Munazharah Ibnul Qayyim dengan Tokoh Yahudi : Dalil Kenabian Muhammad ﷺ dari Sisi Akal dan Realitas
Dalam kitab Hidayatul Hayara fi Ajwibati al-Yahud wa an-Nashara, Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan sebuah perdebatan (munazharah) yang pernah beliau lakukan di Mesir dengan seorang tokoh Yahudi yang sangat terpandang, baik dalam keilmuan maupun kepemimpinannya. Kisah ini disebutkan dalam Hidayatul Hayara, tahqiq Dr. Utsman Jum'ah Dumairiyyah, hlm. 200–202.
Ibnul Qayyim memulai dialog tersebut dengan sebuah pernyataan yang mengejutkan lawan bicaranya. Beliau berkata:
"Kalian, dengan mendustakan Muhammad ﷺ, sesungguhnya telah mencela Allah dengan celaan yang paling besar."
Tokoh Yahudi itu terkejut mendengar ucapan tersebut dan bertanya bagaimana mungkin tuduhan seperti itu diarahkan kepada mereka. Ibnul Qayyim kemudian menjelaskan argumennya secara bertahap.
Beliau mengatakan bahwa apabila kaum Yahudi meyakini Muhammad ﷺ bukan seorang rasul, melainkan sekadar penguasa yang menguasai manusia dengan pedang, maka selama 23 tahun beliau telah mengaku sebagai utusan Allah, menyampaikan perintah dan larangan atas nama-Nya, mengklaim menerima wahyu dari-Nya, mengubah keadaan bangsa-bangsa, memerangi musuh-musuhnya, serta menisbatkan seluruh keberhasilannya kepada pertolongan Allah.
Menurut Ibnul Qayyim, dalam keadaan seperti itu hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Allah tidak mengetahui apa yang dilakukan Muhammad ﷺ. Kedua, Allah mengetahuinya.
Kemungkinan pertama jelas batil, sebab berarti Allah tidak mengetahui sesuatu yang diketahui manusia. Ini merupakan penisbatan kebodohan kepada Allah, dan tidak mungkin diterima oleh orang yang berakal.
Apabila kemungkinan kedua yang dipilih, yakni Allah mengetahui semua yang dilakukan Muhammad ﷺ, maka muncul pertanyaan berikutnya: apakah Allah mampu mencegahnya atau tidak?
Jika dikatakan Allah tidak mampu mencegahnya, maka itu berarti menisbatkan kelemahan kepada Allah dan meruntuhkan makna rububiyyah-Nya.
Namun jika Allah mampu mencegahnya, sementara pada kenyataannya Allah justru menolongnya, meninggikan dakwahnya, memenangkan peperangannya, mengabulkan doa-doanya, menampakkan berbagai mukjizat di tangannya, dan menjadikan musuh-musuhnya selalu gagal mengalahkannya, maka tidak mungkin semua itu diberikan kepada seorang pendusta yang mengatasnamakan Allah.
Menurut Ibnul Qayyim, menisbatkan hal semacam itu kepada Allah merupakan tuduhan yang sangat buruk. Sebab konsekuensinya adalah Allah membiarkan seorang pendusta terbesar dalam sejarah berbicara atas nama-Nya selama puluhan tahun, bahkan terus-menerus menguatkan dan membenarkan klaimnya melalui berbagai bentuk pertolongan dan mukjizat. Hal seperti ini tidak layak dinisbatkan kepada seorang raja yang adil dari kalangan manusia, apalagi kepada Rabb semesta alam.
Mendengar argumentasi tersebut, tokoh Yahudi itu akhirnya mengakui:
"Mahasuci Allah dari perbuatan membiarkan hal seperti itu terjadi pada seorang pendusta yang mengada-ada. Bahkan beliau adalah seorang nabi yang jujur. Barangsiapa mengikutinya maka ia akan beruntung dan bahagia."
Ibnul Qayyim lalu bertanya, "Jika demikian, apa yang menghalangimu untuk masuk ke dalam agamanya?"
