Jangan Takut Mengakui: Di Kalangan Kelompok Salafiyyah Pun Ada Mubtadi‘ah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh adalah seorang ulama yang bermazhab Hanbali. Namun, afiliasi kepada suatu mazhab tidak pernah membuat beliau kehilangan sikap inshaf dalam menilai kebenaran.
Dalam Majmū‘ Al-Fatāwā, ketika membahas penyimpangan sebagian pengikut para imam dalam persoalan usul maupun furu‘, beliau dengan tegas mengatakan:
وفي الحنبلية أيضًا مبتدعة
“Di kalangan Hanbali juga terdapat ahli bidah.”
Ini bukan ucapan seorang yang sedang menyerang mazhab Hanbali. Justru ini adalah ucapan seorang Hanbali yang memahami bahwa kebenaran tidak diukur berdasarkan nama, afiliasi, atau kelompok.
Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menjelaskan bahwa bidah terdapat pada madzhab lain, tetapi beliau juga tidak menutup mata terhadap adanya bidah di kalangan orang-orang yang berafiliasi kepada Hanbali.
Dalam Dar’ Ta‘āruḍ Al-‘Aql wa An-Naql, ketika mengkritik pendapat para mutakallimin tentang awwal al-wājib ‘alā al-mukallaf, beliau juga menyebut adanya sebagian Hanabilah yang terpengaruh oleh pemikiran tersebut. Di antaranya beliau menyebut Abu Al-Faraj Al-Maqdisi Al-Hanbali dengan kitabnya At-Tabṣhirah fī Uṣūl Ad-Dīn.
Bahkan dalam beberapa tempat, Ibnu Taimiyyah memberikan penilaian yang sangat objektif terhadap tokoh-tokoh yang tidak sepenuhnya berada dalam garis pemikirannya. Ia menyebut bahwa pendapat Abu Al-Hasan Al-Asy‘ari rahimahullāh dalam asmā` wa shifāt lebih baik dan lebih dekat kepada sunnah serta salaf daripada pendapat sebagian Hanabilah, seperti Ibnu ‘Aqīl dan Ibnu Al-Jauzi rahimahumallāh.
Perhatikan sikap ini.
Beliau tidak berkata:
“Karena dia Hanbali, mustahil dia menyimpang.”
Tidak pula berkata:
“Karena dia berada dalam barisan kami, kesalahannya harus dibela, ditakwil, atau ditutupi.”
Tidak.
Kebenaran tetap kebenaran, meskipun keluar dari orang yang berbeda dengan kita. Dan kesalahan tetap kesalahan, meskipun dilakukan oleh orang yang satu kelompok dengan kita.
Inilah inshaf.
Maka, jika seseorang mengaku mengikuti manhaj salaf, tidak ada alasan baginya untuk merasa malu mengakui bahwa di antara orang-orang yang menisbatkan diri kepada kelompok Salafiyyah pun terdapat orang-orang yang menyimpang dan mubtadi'ah.
Kelompok Salafiyyah bukan kartu bebas kritik.
Afiliasi kepada kelompok Salafiyyah tidak menjadikan seseorang otomatis benar dalam setiap persoalan. Label anggota kelompok Salafiyyah tidak mengubah kesalahan menjadi kebenaran, sebagaimana label “Hanbali” dahulu tidak membuat Ibnu Taimiyyah rahimahullāh menutup mata terhadap adanya mubtadi‘ah di kalangan Hanabilah.
Kalau Ibnu Taimiyyah sendiri mampu mengakui adanya penyimpangan di kalangan Hanabilah--dan dahulu mereka dipandang sebagai representasi salaf, mengapa sebagian orang hari ini begitu sulit mengakui adanya penyimpangan di kalangan orang-orang yang mengaku termasuk kelompok Salafiyyah?
Ada yang memiliki kekeliruan dalam persoalan iman. Mereka memandang amal sebagai syarat kesempurnaan.
Ada yang berlebihan dalam persoalan ketaatan kepada penguasa. Bahkan ada yang demikian ghuluw terhadap penguasa sekuler dan liberal, sampai-sampai memperlakukan mereka seakan-akan kedudukannya seperti Amirul Mukminin.
Apakah semua itu harus dibela hanya karena pelakunya mengaku bagian dari kelompok Salafiyyah?
Tentu tidak.
Yang kita bela adalah kebenaran, bukan label.
Yang kita ikuti adalah dalil, bukan fanatisme kelompok.
Dan yang kita nilai adalah perkataan dan perbuatan seseorang yang benar, bukan sekadar nama yang ia sematkan pada dirinya.
Inilah salah satu pelajaran penting dari sikap Ibnu Taimiyyah rahimahullāh: menjadi bagian dari suatu mazhab tidak berarti semua yang dinisbatkan kepadanya harus dibenarkan.
Kalau dahulu terdapat Hanbali yang menyimpang, maka apanya yang mustahil hari ini terdapat orang yang menisbatkan diri kepada kelompok Salafiyyah tapi menyimpang.
Mengakui fakta tersebut bukan berarti menyerang kelompok Salafiyyah.
Justru itulah bentuk kejujuran terhadap manhaj salaf: tidak fanatik kepada nama, tidak membela kebatilan karena afiliasi, dan tidak takut mengatakan salah meskipun kesalahan itu dilakukan oleh orang yang berada dalam kelompok sendiri.
Ust hafid achmad