tepat dalam masalah ini sebagaimana dirumuskan sebagian ulama muta'akhkhirin adalah sebagai berikut:

Baik dan buruk terkadang dimaksudkan sebagai sesuatu yang sesuai atau bertentangan dengan tabiat manusia, seperti menyelamatkan orang tenggelam dan menuduh orang yang tidak bersalah.

Terkadang juga dimaksudkan sebagai sifat kesempurnaan dan kekurangan, seperti ilmu itu baik dan kebodohan itu buruk.

Dan terkadang dimaksudkan sebagai sesuatu yang menyebabkan pujian dan celaan secara syariat di dunia, serta pahala dan hukuman di akhirat.

Tidak ada perselisihan bahwa dua makna pertama dapat diketahui oleh akal. Artinya, akal secara mandiri mampu memahami baik dan buruk pada dua makna tersebut.

Adapun makna ketiga, maka di situlah letak perdebatan. Kaum Mu'tazilah berpendapat bahwa akal juga mampu mengetahuinya secara mandiri tanpa syariat dan bahkan sebelum datangnya syariat. Sedangkan Ahlussunnah berpendapat bahwa hal itu bersifat syar'i. Artinya, kelayakan memperoleh pujian, celaan, pahala, atau hukuman atas suatu perbuatan hanya dapat diketahui melalui syariat yang dibawa para rasul."

3. Imam Syamsuddin Ibnu Muflih رحمه الله
Dalam Ushul Ibn Muflih (1/149), beliau berkata:

> فالعقل لا يحسن ولا يقبح ولا يوجب ولا يحرم عند أكثر أصحابنا، قاله أبو الخطاب وغيره، منهم ابن عقيل وذكره مذهب أحمد وأهل السنة والفقهاء والقاضي

"Menurut mayoritas ulama madzhab kami (Hanbali), akal tidak menetapkan baik, tidak menetapkan buruk, tidak mewajibkan, dan tidak pula mengharamkan. Hal ini disebutkan oleh Abu Al-Khaththab dan selainnya. Di antaranya Ibnu Aqil, yang menegaskan bahwa inilah madzhab Imam Ahmad, Ahlussunnah, para fuqaha, dan Qadhi."

4. Imam Alauddin Al-Mardawi رحمه الله
Dalam At-Tahbir Syarh At-Tahrir (2/724), beliau berkata:

> حسن الفعل وقبحه ليسا لذات الفعل، ولا لأمر داخل في ذاته، ولا لخارج لازم لذاته، حتى يحكم العقل بحسن الفعل أو قبحه بناء على تحقق ما به الحسن والقبح

"Baik dan buruknya suatu perbuatan bukan karena zat perbuatan itu sendiri, bukan pula karena sesuatu yang melekat dalam hakikatnya, dan bukan pula karena faktor eksternal yang menjadi konsekuensi tetap baginya, sehingga akal dapat menghukumi baik atau buruknya perbuatan tersebut hanya berdasarkan keberadaan faktor-faktor itu."

5. Imam Al-Mardawi رحمه الله
Beliau juga berkata dalam At-Tahbir Syarh At-Tahrir (2/716):

> فالعقل لا يحسن ولا يقبح ولا يوجب ولا يحرم عند الإمام أحمد وأكثر أصحابه، والأشعرية، وبعض الجهمية

"Menurut Imam Ahmad, mayoritas sahabat (pengikut) beliau, kalangan Asy'ariyyah, dan sebagian Jahmiyyah, akal tidak menetapkan baik, tidak menetapkan buruk, tidak mewajibkan, dan tidak pula mengharamkan."

6. Imam Ibnu An-Najjar رحمه الله
Dalam Syarh Al-Kawkab Al-Munir (1/301), beliau berkata:

> والعقل لا يحسن ولا يقبح ولا يوجب ولا يحرم عند الإمام أحمد رضي الله عنه وأكثر أصحابه، والأشعرية. قال ابن عقيل: وأهل السنة والفقهاء

"Akal tidak menetapkan baik, tidak menetapkan buruk, tidak mewajibkan, dan tidak pula mengharamkan menurut Imam Ahmad, mayoritas pengikut beliau, serta kalangan Asy'ariyyah. Ibnu Aqil berkata: demikian pula pendapat Ahlus Sunnah dan para fuqaha."

Tanbih :

1. Ulama Hanabilah membedakan beberapa makna "baik" dan "buruk"

Apabila yang dimaksud dengan baik dan buruk adalah sesuatu yang sesuai/bertentangan dengan tabiat manusia, atau merupakan sifat kesempurnaan/kekurangan, maka akal dapat mengetahuinya secara mandiri. Manusia secara fitrah memahami bahwa menyelamatkan orang tenggelam adalah tindakan terpuji dan ilmu lebih sempurna daripada kebodohan.

2. Letak perselisihan adalah pada konsekuensi syar'i

Yang menjadi objek perdebatan bukanlah penilaian rasional atau fitri, melainkan pertanyaan:

Apakah akal dapat menetapkan bahwa suatu perbuatan berhak mendapatkan pujian/celaan syar'i, pahala/dosa, serta hukum wajib/haram tanpa bantuan wahyu?

Dalam masalah inilah Imam Ahmad dan mayoritas ulama Hanabilah menegaskan: TIDAK.

3. Pahala, dosa, wajib, dan haram hanya diketahui melalui syariat

Menurut madzhab Hanbali, akal tidak memiliki kewenangan independen untuk menetapkan konsekuensi hukum syariat. Pengetahuan tentang apa yang diwajibkan Allah, apa yang diharamkan-Nya, apa yang berpahala dan apa yang berdosa, hanya diketahui melalui wahyu yang dibawa para rasul.

4. Ini adalah pendapat Ahlussunnah yang masyhur

Para ulama Hanabilah seperti Ibnu Aqil, Ibnu Muflih, Al-Mardawi, dan Ibnu An-Najjar menisbatkan pendapat ini kepada Imam Ahmad, Ahlussunnah, Ashabul Hadits, dan para fuqaha.

Mereka menolak pandangan Mu'tazilah yang menyatakan bahwa akal secara mandiri mampu menetapkan hukum dan konsekuensi ukhrawi sebelum datangnya syariat.

5. Hubungan dengan Kaidah Taklif

Sebagian orang mengira pendapat Hanabilah bahwa "akal tidak mengharamkan dan tidak mewajibkan" berarti manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab sebelum datangnya wahyu.

Padahal yang dimaksud para ushuliyyin adalah:

 العقل لا يستقل بإيجاب الأحكام الشرعية

"Akal tidak berdiri sendiri dalam menetapkan hukum-hukum syariat."

Adapun keberadaan fitrah, kemampuan mengenali manfaat dan mudarat, serta pengenalan umum terhadap kebaikan dan keburukan, tetap diakui.

Karena itu pembahasan at-tahsin wa at-taqbih tidak identik dengan pembahasan fitrah, tidak pula identik dengan pembahasan tanggung jawab manusia secara mutlak.

Kesimpulan

Madzhab Hanbali tidak menafikan fungsi akal dalam mengenali manfaat, mudarat, kesempurnaan, kekurangan, atau hal-hal yang selaras dengan fitrah manusia. 

Tapi ketika pembahasan berpindah kepada penetapan hukum syariat serta konsekuensi ukhrawi berupa pahala dan dosa, maka otoritas tersebut sepenuhnya berada di tangan syariat (wahyu), bukan akal.

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah