Minggu, 23 Agustus 2026

Apabila berkumpul pada diri seorang individu antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, kemaksiatan dan sunnah, serta bid'ah; maka ia berhak mendapatkan loyalitas (rasa cinta/dukungan) dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan ia juga berhak menerima permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya

لأوليائه، والبغض لأعدائه، والإكرام لأوليائه، والإهانة لأعدائه.
وإذا اجتمع في الرجل الواحد خير وشَرّ، وفجور وطاعة، ومعصية وسنة وبدعة؛ استحق من الموالاة والثواب بقدر ما فيه من الخير، واستحق من المعاداة والعقاب بحسب ما فيه من الشر، فيجتمع في الشخص الواحد موجبات الإكرام والإهانة، فيجتمع له من هذا وهذا، كاللص الفقير تقطع يده لسرقته، ويعطى من بيت المال ما يكفيه لحاجته.
هذا هو الأصل الذي اتفق عليه أهل السنة والجماعة، وخالفهم الخوارج والمعتزلة ومن وافقهم عليه، فلم يجعلوا الناس إلا مستحقاً للثواب فقط، وإلا مستحقاً للعقاب فقط.
وأهل السنة يقولون: إن الله يعذب بالنار من أهل الكبائر من يعذبه، ثم يخرجهم منها بشفاعة من يأذن له في الشفاعة بفضل رحمته، كما استفاضت بذلك السنة عن النبي ﷺ.
والله - سبحانه وتعالى - أعلم، وصلى اللهم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

...kepada para kekasih-Nya, kebencian kepada musuh-musuh-Nya, pemuliaan kepada para kekasih-Nya, serta penghinaan/pemberian hukuman kepada musuh-musuh-Nya.
Apabila berkumpul pada diri seorang individu antara kebaikan dan keburukan, kefasikan dan ketaatan, kemaksiatan dan sunnah, serta bid'ah; maka ia berhak mendapatkan loyalitas (rasa cinta/dukungan) dan pahala sesuai dengan kadar kebaikan yang ada padanya, dan ia juga berhak menerima permusuhan dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya. Maka, pada diri satu orang bisa berkumpul sebab-sebab pemuliaan sekaligus penghinaan (hukuman). Contohnya seperti seorang pencuri yang miskin: tangannya dipotong karena perbuatannya mencuri, namun ia tetap diberi bagian dari baitul mal (kas negara) sekadar untuk memenuhi kebutuhannya.
Prinsip inilah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sedangkan kaum Khawarij dan Mu'tazilah serta orang-orang yang sependapat dengan mereka menyelisihinya. Mereka tidak menjadikan manusia melainkan hanya berhak mendapat pahala saja, atau hanya berhak mendapat hukuman saja.
Adapun Ahlus Sunnah berpendapat: Sesungguhnya Allah akan mengazab di dalam neraka sebagian pelaku dosa besar yang dikehendaki-Nya, kemudian Allah mengeluarkan mereka dari neraka melalui syafaat orang yang diizinkan-Nya untuk memberi syafaat atas karunia rahmat-Nya, sebagaimana hal ini telah dijelaskan secara mutawatir/luas dalam Sunnah dari Nabi ﷺ.
Wallahu – subhanahu wa ta'ala – a'lam, semoga shalawat Allah tercurah kepada Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.