Ringkasan dari tulisan: Dr. Firanda Andirja
Kisah tentang Syaikh As-Sa’di dengan Syaikh Al-Utsaimin.
Suatu saat, Syaikh Utsaimin datang mengunjungi kota Madinah. Salah seorang kaya mengundang beliau makan malam dirumahnya.
Hadir bersama beliau dalam jamuan makan malam tersebut empat orang, termasuk Syaikh Abdrurrozaq dan Syaikh Utsaimin.
Saat memasuki ruang makan, pandangan Syaikh Utsaimin tertuju pada tumpukan buah-buahan beraneka ragam yang tertata rapi menyerupai gunung kecil.
Syaikh lalu mengambil buah apel dari tumpukan tersebut,
lantas berkata kepada kami, “Tahukah kalian, kapan pertama kali aku memakan buah apel?”
Kemudian, Syaikh Utsaimin pun bercerita, “Dahulu, Syaikh As-Sa’di mengajar buku yang agak berat, yaitu Qawa’id Ibni Rajab,
Kitab ini agak sulit dipahami karena berkaitan dengan kaidah-kaidah fikih,
Pada awalnya, banyak murid beliau yang hadir, namun lama-kelamaan berkurang,
hingga akhirnya saat beliau menamatkan kitab tersebut, hanya tinggal aku sendiri bersama beliau.
Setelah itu, beliau merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir apel berwarna merah. Baru pertama kali aku melihat buah seperti itu.
Beliau berkata, ‘Ini buah tuffahah (apel), yang dimakan bagian dalamnya. Ada bijinya didalam. Jangan dimakan.’
Aku sangat gembira menerima hadiah tersebut, maka aku segera pulang dan mengumpulkan seluruh keluargaku, istri dan anak-anakku,
lalu kutunjukkan kepada mereka buah tersebut. Karena mereka juga baru pertama kali melihat buah apel,
maka ada yang berkata, ‘Apakah ini tomat?’
Akhirnya aku membelah-belah buah apel tersebut, lantas kubagikan kepada keluargaku.”
Demikianlah, Syaikh Abdurrozak menceritakan kisah yang pernah didengarnya langsung dari Syaikh Utsaimin.
Subhanallah, hanya sebutir apel, akan tetapi sangat berkesan di hati Syaikh Utsaimin dan menyenangkan beliau, bahkan keluarga beliau.
Syaikh Abdurrozaq pernah berkata, “Ya Firanda, meskipun sebuah hadiah nilainya tidak seberapa, tetapi bisa jadi sangat menyenangkan hati orang yang diberi.
Suatu saat, aku pernah bertemu seorang penuntut ilmu dari Kuwait, dan aku hampir lupa kalau aku pernah mengajarnya.
Lantas, saat kami bertemu, dia segera memelukku, kemudian mengingatkan aku bahwa dia pernah aku ajar di bangku kuliah.
Bahkan dia berkata, ‘Ya Syaikh, aku tidak pernah lupa hadiah bunga yang Syaikh berikan kepadaku, sampai sekarang masih aku simpan di buku ku”...
Lihatlah, setangkai bunga yang tidak bernilai, tetapi sangat berkesan di hati orang tersebut.
diringkas di Pucang Gading
Al akh dimas widyatama
Di bagikan oleh ustadz asmon nurijal
https://www.facebook.com/share/1EcXQUZ7M9/