كراهية التغالي في مهور النساء
_______________/_______________________________
■ سؤال: التغالي في مهور النساء، هل يحل لأهل المرأة أكله أم لا؟ وما الدليل(١)؟
● الجواب: يكره التغالي في مهور النساء، ويسن التخفيف في ذلك والتيسير، ولكن لا يحرم المهر على المرأة ولو كان فيه مغالاة؛ لقول الله تعالى: ﴿وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَىٰهُنَّ قِنطَارًا﴾ [النساء: ٢٠] الآية، والقنطار هو المال الكثير، وقد تزوج النبي ﷺ أم حبيبة بأربعمائة دينار، سلَّمها لها النجاشي عنه ﷺ، قيمتها أربعة آلاف درهم في ذلك الوقت.
الحث على تيسير المهور وعدم استيلاء الآباء عليها
_____________________/__________________
■ سؤال: المهر عندنا في سوريا مئة وخمسون ليرة، وأغلب الرجال لا يوجد عندهم نصف هذا المهر، والأب يأخذ المهر من ابنته إجباري، هل هذا حرام أم حلال(٢)؟
● الجواب: يجب على الآباء، وعلى جميع الأولياء أن يتقواالله، وأن يحرصوا على تزويج بناتهم بما يسر الله من المهر، وليس لهم أن يشددوا في ذلك، بل عليهم أن يقبلوا القليل إذا رضيت به البنت، فإن تزويجها ولو بالقليل خير من بقائها، ولا يجوز لهم الاعتراض عليها إذا سمحت، ولا أكل صداقها بغير حق وهي في حاجة إليه، إنما يجوز للأب أخذ الفضل، أما الحاجة التي تحتاجها البنت فهي مقدمة وليس لبقية الأولياء أن يأخذوا منه شيئاً إلا بإذنها إذا كانت رشيدة.
فالمقصود من هذا: أن الواجب على الآباء وعلى جميع الأولياء النظر في مصلحة البنات، والعناية بتزويجهن ولو بالمهر القليل، ولو بدرهم واحد، ولو بدرهمين، المقصود عفتها وسلامتها والحرص على ستر عرضها مع ما يسر الله في ذلك من الخير العظيم، والتسبب في وجود الذرية وعفة الرجال والنساء جميعاً.
فالواجب على الأولياء أن يساعدوا في هذا، وألا يهلكهم الطمع في المال حتى يمنعوا مولياتهم من الزواج، كل هذا خطر عظيم.
وهذه نصيحتي لجميع الأولياء في أي مكان، في المملكة العربية السعودية أو في حلب، أو في أي مكان من أرض الله، نصيحتي لهم جميعاً أن يتقوا الله، وأن يزوجوا بناتهم وأخواتهم ومولياتهم بما يسر الله من المهر ولو كان قليلاً، وأن يحرصوا على الطيب صاحب الدين.
ونصيحتي أيضاً للبنات وجميع النِّساء أن يرضَيْن بالقليل في سبيل العفة واختيار الزوج الصَّالح ولا يهمهنَّ المال، فالمال أمره سهل، إذا يسر الله الزواج جاء المال.
فينبغي للمؤمن أن يحذر ما حرم الله عليه وأن يحرص على ما شرع الله له، كما قال ﷻ: ﴿وَأَنكِحُوا۟ ٱلۡأَیَـٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّـٰلِحِینَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن یَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ یُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ﴾ [النور: ٣٢] فبين سبحانه أن النكاح من أسباب الغنى.
وفي الحديث عنه ﷺ أنه قال: «ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ منهم: المَتَزَوِّجُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ» (١) أو كما قال عليه الصلاة والسلام.
فالمقصود: أن النساء والرجال في حاجة إلى التشجيع على الزواج، وفي حاجة إلى الإعانة وفي حاجة إلى تخفيف المهور، وفي حاجة إلى تخفيف الولائم وتقليلها، كل هذا من أسباب تسهيل الزواج للجميع.
فنسأل الله أن يوفق الأولياء والنساء جميعاً لما فيه صلاح الجميع، ولما فيه سعادة الجميع، وأن يعيذ الأولياء من الطمع ويعيذ النساء من الطمع أيضاً والتأسي بمن لا يبالي بهذه الأمور، فإن القدوة بأهل الشر لا خير فيها، وإنما القدوة بأهل الخير والاستقامة والعفة وإيثار الآخرة، رزق الله الجميع التوفيق.
:
Dibencinya (Makruh) Berlebih-lebihan dalam Mahar Wanita
■ Pertanyaan: Berlebih-lebihan dalam menentukan mahar wanita, apakah halal bagi keluarga wanita untuk memakannya (menggunakannya) atau tidak? Apa dalilnya(1)?
