https://al-abbaad.com/articles/78-1433-07-09
Hak-Hak Penguasa Muslim: Menasihati Mereka, Mendoakan Mereka, Serta Mendengar dan Taat dalam Hal yang Makruf
(Diterbitkan pada: 9 Rajab 1433 H / 29 Mei 2012)
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada hamba yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa urusan kaum muslimin tidak akan menjadi baik melainkan dengan adanya kepemimpinan yang menegakkan syariat Allah di tengah-tengah mereka, serta memerintah mereka dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya $ صلى الله عليه وسلم $. Dengan keberadaan kepemimpinan tersebut, keamanan jiwa, harta, dan kehormatan mereka dapat terjamin, sehingga mereka mampu menjalankan syiar-syiar agama dalam suasana aman, tenang, dan tenteram.
Di dalam Kitab yang Mulia dan Sunnah yang Suci telah dijelaskan hak-hak penguasa yang wajib dipenuhi oleh rakyatnya, yaitu dengan memberikan nasihat, mendoakan kebaikan bagi mereka, serta mendengar dan taat dalam hal yang makruf (kebaikan).
Allah $ عز وجل $ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa': 59)
Terdapat riwayat dari kalangan Salaf mengenai tafsir kata “ulil amri” dalam ayat ini; sebagian menyebutkan bahwa mereka adalah para ulama, dan sebagian lainnya menyatakan bahwa mereka adalah para penguasa/pemimpin. Kedua makna ini adalah benar dan saling berkaitan, karena ulama membimbing dan mengarahkan, sedangkan penguasa melangsungkan dan menerapkan keputusan.
Ibnu Rajab berkata dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/117):
“Adapun mendengar dan taat kepada para penguasa Muslim, di dalamnya terdapat kebahagiaan dunia. Dengannya pula kemaslahatan hamba dalam kehidupan mereka menjadi teratur, serta menjadi sarana bagi mereka untuk memanifestasikan agama dan menaati Tuhan mereka.”
Betapa indah dan bagusnya perkataan Abdullah bin Mas'ud $ رضي الله عنه $:
“Akan terjadi hal-hal yang samar dan meragukan, maka hendaklah kalian bersikap hati-hati/sabar. Sebab, seseorang dari kalian menjadi pengikut dalam kebaikan itu jauh lebih baik daripada menjadi pemimpin dalam keburukan.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman 7/297)
Seorang penguasa Muslim tidak boleh dibangkang/diberontak (tidak boleh khuruj) jika tampak padanya kefasikan atau kezaliman, selama belum terjadi kekufuran yang nyata (kufur bawwah). Adapun penguasa kafir—baik kafir asli maupun murtad—maka boleh memberontak kepadanya jika diduga kuat mampu menumbangkannya. Hal ini ditunjukkan oleh Sunnah Rasulullah $ صلى الله عليه وسلم $:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7055) dan Muslim (1709) dari Ubadah bin ash-Shamit $ رضي الله عنه $, ia berkata:
“Rasulullah $ صلى الله عليه وسلم $ membaiat kami untuk mendengar dan taat dalam keadaan kami giat maupun malas, dalam kesulitan maupun kemudahan kami, serta ketika hak kami dikesampingkan. Dan kami dibaiat untuk tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata (kufur bawwah) yang kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah mengenai hal itu.”
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (1855) dari Auf bin Malik al-Asyja'i $ رضي الله عنه $, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah $ صلى الله عليه وسلم $ bersabda:
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah boleh kami memerangi mereka dengan pedang?” Beliau menjawab: “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian.”
Nasihat untuk Penguasa
Dan di antara hak-hak penguasa Muslim atas rakyatnya adalah menasihati mereka secara rahasia, santun, dan lembut, serta mendengar dan taat kepada mereka dalam hal yang makruf.
Di antara dalil-dalil kewajiban menasihati mereka adalah sabda Nabi $ صلى الله عليه وسلم $:
“Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan masyarakat umum.”
(HR. Muslim, no. 95)
Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ (2/990) dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah $ رضي الله عنه $, bahwa Rasulullah $ صلى الله عليه وسلم $ bersabda:
“Sesungguhnya Allah meridai tiga hal untuk kalian dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridai kalian untuk menyembah-Nya dan tidak menysekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berpegang teguh pada tali (agama) Allah semuanya dan tidak bercerai-berai, serta saling menasihati terhadap orang yang Allah serahkan urusan kalian kepadanya. Dan Dia membenci bagi kalian: 'katanya dan katanya' (desas-desus/kabar burung), membuang-buang harta, serta banyak bertanya.”
(HR. Ahmad dalam Musnadnya, no. 8799; hadis sahih)
Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 21590) dengan sanad yang sahih dari Zaid bin Tsabit $ رضي الله عنه $ dalam hadis yang panjang, di dalamnya disebutkan:
“Tiga hal yang mana hati seorang muslim tidak akan pernah menjadi dengki/khianat (yaghillu) atasnya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati para penguasa, dan selalu komitmen bersama jamaah kaum muslimin (luzumul jama'ah); karena sesungguhnya doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
Ibnu al-Qayyim berkata dalam Miftah Dar as-Sa'adah (hal. 79) mengenai makna ((لا يغِلُّ عليهنَّ قلبُ مسلم)):
“Artinya, hati seorang muslim tidak akan menyimpan kedengkian dan tidak tersisa lagi kebencian di dalamnya jika memiliki tiga hal ini. Sebab, ketiga hal tersebut dapat menghilangkan kedengkian, kecurangan, kerusakan hati, dan rasa dendamnya.”
