Sabtu, 15 Agustus 2026

Sabqul Lisan (سبق اللسان)

Pernahkah kita tiba-tiba "ngeblank" atau lidah terasa kelu saat membaca surah yang sangat pendek dan sudah dihafal di luar kepala? Fenomena ini disebut Sabqul Lisan (سبق اللسان) atau ketergelinciran lidah, murni karena ketidaksengajaan.

Sabqul lisan (سبق اللسان) berasal dari bahasa Arab yang berarti "tergelincirnya lidah" atau "selip lidah". Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang salah ucap, keliru menyebut kata, atau tanpa sengaja mengubah huruf, harakat, dan kalimat saat berbicara atau membaca.

Menariknya, hal ini tidak hanya terjadi pada kita yang awam. Fitrah manusiawi ini juga pernah dialami oleh para ulama besar, bahkan sekelas pakar bahasa Arab dan Qira'at!

Ada sebuah kisah masyhur di majelis Khalifah Harun Ar-Rasyid yang melibatkan dua ulama raksasa: Imam Al-Kisa'i (pakar utama madzhab Nahwu Kufah) dan Imam Al-Yazidi.

Suatu hari, Imam Al-Kisa'i maju menjadi imam shalat Jahar. Di luar dugaan, lidahnya kelu dan tergelincir (urtija 'alayhi) justru saat membaca surah yang biasa dihafal anak-anak: Surah Al-Kafirun.

Melihat hal itu, seusai shalat, Imam Al-Yazidi menegur dengan nada yang sedikit meremehkan, "Seorang qari Kufah tergelincir di Surah Al-Kafirun?"

Waktu berlalu, dan tibalah waktu shalat Jahar berikutnya. Kali ini, giliran Imam Al-Yazidi yang maju memimpin shalat. Tanpa disangka, lidahnya sendiri "keseleo" dan salah saat membaca bagian dari Surah Al-Fatihah, induknya Al-Qur'an!

Seusai shalat, alih-alih membalas dengan ejekan kasar, Imam Al-Kisa'i memberikan pelajaran moral tingkat tinggi lewat bait syair yang sangat mendalam:

احْفَظْ لِسَانَكَ لَا تَقُولُ فَتُبْتَلَى  إِنَّ الْبَلَاءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ
"Ihfadz lisanaka laa taqul fatubtalaa... Inna al-balaa'a muwakkalun bil-mantiqi."

(Jagalah lisanmu, jangan asal berucap kelak engkau akan diuji... Sesungguhnya ujian (bala) itu sering kali diwakilkan pada ucapan).

Faidah dari Kisah Ini:

1. Kesalahan Lisan adalah Fitrah Manusia
Sekelas Imam Al-Kisa'i yang merupakan rujukan utama ilmu Nahwu dan Imam Al-Yazidi pun bisa mengalami sabqul lisan. Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan spontan (khathaa') tidak meruntuhkan kredibilitas keilmuan dan otoritas akademik seseorang.

2. Bahaya Meremehkan Orang Lain
Teguran bernada meremehkan dari Imam Al-Yazidi langsung dibalas secara kontan oleh Allah. Ketika kita menertawakan kesalahan kecil saudaraku, sangat mungkin Allah akan menguji kita dengan kesalahan yang lebih fatal (salah di Surah Al-Fatihah).

3. Ucapan adalah Doa dan Magnet Ujian
Kaidah Inna al-balaa'a muwakkalun bil-mantiqi adalah peringatan keras. Apa yang kita ucapkan, terutama yang bernada sombong atau merendahkan, sering kali menjadi jalan datangnya ujian bagi diri kita sendiri.

Semoga kita selalu dijaga lisan dan hati kita dari kesombongan. 

Demikian
https://www.facebook.com/share/19TkQVm14F/