Halaman 21
Bab Pertama: Manfaat Kisah-Kisah Al-Qur'an
Ustadz Manna' Al-Qaththan berkata: "Peristiwa yang terikat dengan sebab-sebab dan akibat-akibatnya akan menarik perhatian pendengar. Jika di dalamnya diselingi dengan titik-titik pelajaran dari berita orang-orang terdahulu, rasa ingin tahu untuk mengetahuinya menjadi salah satu faktor terkuat untuk menanamkan pelajarannya ke dalam jiwa. Nasihat dalam bentuk pidato/ceramah mendiktekan penyampaian satu arah, di mana akal tidak dapat mengumpulkan seluruh sisinya dan tidak dapat memahami semua yang disampaikan. Namun, ketika nasihat itu mengambil bentuk gambaran realitas kehidupan dalam peristiwa-peristiwa yang jelas tujuannya, seseorang akan merasa tenang mendengarkannya, menyimaknya dengan penuh kerinduan dan antusiasme, serta terpengaruh oleh ikhtibar (pelajaran) dan nasihat di dalamnya." ⁽¹⁾
- Di antara manfaat kisah Al-Qur'an: Keimanan kepada para nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak akan sempurna melainkan dengannya. Meskipun kita beriman kepada semua nabi secara umum dan global, keimanan secara rinci (al-īmān at-tafṣīlī) yang dipetik dari kisah-kisah mereka—mengenai kejujuran yang sempurna, sifat-sifat sempurna yang merupakan puncak dari segala sifat, keutamaan serta kebaikan mereka kepada seluruh jenis manusia, bahkan sampai kepada hewan—menuntut orang-orang yang dibebani syariat (mukallaf) untuk menaruh perhatian dan menunaikan hak-hak mereka. Keimanan rinci kepada para nabi inilah yang mengantarkan seorang hamba pada keimanan yang sempurna, dan ini termasuk hal-hal yang menambah keimanan.
- Di antaranya: Kisah-kisah tersebut menetapkan keimanan kepada Allah dan ketauhidan-Nya, mengikhlaskan amal hanya untuk-Nya, beriman kepada hari Akhir, menjelaskan keindahan tauhid dan kewajibannya, serta keburukan syirik dan bahwa syirik adalah penyebab kebinasaan di dunia dan akhirat.
- Di antaranya juga: Kisah-kisah tersebut menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman, agar mereka meneladani para nabi dalam seluruh tingkatan agama: dalam hal tauhid dan menunaikan peribadahan ('ubūdiyyah), dalam hal dakwah, kesabaran, dan keteguhan saat menghadapi segala musibah yang menggoncangkan, serta membalas hal tersebut dengan ketenangan, ketentraman, dan keteguhan.
(1) Diringkas dari "Mahasin At-Ta'wil" (9/305, 306).
Halaman 22
...yang sempurna, dan dalam hal ketulusan (ash-shidq) serta keikhlasan kepada Allah dalam semua gerakan maupun diam, mengharapkan pahala dan ganjaran hanya dari Allah Ta'ala, tidak meminta balasan maupun ucapan terima kasih dari makhluk melainkan hanya dalam hal-hal yang bermanfaat bagi makhluk.
- Di dalamnya terdapat manfaat fikih, hukum-hukum syariat, dan rahasia-rahasia hikmah yang sangat penting dan tidak boleh tidak diketahui oleh setiap penuntut ilmu.
- Di dalamnya terdapat nasihat, peringatan, dorongan (targhīb), ancaman (tarhīb), kelapangan setelah kesempitan, kemudahan urusan setelah kesulitannya, dan akibat baik yang disaksikan di dunia ini. Serta pujian dan kecintaan yang baik di hati para makhluk yang menjadi bekal bagi orang-orang bertakwa, kegembiraan bagi ahli ibadah, hiburan bagi orang-orang yang bersedih, dan nasihat bagi orang-orang beriman. Maka maksud dari kisah-kisah mereka bukanlah sebagai hiburan/cerita pengantar tidur, melainkan tujuan utamanya adalah sebagai peringatan dan pelajaran. ⁽¹⁾
- Di antaranya adalah pembuktian kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Rasul kita ﷺ, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
Karena Nabi ﷺ tidak pernah mempelajari kitab-kitab terdahulu."Itu adalah di antara berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa." [Surah Hud: 49]
- Di antaranya adalah hiburan bagi Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman atas apa yang mereka hadapi berupa pendustaan, gangguan, serta tuduhan sihir dan kegilaan. Sungguh, rasul-rasul sebelum mereka pun telah didustakan, lalu mereka bersabar hingga datang pertolongan Allah dan kebinasaan bagi para pendusta. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, melainkan mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan terhadap mereka) sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." [Surah Al-An'am: 34]
- Di antara tujuan kisah Al-Qur'an adalah menonjolkan hakikat akidah penting yang terlihat melalui narasi sejarah, yaitu bahwa para nabi dan rasul seluruhnya (sholawatullah wa salamuhu 'alaihim) datang dengan satu kalimat dan satu pokok persoalan lintas generasi. Kalimat yang satu itu adalah: Laa ilaha illallah (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), dan pokok persoalan yang satu itu adalah: "Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."
