Mengapa NU membenci Wahabi
Saya hidup di lingkungan NU dan mesantren di pesantren NU, ada hal yang saya tarik kesimpulan bahwa NU memiliki DNA membenci Wahabi. Bahkan bisa diambil kesimpulan, NU didirikan untuk memusuhi Wahabi.
Sebagai seorang pelajar yang terpelajar, saya tentu tidak puas. Mengapa kita digiring untuk membenci Wahabi. Jika banyak kasus, NU melakukan tindakan dengan tujuan untuk membungkam kajian Sunnah, maka sebenarnya tidak heran, karena DNA NU dari dulu memang ditujukan untuk membungkam Wahabi.
Maka sebagai pelajar atau santri, saya butuh mempelajari mendalam siapa itu Wahabi. Yang paling akurat, saya harus belajar dari kitab Muhammad bin Abdul Wahhab, Maka saya pelajari beberapa kitab beliau:
1. Tsalatsatul Ushul
2. Dinul Islam
3. Makna lailahailallah
4. Kasyfu Syubhat
5. Makna Thogut
6. Pembatal Keislaman/ Nawaqidul Islam
7. Kitab Tauhid
8. Al-Qawaidul Arbaah
Saya tidak jumpai beliau menyelisihi pokok-pokok Islam. Saya belajar Islam ini lebih dr 35 tahun, saya belajar ilmu alat, belajar Al-Qur'an dan hadis, fikih dan Ushul fiqh, belajar ulumul Qur'an dan ulumul hadis, dan saya belajar akidah salaf. Beberapa akidah salaf saya hafal, syarhus Sunnah al-muzani, akidah qutaibah bin Sa'id dan al-haiyyah Ibnu abu Dawud, tiga kitab akidah ini saya hafal, dan saya ulang rutin. Saya jujur saja tak menemukan kekeliruan fatal dari buku Muhammad bin Abdul Wahhab.
Maka, saya merasa tidak ada masalah dengan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab, bahkan itu sesuai Qur'an dan Sunnah. Maka saya pun lihat sejarah, tentang tokoh yang pernah disebut sebagai Wahabi. Ternyata semuanya merujuk kepada kesimpulan sama: mereka semua berusaha menegakkan Sunnah. Siapa pun dia, mau Muhammadiyah, persis, Al-Irsyad, semuanya akan di vonis sebagai Wahabi.
Maka, jika dipelajari, tokoh semisal KH Ahmad Dahlan, Imam Bonjol, Buya Hamka, Muhammad Natsir, semuanya pernah disebut sebagai Wahabi.
Saya akan berikan sedikit keyakinan salaf, secara singkat, yang sesuai Qur'an dan Sunnah, kebetulan tidak sesuai dengan tradisi NU, sehingga disematkan sebagai Wahabi:
1. Mengimani sifat uluw yaitu Allah tinggi di atas Arsy, dzat-Nya
2. Mengimani seluruh sifat Allah termasuk sifat dzat. Maka Allah memiliki tangan, memiliki tangan kanan, memiliki wajah, dengan keyakinan bahwa Allah tidak sama dengan makhluk.
3. Mengimani Allah dilihat di hari kiamat, wajah Allah di lihat di surga dengan mata telanjang
4. Mengimani Al-Qur'an adalah Kalamullah, dengan huruf dan suara.
5. Mengimani adzab kubur, nikmat kubur
6. Mengimani bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat
7. Mengimani bahwa penduduk neraka ada yang dikeluarkan untuk dimasukkan ke surga
8. Mengimani syafaat
9. Mengimani takdir
10. Mengimani bahwa tauhid rububiyyah tidak cukup untuk keimanan.
11. Mengimani bahwa pokok ajaran nabi, pokok dakwah nabi adalah lailaha illallah, yaitu tauhid uluhiyyah.
12. Mengimani bahwa Islam ini ketika ada hal yang membuat orang masuk Islam, maka ada hal juga yang membuat mereka keluar dari Islam.
13. Meyakini kewajiban mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah
14. Berkeyakinan bahwa ucapan rasul harus didahulukan dari pendapat seluruh manusia, siapa pun dia.
15. Dst
Sebagai pembelajar, saya tidak akan puas untuk menerima ucapan-ucapan umpatan tanpa hujjah. Karena itu saya pun tidak hanya mau mendengar dari kyai NU, saya dengar dari ustadz Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Salafi.
Akhir-akhir ini, kita sering mendengar pengajian ditutup. Baru saja ada ancaman untuk membakar kantor Muhammadiyah. Maka, saya rasa ini karena kita ini tidak membiasakan untuk menelusuri fakta secara menyeluruh. Kita terlalu merasa diri ini benar, orang lain salah, jika tak sesuai dengan yang saya yakini, saya akan basmi.
Tidak boleh begitu. Kita ini harus menempatkan diri sebagai seorang pencari hidayah. Buka diri, ambil ilmu. Pelajari baik baik. Bangun keikhlasan. Terbuka terhadap pengajaran. Jika misalnya, kita ini santri NU, sebagai dr kecil saya santri NU, umur SD kelas 2 udah belajar Sharaf Kailani, safinatun Najah, sulam Taufik, jurumiyyah, Imrithy, yaqulu, al-fiyyah, tijan Daruri, kifayatul awam, taqrib.
Kita harus uji ilmu kita itu dengan Qur'an dan hadits. Jangan jangan memang ada kekeliruan pada kita. Boleh jadi Muhammadiyah, persis, Al-Irsyad, salafi benar. Jika ada perbedaan pandangan, dialog. Jangan ingin menghancurkan, menghabisi. Kayak kita mau perang saja.
Boleh bangun argumentasi. Tapi, semangat mencari hidayah. Kalau menggunakan istilah ilmu hadist, jika sanad itu mutawwatir, maka pasti benar. Kenapa kita ingin membatasi satu jalur ilmu, hanya dari NU, yang membuat jalur sanad kita Ahad. Boleh punya jalur sanad Ahad? Boleh asal Shahih. Bagaimana jika tak Shahih? Kita akan beragama dengan jalan keliru.
Daripada membangun stigma negatif. Lebih baik kita perluas wawasan, dan perbanyak sanad. Lalu cari kesepakatan. Jika tak sepakat, mana sanad yang sahih. Mana pemahaman yang lurus.
#salafi
#Nahdhotululama
#nahdlatululama
#muhammadiyah
#alirsyad
#persis
#persatuanislam
#islam
#jangkauanluas