IMAM AL ALBANI DAN PERANNYA DALAM BERKHIDMAT PADA ILMU HADITS
Oleh : Syaikh Ali Hasan al Halabi
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sebenar-benarnya. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan hamba-Nya, serta kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.
Amma ba'du:
Sesungguhnya, pembicaraan mengenai ilmu Syaikh kita ini (Imam Al-Albani) sangatlah luas mencakup berbagai sisi, seluas samudra ilmunya, dan membentang dari berbagai penjuru, sebanding dengan keutamaannya. Sungguh, Imam Abu Abdillah Al-Hakim pernah berkata tentang gurunya, Abu Ahmad Al-Hakim:
والله، لا أقولها لأنه شيخي، ولكن لم ترى العيون مثله
"Demi Allah, aku tidak mengatakan ini karena dia adalah guruku, akan tetapi kedua mata ini memang belum pernah melihat orang yang semisal dengannya."
Aku teringat kisah salah seorang saudara kita, sesama penuntut ilmu hadits. Ia sempat menetap di sini selama beberapa tahun, kemudian berpindah ke negara-negara lain yang ia kira di sanalah terdapat (pusat) ilmu, dan ia sangka di sanalah terdapat Sunnah. Suatu hari, ia memintaku untuk mengatur pertemuan via telepon antara dirinya dan Syaikh kita. Atas taufik dari Allah, kebetulan Syaikh kita sedang berkunjung ke tempatku. Aku pun memberitahu beliau, dan beliau menyambut baik percakapan telepon tersebut. Pada waktu yang telah disepakati, saudara kita itu pun berkata—setelah Syaikh kita menyambutnya, menjawab salamnya, dan mendoakannya:
"Wahai Ustadz kami, kami pernah membaca dalam kitab-kitab hadits suatu perkataan:
إذا أردت أن تعرف خطأ شيخك، فجالس غيره
'Jika engkau ingin mengetahui kesalahan gurumu, maka duduklah (bergurulah) kepada orang lain.'
Akan tetapi, di masa ini, di tempat ini, dan di zaman ini, setelah aku melihat, melakukan perjalanan (rihlah), mendengar, menyaksikan secara langsung, dan membandingkan, aku memandang bahwa yang lebih tepat ungkapan tersebut diubah menjadi:
إذا أردت أن تعرف صواب شيخك، فجالس غيره
'Jika engkau ingin mengetahui kebenaran (kebaikan/ketepatan) gurumu, maka duduklah (bergurulah) kepada orang lain.'
Maksudnya, ketika ia membandingkan, ia menyadari bahwa keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada Syaikh berupa kehebatannya yang tiada duanya di abad ini, dalam menjaga Sunnah, memelihara hadits, dan melindungi syariat, ternyata tidak terbatas pada bidang itu saja.
Banyak orang mengira bahwa Syaikh kita—semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya—hanyalah seorang ahli hadits (Muhaddits) semata. Ini adalah kesalahan yang sangat nyata.
Aku sangat yakin bahwa lebih dari 90% fatwa dan jawaban yang diberikan oleh Syaikh kita kepada para penanya dari berbagai belahan bumi dan penjuru dunia, justru bukan tentang (ilmu) hadits dan Sunnah. Meskipun ilmu hadits dan Sunnah adalah bidang di mana Syaikh kita sangat jenius, menonjol dalam berbagai seninya, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam karya tulisnya, namun sekitar 90% keilmuan beliau yang lainnya terletak pada disiplin ilmu yang berbeda; yaitu dalam bidang Fikih, Usul Fikih, Akidah....ya, benar, dalam bidang Akidah...serta keteguhan beliau dalam berdiri menghadapi para ahli bid'ah, orang-orang yang menyimpang, para penyebar khurafat, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya Syaikh kita, rahimahulloh, memiliki andil yang paling besar dan kedudukan yang paling tinggi dalam menjaga kemurnian hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bagaimana tidak? Beliau adalah penulis dua "Silsilah Emas" (maksudnya Ash Shahihah dan Adh Dhaifah_pent) , di mana yang satu menyempurnakan yang lain, dan yang lainnya saling melengkapi.
Silsilah pertama, beliau bersihkan, murnikan, dan tinggikan mutunya untuk menghimpun hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun beliau wafat sebelum merampungkannya secara utuh, yang mana kitab tersebut telah mencapai 7 jilid.
Dan silsilah yang kedua, di dalamnya beliau menyingkirkan cacat dari Sunnah, serta membuang kepalsuan dari hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana sebuah kisah di masa lalu (atsar):
لما جيء بوضاعٍ كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم بضعة آلاف من الأحاديث، فقال: ماذا تفعلون؟ وقد وضعت كذا وكذا من الأحاديث؟ فقالوا له: تعيش لها الجهابذة ينخلونها نخلاً.
Ketika didatangkan kepada sebagian khalifah seorang pemalsu yang telah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak ribuan hadits. Pemalsu itu sesumbar, "Apa yang akan kalian lakukan? Padahal aku telah memalsukan sekian dan sekian banyak hadits!" Maka orang-orang (para ulama) menjawabnya, "Akan senantiasa hidup para ulama 'Jahabizah' (pakar kritikus hadits yang sangat jeli) yang akan menyaringnya dengan saringan yang sebersih-bersihnya."
Begitulah gambaran Syaikh kita, rahimahullah. Demi Allah, sering kali beliau menyambung siang dan malam dalam berbagai waktu dan kesempatan, serta menghabiskan banyak malam dan hari, hanya untuk meneliti satu buah hadits, dan melacak satu orang perawi saja. Namun, karena ketawadhukannya (rendah hati), adab, keutamaan, dan akhlak mulianya, beliau tidak segan untuk menghubungi orang-orang yang beliau ketahui secara kedudukan selevel dengan cucunya, bukan sekadar anak-anaknya. Demi Allah, kami telah belajar dari Syaikh kita 'sekolah' (pelajaran) tentang adab dan akhlak, sebelum kami belajar darinya pelajaran tentang Sunnah, sanad, dan takhrij.
Demikianlah, ilmu itu sempurna sisi-sisinya dan terkumpul segenap aspeknya. Ilmu syar'i bagi penuntutnya tidak boleh hanya sebatas akademis murni; dihafal sekadar untuk dihafal, atau dipresentasikan sekadar untuk dipresentasikan. Sebab, jika perkaranya demikian dalam hal semacam ini, lalu apa bedanya kita dengan kawanannya para kera dan babi, yang Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:
{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا}
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." [QS. Al-Jumu'ah: 5].
Sesungguhnya Sunnah yang Syaikh kita, rahimahullah, hidup karenanya, serta wafat dalam keadaan membela dan berpegang teguh kepadanya atas karunia Allah, dan kami tidak mendahului Allah dalam mensucikan beliau, adalah Sunnah yang memberi petunjuk dan senantiasa membimbing. Sunnah yang meluruskan akhlak, menjernihkan adab, dan yang melaluinya seorang muslim menjadi sempurna, baik secara lahir maupun batin.
Maka, semoga Allah Ta'ala menolong kita dengan perkumpulan kita, kebersamaan kita, kecintaan kita, keteguhan kita (dalam berpegang teguh pada agama), serta sikap saling menasihati di antara kita, untuk melanjutkan perjalanan ini dengan cinta yang tulus dan kasih sayang yang mengalir deras. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Menguasai hal tersebut dan Maha Mampu mewujudkannya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.
(Nadwatu Juhudil Imamil Albani -rahimahullah- fi Khidmatil 'Ilmisy Syar'i)
https://www.facebook.com/share/1DLAdnxr3U/