Kamis, 06 Agustus 2026

Kaedah Jika Seorang Imam Kaum Muslimin Melakukan Kesalahan/Kekeliruan

Kaedah Jika Seorang Imam Kaum Muslimin Melakukan Kesalahan/Kekeliruan 

Syaikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

ذكر الحافظ أبو موسى المديني فيما جمعه من مناقب الإمام الملقب بقوام السنة أبي القاسم إسماعيل بن محمد التيمي صاحب كتاب: (الترغيب والترهيب)، قال: سمعته يقول: أخطأ محمد بن خزيمة في حديث الصورة، ولا يطعن عليه بذلك، بل لا يؤخذ عنه هذا فحسب.
قال أبو موسى: أشار بذلك إلى أنه قلَّ من إمام إلا وله زلة، فإذا ترك ذلك الإمام لأجل زلته، ترك كثير من الأئمة، وهذا لا ينبغي أن يفعل

"Disebutkan oleh Al-Hafidz Abu Musa Al-Madini dalam apa yang beliau kumpulkan dari manaqib Imam yang dijuluki Qowamus sunnah, Isma'il bin Muhammad At-Taymi, penulis At-Targhib wa At-Tarhib beliau berkata: 'Aku mendengarnya berkata: Muhammad bin Khuzaimah telah keliru dalam hadis tentang Shuroh. Namun karena kekeliruan itu, tidak boleh mencelanya. Dalam masalah itu saja pendapatnya tidak diikuti.'

Abu Musa berkata: Dengan ucapan itu beliau mengisyaratkan bahwa hampir tidak ada seorang imam pun melainkan memiliki satu atau beberapa kekeliruan. Seandainya seorang imam ditinggalkan hanya karena kekeliruannya, niscaya banyak imam yang harus ditinggalkan. Hal seperti ini tidak patut dilakukan." [ Bayan Talbis Jahmiyyah, 6/409 ]

-------------------

Maka sikap yang benar terhadap kekeliruan seorang ulama terbagi menjadi 2 :

1. Tidak mengikutinya dalam Pendapat yang keliru tersebut.

2. Tetap memuliakan kedudukannya, menjaga haknya untuk dihormati, serta tetap mengambil ilmunya dalam perkara-perkara selain yang dia keliru di dalamnya.

Perlu diketahui bahwa kekeliruan para ulama telah tercatat, dikenal, dan dibahas oleh para ahli. Oleh karena itu, tidak setiap orang berhak berbicara lancang terhadap para imam atau mengumbar kesalahan-kesalahan mereka. Hal itu adalah ranah para ulama yang memang mengetahui persoalannya dan mampu menjelaskannya dengan benar!

~Abu Rowiyah Al-Hanbali hafidzohullah