Minggu, 16 Agustus 2026

Peringatan dari Tergesa-gesa dalam Menjelaskan Kafir (Takfir)

التحذير من التَّسَرُّع في التكفير 
_______________/_________
كلام العلماء في الحكم بغير ما أنزل الله ونواقض الإسلام 
____________________________________________
قال الإمام عبدالعزيز بن باز رحمه الله: (١٣٣٠ - ١٤٢٠هـ):
______________________/___________________
«من حكم بغير ما أنزل الله فلا يخرج عن أربعة أمور:
١- من قال: أنا أحكم بهذا لأنه أفضل من الشريعة الإسلامية فهو كافر كفراً أكبر.
٢- ومن قال: أنا أحكم بهذا لأنه مثل الشريعة الإسلامية، فالحكم بهذا جائز، وبالشريعة جائز، فهو كافر كفراً أكبر.
٣ - ومن قال: أنا أحكم بهذا، والحكم بالشريعة الإسلامية أفضل، لكن الحكم بغير ما أنزل الله جائز، فهذا كافر كفراً أكبر.
٤ - ومن قال: أنا أحكم بهذا وهو يعتقد أن الحكم بغير ما أنزل الله لا يجوز، ويقول: الحكم بالشريعة الإسلامية أفضل، ولا يجوز الحكم بغيرها ولكنه متساهل، أو يفعل هذا لأمر صادر من حكامه فهو كافر كفراً أصغر لا يخرج من الملة، ويعتبر من أكبر الكبائر».
(الحكم بغير ما أنزل الله وأصول التكفير ص ٧١ - ٧٢).