● Jawaban: Makruh hukumnya berlebih-lebihan dalam mahar wanita, dan disunnahkan untuk meringankan serta memudhkannya. Meskipun demikian, mahar tersebut tidaklah haram bagi si wanita walaupun terdapat unsur berlebih-lebihan di dalamnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
> ﴿وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَىٰهُنَّ قِنطَارًا﴾
> "...sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak (qintar)..." [QS. An-Nisa: 20]
>
Qintar adalah harta yang sangat banyak. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri pernah menikahi Ummu Habibah dengan mahar empat ratus dinar yang diserahkan oleh Raja Najasyi atas nama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, di mana nilainya pada saat itu setara dengan empat ribu dirham.
Anjuran Memudahkan Mahar dan Dilarangnya Para Ayah Menguasainya
■ Pertanyaan: Mahar di tempat kami di Suriah adalah seratus lima puluh lira, dan sebagian besar laki-laki tidak memiliki separuh pun dari jumlah tersebut. Namun, sang ayah mengambil mahar tersebut dari putrinya secara paksa. Apakah hal ini haram atau halal(2)?
● Jawaban: Wajib bagi para ayah dan seluruh wali untuk bertakwa kepada Allah, serta berupaya keras menikahkan putri-putri mereka dengan mahar yang dimudahkan oleh Allah. Mereka tidak boleh mempersulit hal tersebut, melainkan harus menerima jumlah yang sedikit jika si gadis telah ridha. Sebab, menikahkan putri mereka—meskipun dengan mahar yang sedikit—jauh lebih baik daripada membiarkannya membujang.
Para wali tidak boleh menentangnya jika si gadis telah merelakannya, dan tidak boleh memakan (mengambil) maharnya tanpa hak padahal si gadis membutuhkannya. Seorang ayah hanya boleh mengambil kelebihannya saja, sedangkan kebutuhan yang diperlukan oleh si gadis harus lebih didahulukan. Adapun wali selain ayah, tidak berhak mengambil mahar tersebut sedikit pun kecuali atas izin si wanita jika ia sudah dewasa (rasyidah).
Maksud dari hal ini adalah: Kewajiban bagi para ayah dan seluruh wali adalah memperhatikan kemaslahatan para putri mereka dan berfokus untuk menikahkan mereka, meskipun dengan mahar yang sedikit—walau hanya satu atau dua dirham. Tujuan utamanya adalah menjaga kehormatan, keselamatan, dan kesucian diri mereka seiring dengan kebaikan besar yang Allah mudahkan, serta menjadi sebab terwujudnya keturunan dan terjaganya kehormatan laki-laki maupun perempuan.
Wajib bagi para wali untuk membantu dalam hal ini dan tidak dibiarkan dikuasai oleh ketakutan akan keserakahan harta hingga menghalangi wanita yang berada di bawah perwaliannya untuk menikah. Semua ini mengandung bahaya yang sangat besar.
Ini adalah nasihat saya bagi seluruh wali di mana pun berada, baik di Kerajaan Arab Saudi, di Aleppo, maupun di belahan bumi Allah manapun. Nasihat saya kepada mereka semua: Bertakwalah kepada Allah, nikahkanlah putri, saudari, dan wanita di bawah perwalian kalian dengan mahar yang dimudahkan oleh Allah meskipun sedikit, serta utamakanlah laki-laki yang baik dan taat beragama.
Nasihat saya juga kepada para gadis dan seluruh wanita: Ridhalah dengan mahar yang sedikit demi menjaga kesucian diri dan demi memilih suami yang shalih, serta janganlah terlalu merisaukan urusan harta. Harta adalah perkara yang mudah; jika Allah telah memudahkan pernikahan, maka harta akan datang dengan sendirinya.
Seorang mukmin hendaknya berhati-hati terhadap apa yang diharamkan Allah dan bersemangat menjalankan apa yang disyariatkan-Nya, sebagaimana firman-Nya Jalla wa 'Ala:
> ﴿وَأَنكِحُوا۟ ٱلۡأَیَـٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّـٰلِحِینَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن یَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ یُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ﴾
> “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” [QS. An-Nur: 32]
>
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu sebab datangnya kecukupan/kekayaan. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
> "Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, di antaranya: Orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya." (atau sebagaimana yang beliau sabrakan).
>
Maksudnya: Para wanita dan pria sama-sama membutuhkan dorongan untuk menikah, bantuan, periringanan mahar, serta penyederhanaan dan pengurangan biaya walimah. Semua ini termasuk faktor yang memudahkan pernikahan bagi semua orang.
Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada para wali dan seluruh wanita menuju apa yang di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan bagi semuanya. Kita juga memohon agar Allah melindungi para wali dari sifat serakah, serta melindungi para wanita dari keserakahan dan meniru orang-orang yang tidak peduli pada perkara-perkara ini. Sesungguhnya meneladani pelaku keburukan tidak ada kebaikannya sama sekali; meneladani itu hanyalah kepada orang-orang yang baik, istiqamah, menjaga kehormatan diri, dan lebih mengutamakan akhirat. Semoga Allah menganugerahkan taufik-Nya kepada kita semua.