Minggu, 09 Agustus 2026

Pengobatan 'Isyq (Cinta Berlebihan/Bucin) Sebagaimana Ditetapkan oleh Ibnul Qayyim

Berikut adalah terjemahan lengkap dari teks fatwa nomor 9360 di situs Islamweb:

Judul Fatwa:

Pengobatan 'Isyq (Cinta Berlebihan/Bucin) Sebagaimana Ditetapkan oleh Ibnul Qayyim

Nomor Fatwa: 9360 Tanggal: 5 Jumadil Ula 1422 H / 25 Juli 2001 M

Pertanyaan:

Saya terjebak dalam cinta yang murni ('isyq thahir), dan saya terus saling berkirim pesan dengan orang yang saya cintai. Kemudian saya menghentikannya demi menjaga diri dari hal yang haram. Namun, saya merasa bingung, sakit, dan tidak dapat melanjutkan hidup secara normal—dan saya kira dia juga merasakan hal yang sama.

Apakah tetap berkomunikasi darat/jarak jauh itu haram atau makruh? Apakah cinta murni itu haram? Dan apakah keterikatan hati pada seseorang itu haram, padahal hal itu terjadi di luar kehendak diri? Serta apa hukum berkomunikasi dengan orang yang dicintai dari jarak jauh, padahal itu cinta murni yang bertujuan untuk menikah?

Jawaban:

Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa shahbihi, amma ba'du:

Kami memandang perlu untuk menyampaikan pendahuluan penting mengenai topik ini sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yaitu: Bahwa 'isyq (cinta yang teramat sangat/keterikatan hati berlebihan) merupakan salah satu penyakit hati. Alangkah indahnya apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Ath-Thibb An-Nabawi ketika membahas petunjuk Nabi ﷺ dalam mengobati 'isyq.

Ibnul Qayyim berkata:

"Ini adalah salah satu penyakit hati yang berbeda dari penyakit lainnya, baik dari segi zatnya, sebab-sebabnya, maupun pengobatannya. Jika penyakit ini telah mencengkeram dan mengakar kuat, maka para tabib akan kesulitan mengobatinya dan si penderita akan kewalahan menghadapinya..."

Hingga beliau mengatakan:

"Cinta terhadap rupa/sosok manusia hanya akan menimpa hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah Ta'ala, berpaling dari-Nya, dan menggantikan-Nya dengan selain-Nya. Apabila hati telah dipenuhi oleh rasa cinta kepada Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, maka hal itu akan menolak penyakit cinta kepada sosok manusia. Oleh karena itu, Allah Ta'ala berfirman mengenai Nabi Yusuf 'alaihissalam:

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ "Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang disucikan (diberi keikhlasan)." (QS. Yusuf: 24)

Hal ini menunjukkan bahwa keikhlasan merupakan sebab terhindarnya seseorang dari 'isyq serta keburukan dan kekejian yang menjadi buah dari 'isyq tersebut. Mencegah akibat berarti memalingkan sebabnya. Oleh karena itu, sebagian ulama salaf berkata: ''Isyq adalah pergerakan hati yang kosong'—maksudnya kosong dari selain sosok yang dicintainya..."

Beliau juga menjelaskan:

"'Isyq tersusun dari dua hal: menganggap indah sosok yang dicintai, dan adanya ketamakan/harapan untuk mendapatkannya. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka hilang pulalah 'isyq tersebut..."

Kemudian beliau berkata:

"Maksudnya, karena 'isyq adalah suatu penyakit, maka ia dapat diobati. Terdapat beberapa bentuk pengobatan untuknya: Jika terdapat jalan syar'i bagi si pencinta untuk menyatu dengan orang yang dicintainya, maka itulah obatnya. Sebagaimana diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu, maka menikah lah. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya."

Nabi ﷺ menunjukkan dua jenis pengobatan bagi pencinta: pengobatan utama dan pengobatan pengganti. Beliau memerintahkan pengobatan utama—yaitu pernikahan yang memang disyariatkan untuk penyakit ini—sehingga tidak sepatutnya berpaling ke cara lain selama masih ada jalan menuju ke sana. Ibnu Majah juga meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Kami tidak melihat ada solusi bagi dua orang yang saling mencintai sebagaimana pernikahan."

(Selesai nukilan dari kitab Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-'Ibad karya Ibnul Qayyim).

Poin-Poin Ringkasan Pengobatan 'Isyq:

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat merangkum pembahasan mengenai 'isyq ke dalam beberapa poin:

  1. 'Isyq adalah penyakit hati, dan harus diobati.
  2. 'Isyq ada yang halal dan ada yang haram, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah:
    • 'Isyq yang haram: Seperti cinta seorang laki-laki kepada istri orang lain, atau cintanya kepada wanita pezina atau sesama jenis/anak muda (murdān).
    • 'Isyq yang halal: Cinta seorang suami kepada istrinya atau budak wanitanya (pada masa lalu).
  3. Pernikahan adalah obat utama: Salah satu cara pengobatan 'isyq antara laki-laki dan perempuan adalah pernikahan (jika memungkinkan), dan ini adalah obat yang paling mendasar dan paling bermanfaat.
  4. Jika tidak ada jalan untuk bersatu (secara takdir maupun syariat):
    • Misalnya perempuan tersebut sudah menikah dengan orang lain, atau ada halangan yang tidak memungkinkan mereka menikah.
    • Maka obatnya adalah patah harapan (al-ya's) dan mengikis ketamakan/harapan untuk memilikinya. Karena jiwa manusia, jika sudah benar-benar putus asa dari sesuatu, ia akan merasa tenang dan tidak lagi mengejarnya.
  5. Memalingkan pikiran dan melapangkan akal: Jika rasa cinta masih terus membayangi, hendaknya ia menyadari bahwa menyibukkan hati dengan sesuatu yang tidak mungkin dicapai adalah bentuk kebodohan dan gangguan jiwa.
  6. Memikirkan dampak buruknya: Hendaklah ia memikirkan akibat buruk yang timbul dari keterikatan hati tersebut terhadap agama, fisik, dan kehidupannya.
  7. Memohon kepada Allah: Senantiasa berdoa, bertobat, dan memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala agar memalingkan rasa keterikatan hati yang tidak bermanfaat tersebut dan menggantikannya dengan yang halal.

Wallahu A'lam (Dan Allah Maha Mengetahui).