(1) Diringkas dari "Taisir Al-Lathif Al-Mannan fi Khulashah Tafsir Al-Qur'an" karya Al-Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (hal. 101) dengan penyesuaian.
Halaman 23
Tauhid Uluhiyyah adalah isu/persoalan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia, di mana para rasul diutus secara berurutan demi menegakkannya, dan segala sesuatu setelah itu dibangun di atasnya. Hal ini memberikan rasa memiliki (intima') pada satu umat yang bersatu lintas generasi:
"Sungguh, (agama tauhid) inilah umat kamu, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." [Surah Al-Anbiya: 92]
- Di antara manfaatnya adalah penjelasan bahwa cobaan (ibtila') pasti terjadi pada orang-orang beriman, dan tidak boleh tidak mereka pasti akan menghadapi kejahatan jahiliyah dengan berbagai macam gangguannya. Kemudian mereka berada dalam masa penundaan di mana Allah belum menolong mereka, melainkan Allah menangguhkan para penguasa zalim sehingga mereka semakin melampaui batas dan menambah kedzaliman mereka. Sampai ketika janji Allah tiba, pertolongan Allah datang kepada orang-orang beriman sesuai takdir-Nya, dan kebinasaan jatuh kepada para pendusta juga sesuai takdir-Nya. ⁽¹⁾
- Di antara manfaatnya adalah penjelasan tentang tugas para rasul, yaitu menyampaikan wahyu Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa mereka tidak memiliki kuasa di balik penyampaian tersebut untuk memberikan kemanfaatan bagi manusia, baik secara agama seperti keimanan dan ketakwaan, maupun secara duniawi seperti rezeki dan kesehatan. Mereka juga tidak bisa menghilangkan bahaya dari manusia. Demikian pulalah keadaan ayah Nabi Ibrahim, putra Nabi Nuh, istri Nabi Nuh, dan istri Nabi Luth yang termasuk orang-orang kafir.
- Dalam kisah-kisah ini juga terdapat penjelasan untuk membantah keraguan (syubhat) kaum-kaum terdahulu terhadap rasul mereka bahwa rasul adalah manusia biasa, serta bantahan terhadap anggapan mereka bahwa mukjizat para nabi adalah sihir, atau tuntutan mereka agar malaikat turun atau memperlihatkan tanda-tanda alam materi. Bantahan kepada mereka adalah bahwa mukjizat/tanda-tanda tersebut merupakan perbuatan Allah Ta'ala, bukan dari kemampuan para rasul itu sendiri.
- Dalam kisah-kisah ini juga terdapat penjelasan bahwa hidayah agama adalah sebab bertambahnya nikmat dan terjaganya nikmat tersebut, sebagaimana hidayah itu sendiri merupakan jalan untuk meraih kebahagiaan akhirat.
- Di antara manfaatnya adalah mengambil pelajaran dari nasihat para nabi dan imbauan khusus mereka kepada setiap kaum sesuai dengan kondisi mereka: seperti kaum Nuh dalam kesesatan dan kesombongan mereka; keluarga Firaun dan pembesar-pembesarnya dalam kekuasaan dan kesewenang-wenangan mereka; kaum Luth dalam kekejian mereka; kaum 'Aad dalam kekuatan dan kediktatoran mereka; kaum Tsamud dalam keangkuhan dan kemewahan mereka; kaum Madyan dalam kecurangan menakar/menimbang dan merusak timbangan; serta Bani Israil dalam pembangkangan dan ketegaran hati mereka.
- Penjelasan tentang ketetapan (sunnatullah) Allah Ta'ala dalam hal kesiapan psikologis dan intelektual manusia bagi setiap orang dari...
(1) Diringkas dari "Dirasat Qur'aniyyah" karya Ustadz Muhammad Quthb (94 - 111), Dar Al-Syuruq.
Halaman 24
...keimanan, kekafiran, kebaikan, keburukan, petunjuk, kesesatan, kesombongan para pemimpin dan tokoh, kaum elit yang mewah, para pengikut taklid taklid buta terhadap nenek moyang yang berpaling dari keimanan dan perbaikan, serta menjadi orang yang pertama kali mendapat petunjuk dari kaum yang tertindas dan miskin. Serta menjelaskan tentang kesudahan kekafiran, pembangkangan, kezaliman, dan kefasikan. ⁽¹⁾
- Di antara manfaat mempelajari kisah-kisah tersebut adalah membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan tentang mereka, dan mengabadikan jejak-jejak mereka.