Hingga beliau berkata:
“Dan sabda Beliau ((ومناصحةُ أئمّة المسلمين)) [saling menasihati para pemimpin kaum muslimin]: Ini juga meniadakan kedengkian dan kecurangan, karena nasihat tidak mungkin menyatu dengan kedengkian; sebab keduanya saling berlawanan. Barang siapa menasihati para pemimpin dan umat, maka ia telah terbebas dari kedengkian. Dan sabda Beliau ((ولزومُ جماعتهم)) [dan komitmen bersama jamaah mereka]: Ini juga termasuk hal yang membersihkan hati dari kedengkian dan kecurangan. Sebab, orang yang komitmen bersama jamaah kaum muslimin akan menyukai bagi mereka apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri, membenci bagi mereka apa yang ia benci bagi dirinya, merasa sedih atas apa yang menyusahkan mereka, dan merasa senang atas apa yang membahagiakan mereka.”
An-Nawawi berkata dalam Syarh 'ala Muslim (2/38):
“Adapun nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin adalah menolong mereka dalam kebenaran, menaati mereka di dalamnya, memerintahkan mereka dengannya, mengingatkan dan menasihati mereka dengan lembut dan santun, memberitahukan mereka tentang hak-hak kaum muslimin yang terlewat atau belum sampai kepada mereka, tidak membangkang/merebut kekuasaan dari mereka, serta menyatukan hati masyarakat untuk menaati mereka. Al-Khatthabi $ رحمه الله $ berkata: 'Termasuk nasihat bagi mereka adalah shalat di belakang mereka, berjihad bersama mereka, menyerahkan sedekah/zakat kepada mereka, tidak membangkang dengan pedang terhadap mereka jika tampak kezaliman atau buruknya perlakuan dari mereka, tidak menipu mereka dengan pujian palsu, dan mendoakan kebaikan untuk mereka.'”
Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (1/138):
“Dan nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin adalah membantu mereka dalam menjalankan amanah yang dibebankan kepada mereka, mengingatkan mereka saat lalai, menutup kekurangan mereka saat ada kekhilafan, menyatukan kalimat (suara) untuk mereka, mengembalikan hati masyarakat yang menjauh kepada mereka, dan di antara nasihat terbesar bagi mekea adalah mencegah mereka dari kezaliman dengan cara yang terbaik. Dan termasuk dalam cakupan 'pemimpin kaum muslimin' adalah para imam ijtihad (para ulama), dan nasihat untuk mereka dilakukan dengan menyebarkan ilmu mereka, menyebutkan keutamaan mereka, dan berprasangka baik terhadap mereka.”
Ibnu ash-Shalah berkata sebagaimana tercantum dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/223):
“Nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin adalah membantu mereka dalam kebenaran, menaati mereka di dalamnya, mengingatkan mereka padanya, menasihati mereka dengan lembut dan santun, menjauhi tindakan menyerang/merebut kekuasaan dari mereka, serta mendoakan kebaikan dan taufik untuk mereka.”
Ibnu Rajab berkata dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/222):
“Adapun nasihat untuk para pemimpin kaum muslimin adalah mencintai kebaikan, petunjuk, dan keadilan bagi mereka, menyukai bersatunya umat di bawah kepemimpinan mereka, membenci perpecahan umat atas mereka, beragama dengan menaati mereka dalam ketaatan kepada Allah $ عز وجل $, membenci orang yang berpandangan untuk membangkang terhadap mereka, serta menyukai pemuliaan mereka dalam ketaatan kepada Allah $ عز وجل $.”
Mendoakan Kebaikan Bagi Penguasa
Di antara hak para penguasa Muslim atas rakyatnya adalah mendoakan kebaikan dan kesalehan untuk mereka. Karena kesalehan penguasa akan membawa kebaikan bagi diri mereka sendiri dan bagi seluruh rakyat.
Diriwayatkan dari Imam Fudhai bin 'Iyadh $ رحمه الله $ bahwa beliau berkata:
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab (pasti dikabulkan), niscaya tidaklah aku jadikan doa tersebut melainkan untuk penguasa.”
Dikatakan kepadanya: “Mengapa demikian, wahai Abu 'Ali?” Beliau menjawab:
“Jika aku mendoakan kebaikan untuk diriku sendiri, maka kebaikan itu hanya terbatas untuk diriku. Namun jika aku mendoakan kebaikan untuk penguasa, lalu penguasa tersebut menjadi baik, maka dengan kebaikannya itu akan membawa kemaslahatan bagi seluruh hamba dan negeri.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 8/91 dan Al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah hal. 116)
Al-Barbahari berkata dalam kitabnya Syarh as-Sunnah (hal. 116):
“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan bagi penguasanya, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (penyimpang). Namun apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasanya, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pengikut Sunnah, insya Allah.”
Aku memohon kepada Allah $ عز وجل $ agar memperbaiki keadaan kaum muslimin di mana pun berada, mengangkat orang-orang terbaik sebagai pemimpin mereka dan menjauhkan orang-orang jahat dari mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.