Kamis, 06 Agustus 2026

Jenazah masih boleh di Sholati kuburannya setelah berapa lama ?

Jenazah masih boleh di Sholati kuburannya setelah berapa lama ? 

Pertanyaan:

Apakah ada batas waktu untuk melaksanakan shalat jenazah di kuburan? 

Jawaban:

Para ulama memiliki beberapa pendapat dalam masalah ini, terdapat pula lima pendapat mengenai batas waktu shalat jenazah di kuburan, kurang lebih begini pemaparan dalam kitab Mughnil Muhtaj:

1. Boleh selamanya, berdasarkan pendapat ini, boleh menyalatkan kubur para sahabat dan orang-orang setelah mereka hingga hari ini. Nmun pendapat ini dinilai lemah oleh para ulama mazhab

2. Sampai tiga hari, dan tidak boleh setelahnya.  Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah.

3. Sampai satu bulan. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.

4. Selama jasad mayat masih ada di dalam kubur. Jika jasad telah hancur seluruhnya, maka tidak lagi dishalatkan. Apabila ragu apakah jasadnya telah hancur atau belum, maka hukum asalnya dianggap masih ada.

5. Pendapat trakhir yang ashah (terkuat) dalam mazhab Syafi'i: tidak dibatasi oleh lamanya waktu, tetapi dikhususkan bagi orang yang pada saat mayat meninggal sudah termasuk orang yang berkewajiban melaksanakan shalat jenazah.

Artinya, apabila ketika seseorang wafat kita sudah termasuk orang yang terkena kewajiban shalat jenazah (misalnya sudah baligh dan muslim), maka kita boleh menyalatkannya di kuburnya meskipun telah berlalu waktu yang lama.

Sebaliknya, tidak sah menyalatkan jenazah para sahabat, para wali, atau ulama yang wafat berabad-abad yang lalu, karena saat mereka wafat kita belum termasuk orang yang terkena kewajiban shalat jenazah.

Referensi:

وإلى متى يصلى عليه؟ فيه أوجه. أحدها أبدا... قال في المجموع: وقد اتفق الأصحاب على تضعيف هذا الوجه. ثانيها إلى ثلاثة أيام... وبه قال أبو حنيفة. ثالثها إلى شهر وبه قال أحمد. رابعها ما بقي منه شيء في القبر... خامسها يختص بمن كان من أهل الصلاة عليه يوم موته... والأصح تخصيص الصحة بمن كان من أهل فرضها وقت الموت.

Kesimpulan:

Menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab Syafi'i, tidak ada batasan tiga hari, satu bulan, atau satu tahun. Yang menjadi ukuran bukan lamanya waktu, melainkan apakah orang yang menyalatkan sudah termasuk orang yang terkena kewajiban shalat jenazah pada saat mayat itu meninggal dunia.

Wallohu a'lam semoga bermanfaat 
Oleh: Irwan Saleh 
📚 Syekh Khathib as-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 514).