Tokoh Yahudi itu menjawab bahwa menurut keyakinannya, Muhammad ﷺ hanya diutus kepada kaum ummi yang tidak memiliki kitab suci, sedangkan orang Yahudi telah memiliki Taurat sehingga tidak wajib mengikutinya.
Ibnul Qayyim membantah alasan tersebut dengan mengatakan bahwa telah diketahui secara mutawatir oleh kalangan awam maupun ulama bahwa Nabi Muhammad ﷺ menyatakan dirinya sebagai rasul untuk seluruh manusia. Beliau juga memerangi kaum Yahudi dan Nasrani meskipun mereka adalah Ahli Kitab. Karena itu, apabila kenabian beliau telah terbukti benar, maka wajib pula membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, termasuk universalitas risalahnya.
Setelah mendengar bantahan tersebut, tokoh Yahudi itu terdiam dan tidak mampu memberikan jawaban lagi.
Setelah menyebutkan kisah ini, Ibnul Qayyim menuturkan munazharah lain yang terjadi antara seorang ulama Muslim dan seorang tokoh Yahudi di wilayah Maghrib (Afrika Utara).
Dalam dialog tersebut, ulama Muslim itu membawakan salah satu kabar gembira yang terdapat dalam Taurat tentang kedatangan seorang nabi yang akan dibangkitkan "dari saudara-saudara Bani Israil", sebagaimana disebutkan dalam kitab suci mereka.
Tokoh Yahudi itu menafsirkan bahwa nabi yang dimaksud adalah Yusya' bin Nun.
Namun ulama Muslim tersebut menolak penafsiran itu dengan beberapa argumentasi.
Pertama, menurut Taurat yang ada di tangan mereka sendiri, tidak akan muncul lagi di tengah Bani Israil seorang nabi yang setara dengan Musa. Karena itu, Yusya' bin Nun tidak dapat menjadi sosok yang dimaksud dalam nubuat tersebut.
Kedua, redaksi Taurat menyebutkan bahwa nabi tersebut berasal dari "saudara-saudara" Bani Israil. Yang dimaksud dengan saudara Bani Israil bukanlah Bani Israil sendiri, melainkan keturunan Ismail dan keturunan Al-Ish (Esau). Keturunan Ismail adalah bangsa Arab, sedangkan keturunan Al-Ish dikenal sebagai bangsa Romawi.
Menurut ulama tersebut, tidak ada nabi dari bangsa Romawi yang sesuai dengan kriteria nubuat itu. Karena itu, kandidat yang tersisa hanyalah bangsa Arab, yaitu keturunan Ismail alaihissalam.
Beliau juga menambahkan bahwa dalam Taurat disebutkan tentang Ismail bahwa ia akan mendirikan kemahnya di tengah-tengah negeri saudara-saudaranya.
Saudara-saudara yang dimaksud adalah Bani Israil. Ini dipahami sebagai isyarat akan munculnya seorang nabi dari keturunan Ismail yang kekuasaan dan umatnya akan berdiri di wilayah yang berdekatan dengan negeri-negeri Bani Israil, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Ibnul Qayyim kemudian menjadikan kisah-kisah munazharah tersebut sebagai bagian dari argumentasinya bahwa dalil kenabian Muhammad ﷺ tidak hanya ditegakkan melalui nash dan mukjizat, tetapi juga melalui konsekuensi logis yang tidak dapat dihindari.
Menurut beliau, siapa saja yang mengakui keesaan Allah, kesempurnaan ilmu-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya, serta realitas kemenangan dan pertolongan yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ, maka pada akhirnya akan sampai kepada kesimpulan bahwa beliau benar-benar utusan Allah bagi seluruh manusia.
Ibn Nashrullah
Bahan bacaan :
📚 Hidayatul Hayara fi Ajwibati al-Yahud wa an-Nashara, karya Ibnul Qayyim rahimahullah, tahqiq Dr. Utsman Jum'ah Dumairiyyah, hlm. 200–202