Minggu, 02 Agustus 2026

Ikhwanul Muslimin

Dongeng sebelum tidur, bila salah mohon dikoreksi, bila benar monggo direnungkan. 

Ikhwanul Muslimin adalah sebuah organisasi Islam  yang didirikan di Mesir pada tahun 1928 oleh tokoh pergerakan Islam Bernama Hassan al-Banna . 

Patut dicatatkan bahwa negri Mesir walaupun telah mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1922, namun tetap di bawah kendali Inggris. 

Konon pada tahun 1952, beberapa perwira Mesir diantaranya Gamal Abdul Nasser, Muhammad Najib, dan lainnya, memimpin kudeta terhadap Raja Farouk, dan akhirnya, pada tahun 1953, sistem pemerintahan Mesir berubah dari kerajaan menjadi republik.

Konon pada awal revolusi Mesir berlangsung, semua organisasi dan dan perkumpulan dibubarkan terkecuali organisasi Ikhwanul Muslimin. Bahkan dewan  jendral yang memimpin revolusi saat itu membuka Kembali kasus pembunuhan Hasan Al Banna dan menjatuhi hukuman berat kepada oknum oknum yang dituduh terlibat dalam pembunuhan ini. Sebagaimana tawanan tawanan politik dari anggota Ikhwanul Muslimin juga dibebaskan tanpa syarat.

Isunya, ada kesepakatan rahasia antara Jendral Jamal Abdunnasir dengan Ikhwanul Muslim, salah satunya perihal komitmen Jendral Jamal untuk menegakkan hukum hukum syari’at pada pemerintahan baru, mewajibkan hijab, menutup Gedung Gedung biskop, menghancurkan patut patut, dan lainnya, dan melibatkan Ikhwanul Muslim dalam setiap kebijakan pemerintah.

Namun demikian, setelah dewan jendral berhasil mengubah bentuk pemerintahan Mesir dan Jendral Jamal Abdunnasir didapuk menjadi pemimpin baru Mesir, ia mengingkari keberadaan kesepakatan tersebut.

Tidak cukup sampai di situ, ia juga memerintahkan agar tokoh tokoh Ikhwanul Muslim ditangkap, dan sebagiannya dihukum mati.

Pada fase inilah banyak dari tokoh tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir mencari tempat pelarian dari tangan besi Presiden Jamal Abdunnasir, salah satunya ke Saudi Arabia.

Bagaikan pucuk dicinta ulampun tiba, semangat menyelamatkan tokoh tokoh Ikhwanul Muslim dari tangan besi penguasa Mesir, bersanding dengan kebutuhan pemerintahan Saudi Arabia yang sedang bangkit membangun negrinya, sehingga membutuhkan terhadap tenaga tenaga pengajar dan ilmuwan, sehingga tokoh tokoh tersebut mendapatkan suaka dari pemerintah Saudi Arabia.

Namun demikian, visi mendirikan negara islam yang semula diperjuangkan para tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir, terlanjur melekat dengan jiwa mereka, sehingga di tempat yang barupun mereka mengkader pemuda pemuda Saudi Arabia untuk dikemudian hari mereka gerakkan. 

Puncaknya terjadi pada saat Saudi Arabia menghadapi invasi Iraq ke negri Kuwait, dan Kerajaan Saudi Arabia membela Kuwait dengan mendatangkan pasukan multinasional di bawah pimpinan Amerika Serikat.

Pada kondisi seperti ini para pemuda didikan tokoh tokoh Ikhwanul Muslimin tersebut justru melakukan demonstrasi besar besaran menentang dan konon mereka sampai pada level mengafirkan pemerintah setempat gara gara keputusannya mendatangkan pasukan Amerika dan sekutunya ke negri mereka.

Mungkin sikap tokoh tokoh Ikhwanul Muslimin ini yang menjadikan pemerintah setempat benar benar marah dan kecewa kepada mereka. Merasa telah menyelamatkan mereka dari  tangan besi Jamal Abdunnasir dan pemerintahan lainnya, memberi mereka tempat yang nyaman, namun imbalannya begitu pahit.

Sejak saat itulah Pemerintah Saudi Arabia berubah sikap kepada para tokoh tokoh Ikhwanul Muslim, baik dari kalangan warga negara Mesir, Suria atau lainnya ataupun warga negaranya sendiri.

Kegiatan mereka dilarang, buku buku karya mereka ditarik dari peredaran, dan mereka diberhentikan dari jabatannya atau dideportasi ke negara asalnya. Kisah selanjutnya monggo digoogling sendiri.   

Koreksi dan kritik, monggo disalurkan dikolom komentar, status ini sebatas dongeng yang saya sarikan dari beberapa sumber online, jadi bisa saja kurang akurat.
https://www.facebook.com/share/p/191m8PMQSy/