- Di antaranya adalah membantah Ahli Kitab dengan argumen atas apa yang mereka sembunyikan berupa penjelasan dan petunjuk, serta menantang mereka dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab mereka sebelum terjadinya perubahan (tahrīf) dan penggantian (tabdīl), sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil sebelum Taurat diturunkan, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri. Katakanlah (Muhammad), 'Maka bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.'" ⁽²⁾ [Surah Ali 'Imran: 93]
- Di antaranya adalah memupuk rasa cinta kepada para nabi dan rasul serta wali-wali mereka, yang mana hal itu merupakan penyempurna keimanan. Demikian pula memusuhi musuh-musuh mereka dan membenci mereka. Tidak diragukan lagi bahwa mencintai para nabi merupakan salah satu sebab terbesar masuk surga, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." ⁽³⁾
- Di antaranya adalah bahwa saksi (asy-syāhid) sepatutnya mempelajari dan mengetahui apa yang akan dipersaksikannya pada hari Kiamat. Umat ini akan menjadi saksi bagi seluruh nabi pada hari Kiamat bahwa mereka telah menyampaikan risalah, dan Rasulullah akan menjadi saksi atas mereka.Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Nuh akan dipanggil pada hari Kiamat, lalu ia menjawab: 'Aku penuhi panggilan-Mu wahai Rabbku.' Allah bertanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?' Nuh menjawab: 'Ya.' Lalu dikatakan kepada umatnya: 'Apakah dia telah menyampaikan kepada kalian?' Mereka menjawab: 'Tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang datang kepada kami.' Maka Allah bertanya: 'Siapa yang menjadi saksi bagimu?' Nuh menjawab: 'Muhammad dan umatnya.' Maka mereka (umat Muhammad) bersaksi bahwa Nuh telah menyampaikan risalah, dan Rasul menjadi saksi atas mereka." Hal itulah yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala:
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) 'umat pertengahan' (pilihan dan adil) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu." ⁽⁴⁾ [Surah Al-Baqarah: 143] Dan Al-Wasath artinya: Al-'Adl (adil).
(1) Diringkas dan disesuaikan dari "Tafsir Al-Manar" karya Al-Allamah Muhammad Rasyid Ridha (12/41, 42). (2) "Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an" karya Syaikh Manna' Al-Qaththan (hal. 307) dengan penyesuaian dan ringkasan. (3) Hadis mutawatir diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/557) "Al-Adab", dan Muslim (16/187) "Al-Birr wa Ash-Shilah", dari Abdullah bin Mas'ud dengan lafaz ini. Diriwayatkan juga dari Anas dengan lafaz: "Engkau bersama orang yang engkau cintai." Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas, dan dari Safwan bin 'Assal (9/233) "Az-Zuhd". (4) Diriwayatkan oleh Ahmad (3/32), dan Ibn Majah (4284) dengan tambahan di awalnya dengan sanad sahih sesuai syarat =
Halaman 25
= Al-Bukhari dan Muslim, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam "Shahih Ibn Majah" nomor (3457). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6/371) "Al-Anbiya", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz: "Nuh dan umatnya akan datang...".
(1) "Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an" (hal. 307, 308).
• Pelengkap (Takmīl):
Ustadz Manna' Al-Qaththan berkata: Al-Qur'anul Karim mencakup banyak kisah yang diulang di lebih dari satu tempat. Satu kisah yang sama disebutkan berulang kali dalam Al-Qur'an dan disajikan dalam bentuk yang berbeda-beda: dalam hal mendahulukan (at-taqdīm) dan mengakhirkan (at-ta'khīr), ringkas (al-ījāz) dan panjang lebar (al-iṭnāb), serta hal-hal serupa lainnya. Di antara hikmah dari hal ini adalah:
- {1} Penjelasan tentang keindahan balaghah Al-Qur'an pada tingkatannya yang paling tinggi: Di antara keistimewaan balaghah adalah menyajikan satu makna yang sama dalam bentuk yang berbeda-beda. Kisah yang diulang di setiap tempat disampaikan dengan gaya bahasa yang berbeda dari tempat lainnya, dituang dalam cetakan yang berbeda dari cetakan sebelumnya, sehingga manusia tidak merasa bosan dengan pengulangannya, bahkan terlahir kembali dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak ia dapatkan saat membacanya di tempat lain.
- {2} Kekuatan kemukjizatan (I'jaz): Menyajikan satu makna yang sama dalam berbagai bentuk cerita beserta ketidakmampuan bangsa Arab untuk mendatangkan satu bentuk saja darinya merupakan bentuk tantangan (at-tahaddī) yang paling tajam.
- {3} Perhatian besar terhadap posisi kisah tersebut untuk menancapkan pelajarannya dalam jiwa: Pengulangan merupakan salah satu cara penguatan (takkīd) dan tanda-tanda perhatian. Sebagaimana yang terjadi pada kisah Musa bersama Firaun, karena kisah tersebut menggambarkan pertempuran antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bāṭil) dengan penggambaran yang paling sempurna—meskipun kisah tersebut tidak diulang dalam satu surah yang sama, betapapun sering pengulangannya.
- {4} Perbedaan tujuan utama disajikannya kisah tersebut: Disebutkan sebagian maknanya yang mencukupi tujuan pada suatu tempat, dan ditonjolkan makna-makna lain di tempat yang berbeda sesuai dengan tuntutan keadaan (muqtaḍā al-aḥwāl). ⁽¹⁾