Jumat, 21 Agustus 2026

Maulid

فتوى الإمام الشوكاني 

قال الشوكاني في الفتح الرباني 2/1087
مسالة المولد. فأقول: لم أجد إلى الآن دليلا يدلا على ثبوته من كتاب، ولا سنة، ولا إجماع، ولا قياس، ولا استدلال، بل أجع المسلمون أنه لم يوجد في عصر خير القرون، ولا الذين يلونهم، ولا الذين يلونهم....وإذا تقرر هذا لاح للناظر أن القائل بجوازه بعد تسليمه أنه بدعة، وأن كل بدعة (٢) ضلالة بنص المصطفى- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ- لم يقل إلا. مما هو ضد للشريعة المطهرة، ولم يتمسك بشيء سوى تقليده لمن قسم  البدعة إلى أقسام ليس عليها آثار من علم. 
والحاصل أنا لا نقبل من القائل بالجواز مقالة إلا بعد أن يقيم دليلا يخص هذه البدعة التي يعترف ها من ذلك العموم الذي لا ينكره.

وأما مجرد قال فلان، وألف فلان، فهذا غير نافق. والحق أكبر من كل أحد على أنا إذا عولنا على أقوال الرجال، ورجعنا إلى التمسك بأذيال القيل والقال، فليس القائل بالجواز إلا شذوذ من المسلمين.

أما العترة المطهرة وأتباعهم فلم نجد لهم حرفا واحدا يدل على جواز ذلك، بل كلمتهم كالمتفقة بعد حدوث هذه البدعة أنها من أقبح ذرائع المتمخلعة إلى المفاسد، ولهذا ترى هذه الديار منزهة عن جميع شعابن المتصوفة المتهتكة إلى هذه واحدة منها، ولله الحمد.

وكان آخر الخلفاء الذابين عن ذلك المهدي لدين الله العباس بن المنصور، فإنه منع الموالد، وأمر هدم قبور جماعة من الأموات الذين تعتق! صم العامة، والمرجو من الله تعالى أن يلهم خليفة عصرنا المنصور بالله- حفظه الله- إلى الإقتداء بسلفه الصالح، فإن الأمر كما قيل:

أرى خلل الرماد وميض خمر ... ويوشك أن يكون لها اضطرام

وسريان البدع أسرع من سريان النار، لا سيما بدعة المولد، فإن أنفس العامة تشتاق إليها غاية الاشتياق، لا سيما بعد حضور جماعة من أهل العلم والشرف والرئاسة معهم، فإنه سيخيل إليهم بعد ذلك أن هذه البدعة من آكد السنن. وقد أحسن من قال:

 فساد كبير عالم متهتك ... وأفسد منه جاهل متنبك

هما فتنة للعالمين كبيرة ... لمن بهما دينه يتمسك
 ا.هـ

Mengenai masalah Maulid, saya katakan: Hingga saat ini saya belum menemukan satu pun dalil yang menunjukkan keabsahannya, baik dari Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijmak, Qiyas, maupun istidlal. Bahkan kaum muslimin telah sepakat bahwa Maulid tidak pernah ada pada masa generasi terbaik (generasi sahabat), tidak pula masa setelahnya, dan tidak pula masa setelahnya...
Jika hal ini telah jelas, maka makin nyatalah bagi siapa saja yang melihat bahwa orang yang berpendapat bolehnya Maulid—setelah ia mengakui bahwa itu adalah bidah dan bahwa setiap bidah adalah sesat berdasarkan nash dari Al-Musthofa—tidaklah berpendapat melainkan dengan sesuatu yang menentang syariat yang suci ini. Ia tidak berpegang pada apa pun selain bertaklid kepada pihak yang membagi bidah menjadi beberapa bagian, yang pembagian tersebut tidak memiliki landasan ilmu sama sekali.
Kesimpulannya, kami tidak akan menerima pendapat dari orang yang membolehkannya kecuali setelah ia menegakkan dalil khusus yang mengoperasionalkan bidah ini dari keumuman dalil (bahwa setiap bidah sesat) yang tidak ia ingkiri tersebut.
Adapun sekadar ucapan "Si Fulan berkata" atau "Si Fulan mengarang kitab", maka hal ini tidak berlaku. Kebenaran itu lebih besar dari siapa pun. Walaupun kita mengandalkan perkataan manusia dan kembali berpegang pada desas-desus ucapan orang, orang yang berpendapat bolehnya Maulid ini tidak lain hanyalah segelintir (penyimpangan) dari kaum muslimin.
Adapun ‘Itrah Muthahharah (keluarga Nabi yang disucikan) beserta para pengikut mereka, kami tidak menemukan satu huruf pun dari mereka yang menunjukkan bolehnya hal tersebut. Bahkan kalimat mereka bagaikan sepakat—setelah munculnya bidah ini—bahwa Maulid termasuk sarana paling buruk yang mengantarkan kaum yang melanggar aturan menuju berbagai kerusakan. Oleh karena itu, Anda melihat negeri-negeri ini terbebas dari seluruh syiar kaum sufi yang merusak, dan ini (Maulid) adalah salah satunya, walhamdulillah.
Adalah khalifah terakhir yang membendung hal tersebut, Al-Mahdi lidinillah Al-Abbas bin Al-Manshur; ia melarang perayaan-perayaan Maulid dan memerintahkan pembongkaran kuburan beberapa orang mati yang diagungkan oleh orang-orang awam. Diharapkan kepada Allah Ta'ala agar mengilhami khalifah zaman kita, Al-Manshur billah—semoga Allah menjaganya—untuk meneladani para pendahulu mereka yang saleh. Karena sesungguhnya perkaranya seperti yang dikatakan:
Aku melihat di balik bara api ada kilatan bara...
dan hampir saja kilatan itu menjadi kobaran api yang membakar.
Penularan bidah itu lebih cepat daripada penularan api, terlebih lagi bidah Maulid. Sesungguhnya jiwa orang-orang awam sangat merindukannya, terlebih lagi setelah hadirnya sekelompok ahli ilmu, tokoh terpandang, dan pemimpim bersama mereka. Maka akan terbayang bagi orang awam setelah itu bahwa bidah ini termasuk sunnah yang paling ditekankan. Sungguh indah orang yang berkata:
Kerusakan besar adalah seorang alim yang tidak peduli aturan...
dan yang lebih merusak darinya adalah orang bodoh yang tekun beribadah.
Keduanya adalah fitnah besar bagi semesta alam...
bagi siapa saja yang berpegang teguh pada agamanya melalui keduanya.
(Selesai)