Rabu, 12 Agustus 2026

Disunnahkan Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Pendapat Mu'tamad dalam Mazhab Hanbali

Disunnahkan Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Pendapat Mu'tamad dalam Mazhab Hanbali

Disebutkan dalam kitab Ma'unatu Ulin Nuha, 2/324:

Disunnahkan menunaikan shalat berjamaah di masjid menurut riwayat yang paling shahih dalam mazhab.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
'Shalatlah kalian wahai manusia di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya shalat yang paling utama bagi seseorang adalah shalat yang ia kerjakan di rumahnya, kecuali shalat fardu.'.
(Muttafaq 'Alaih dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu).

Maka barang siapa yang mendirikan shalat berjamaah di rumahnya, sungguh ia telah terbebas dari tuntutan kewajiban karena telah menunaikan yang wajib, namun ia kehilangan keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Apabila kepergiannya ke masjid menyebabkan keluarganya shalat sendiri-sendiri (tanpa jamaah), maka pendapat yang lebih kuat berdasarkan riwayat ini adalah ia mendirikan shalat jamaah di rumah.

Seandainya seseorang dihadapkan pada dua pilihan, antara melaksanakan shalat di masjid secara sendirian (munfarid) atau melaksanakannya di rumah secara berjamaah, maka ia wajib memilih shalat di rumah demi menunaikan kewajiban berjamaah.

Namun apabila pilihannya adalah antara shalat di masjid dengan jamaah yang sedikit atau shalat di rumah dengan jamaah yang lebih banyak, maka shalat di masjid tetap lebih utama.

Sebagian ulama mazhab kami berkata: Mendirikan shalat berjamaah di asrama ribath, madrasah, dan tempat-tempat semisalnya, keutamaannya mendekati shalat berjamaah di masjid.

«(وتسن) الجماعة (بمسجد) في أصح الروايات، لقوله صلى الله عليه وسلم: "صلوا أيها الناس في بيوتكم، فإن أفضل صلاة المرء في بيته، إلا المكتوبة". متفق عليه من حديث زيد بن ثابت.

فمن أقامها في بيته، فقد خرج من العهدة بأداء الواجب وفاتته الفضيلة.

نعم إذا كان ذهابه إلى المسجد يؤدي إلى انفراد أهله، فالمتجه على هذه الرواية: إقامتها في بيته.

ولو دار الأمر بين فعل الصلاة في المسجد فرداً وبين فعلها في بيته جماعة، تعين فعلها في بيته تحصيلاً للواجب.

ولو دار الأمر بين فعلها في المسجد في جماعة يسيرة وفعلها في بيته في جماعة كثيرة، كان فعلها في المسجد أولى.

قال بعض أصحابنا: وإقامتها في الربط والمدارس ونحوها قريب من إقامتها بالمسجد.»

عبد الرحمن حبيب الحايطي
____
Tanbih :

Dari sini dapat dipahami beberapa keadaan:

● Jika seseorang bisa shalat berjamaah di masjid, sementara orang-orang di rumahnya tetap dapat melaksanakan shalat berjamaah, maka shalat berjamaah di masjid lebih utama.

● Jika kepergiannya ke masjid menyebabkan keluarganya shalat sendiri-sendiri tanpa jamaah, maka lebih utama baginya shalat berjamaah bersama keluarganya di rumah, karena jamaah adalah kewajiban, sedangkan masjid adalah sunnah.

● Jika dihadapkan pada pilihan shalat sendirian di masjid atau shalat berjamaah di rumah, maka wajib memilih shalat berjamaah di rumah, karena dengan demikian ia menunaikan kewajiban jamaah.

● Jika dihadapkan pada pilihan shalat berjamaah dengan jumlah sedikit di masjid atau shalat berjamaah dengan jumlah lebih banyak di rumah, sementara shalat jamaah di rumah tetap terlaksana meskipun ia pergi ke masjid, maka shalat berjamaah di masjid tetap lebih utama.

Adapun shalat berjamaah di ribath, madrasah, asrama, dan tempat-tempat semisalnya, maka menurut sebagian ulama Hanabilah, keutamaannya mendekati shalat berjamaah di masjid.

Jadi, gambaran sederhananya:
● Jamaah adalah kewajiban, sedangkan masjid adalah sunnah.
● Jika seseorang dapat melaksanakan shalat berjamaah di masjid, sementara orang-orang di rumahnya tetap dapat melaksanakan shalat berjamaah, maka shalat di masjid lebih utama.

Apabila terjadi pertentangan antara menjaga jamaah dan pergi ke masjid, maka kewajiban jamaah didahulukan daripada sunnah pergi ke masjid.

Allahu a'lam
Ibn Nashrullah