قال الشيخ العلامة محمد بن عثيمين رحمه الله: (١٣٤٧ - ١٤٢٢هـ):
______________________________/__________________
«الحكم بالتكفير والتفسيق ليس إلينا، بل هو إلى الله تعالى ورسوله ﷺ، فهو من الأحكام الشرعية التي مردها إلى الكتاب والسُّنَّة، فيجب التثبت فيه غاية التثبت، فلا يكفر ولا يفسق إلا من دل الكتاب والسُّنَّة على كفره أو فسقه.
والأصل في المسلم الظاهر العدالة بقاء إسلامه وبقاء عدالته، حتى يَتَحَقَّقَ زوال ذلك عنه بمقتضى الدليل الشرعي. ولا يجوز التساهل في تكفيره أو تفسيقه؛ لأن في ذلك محذورين عظيمين:
ـ أحدهما: افتراء الكذب على الله تعالى في الحكم، وعلى المحكوم عليه في الوصف الذي نبزه به.
ـ والثاني: الوقوع فيما نبز به أخاه إن كان سالماً منه.
ففي صحيح مسلم: عن عبدالله بن عمر رضي الله عنهما أن النبي ﷺ قال: «إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا»، وفي رواية: «إِذَا كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ»، وفيه عن أبي ذر رضي الله عنه عن النبي ﷺ: «ومن دعا رجلاً بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه».
وعلى هذا فيجب قبل الحكم على المسلم بكفر أو فسق أن ينظر في أمرين:
أحدهما: دلالة الكتاب أو السُّنَّة على أن هذا القول أو الفعل موجب للكفر أو الفسق.
الثاني: إنطباق هذا الحكم على القائل المعيَّن أو الفاعل المعين، بحيث تتم شروط التكفير أو التفسيق في حقه، وتنتفي الموانع.
ومن أهم الشروط: أن يكون عالماً بمخالفته التي أوجبت أن يكون كافراً أو فاسقاً؛ لقوله تعالى: ﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾ (النساء: ١١٥)، وقوله تعالى: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾ (التوبة: ١١٥).
ولهذا قال أهل العلم: «لا يكفر جاحد الفرائض إذا كان حديث عهد بإسلام حتى يُبَيَّن له».
(القواعد المثلى في صفات الله وأسمائه الحسنى ص ٨٧ : ٨٩).Peringatan dari Tergesa-gesa dalam Menjelaskan Kafir (Takfir)
Perkataan Para Ulama tentang Menghukumi dengan Selain Apa yang Allah Turunkan dan Pembatal-Pembatal Keislaman
Perkataan Imam 'Abdul 'Aziz bin Baz rahimahullah (1330–1420 H):
"Barang siapa yang menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah, maka ia tidak keluar dari empat kondisi:
 * Barang siapa berkata: 'Aku menghukumi dengan ini karena ia lebih baik daripada Syariat Islam,' maka ia telah kafir dengan kufr akbar (kekafiran besar yang mengeluarkan dari Islam).
 * Barang siapa berkata: 'Aku menghukumi dengan ini karena ia setara/sama dengan Syariat Islam, maka menghukumi dengannya boleh dan dengan Syariat juga boleh,' maka ia telah kafir dengan kufr akbar.
 * Barang siapa berkata: 'Aku menghukumi dengan ini, dan menghukumi dengan Syariat Islam itu lebih baik, tetapi menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah itu diperbolehkan,' maka ia telah kafir dengan kufr akbar.
 * Barang siapa berkata: 'Aku menghukumi dengan ini padahal aku meyakini bahwa menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah tidak boleh, dan ia berkata: menghukumi dengan Syariat Islam itu lebih baik dan tidak boleh menghukumi dengan selainnya, tetapi ia meremehkan (mutasahil) atau melakukan hal ini karena perintah dari penguasanya,' maka ia telah kafir dengan kufr asghar (kekafiran kecil yang tidak mengeluarkan dari agama) dan perbuatan tersebut termasuk dosa besar yang paling besar."
(Al-Hukmu bi Ghairi Maa Anzalallah wa Ushul at-Takfir, hlm. 71–72)
Perkataan Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah (1347–1422 H):
"Hukum mengafirkan (takfir) dan memfasikkan (tafsiq) bukanlah hak kita, melainkan hak Allah Ta'ala dan Rasul-Nya ﷺ. Hal itu termasuk hukum-hukum syariat yang kembalinya kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka wajib berhati-hati dan meneliti secara sungguh-sungguh (at-tatsabbut); tidak boleh mengafirkan atau memfasikkan seseorang kecuali yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah atas kekafiran atau kefasikannya.
Pada dasarnya, seorang muslim yang tampak adil tetap berada dalam keislaman dan keadilannya sampai benar-benar terbukti hilangnya hal tersebut berdasarkan dalil syar'i. Tidak boleh bermudah-mudah dalam mengafirkan atau memfasikkannya, karena pada hal tersebut terdapat dua bahaya besar:
 * Pertama: Mengada-adakan kebohongan atas nama Allah Ta'ala dalam hukum, dan atas orang yang dihukumi dalam sifat yang dituduhkan kepadanya.
 * Kedua: Terjatuh ke dalam apa yang ia tuduhkan kepada saudaranya jika saudaranya tersebut terbebas darinya.
Dalam Shahih Muslim, dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apabila seseorang mengafirkan saudaranya, maka sungguh tuduhan itu kembali kepada salah satu dari keduanya.' Dalam riwayat lain: 'Jika benar apa yang dikatakannya (maka dialah yang kafir), namun jika tidak, maka tuduhan itu kembali kepadanya.' Dan di dalamnya juga dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ: 'Dan barang siapa memanggil seseorang dengan kekafiran atau berkata "wahai musuh Allah" padahal dia tidak demikian, melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya.'
Oleh karena itu, sebelum menghukumi seorang muslim dengan kekafiran atau kefasikan, wajib memperhatikan dua hal:
 * Pertama: Petunjuk Al-Qur'an atau As-Sunnah bahwa perkataan atau perbuatan tersebut memang menyebabkan kekafiran atau kefasikan.
 * Kedua: Penerapan hukum tersebut kepada individu tertentu (al-mu'ayyan), sekiranya syarat-syarat takfir atau tafsiq telah terpenuhi pada dirinya dan tidak ada penghalang-penghalang (mawani').
Di antara syarat yang paling penting adalah: Orang tersebut mengetahui ('alim) pelanggarannya yang dapat menyebabkan dirinya menjadi kafir atau fasik; berdasarkan firman Allah Ta'ala: 'Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.' (QS. An-Nisa': 115), serta firman Allah Ta'ala: 'Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka pelihara.' (QS. At-Taubah: 115).
Oleh sebab itulah para ulama berkata: 'Orang yang mengingkari kewajiban tidak dikafirkan jika ia baru masuk Islam (baru saja mengenal Islam) sampai dijelaskan kepadanya.'"
(Al-Qawa'id al-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil Husna, hlm. 87–89)