Tidak akan kita dapati riwayat Nabi berinteraksi dengan ulil amri di masa beliau karena beliau sendiri ulil amri dan yang lain statusnya sebagai bawahan. Yang ada adalah sunnah qauliyyah berupa perintah dan larangan terkait penguasa sebagai pedoman untuk para sahabat dan generasi setelahnya.
Maka kita lihat bagaimana para salaf berusaha memberikan udzur kepada penguasanya.
1. Seorang lelaki dari Mesir bertanya kepada 'Abdullah bin 'Umar tentang tiga perkara yang dianggap sebagai celaan terhadap 'Utsman bin Affan yaitu: mundur pada Perang Uhud, tidak mengikuti Perang Badar, dan tidak hadir dalam Baiatur Ridhwan.
Ibnu 'Umar tidak mengingkari faktanya, tetapi menjelaskan konteks yang sengaja dihilangkan. Beliau mengatakan:
تَعَالَ أُبَيِّنْ لَكَ؛ أَمَّا فِرَارُهُ يَوْمَ أُحُدٍ، فَأَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ وَغَفَرَ لَهُ، وَأَمَّا تَغَيُّبُهُ عَنْ بَدْرٍ، فَإِنَّهُ كَانَتْ تَحْتَهُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَتْ مَرِيضَةً... وَأَمَّا تَغَيُّبُهُ عَنْ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ... فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عُثْمَانَ...
"Kemarilah, akan kujelaskan kepadamu. Adapun mundurnya pada hari Uhud, aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkan dan mengampuninya. Adapun ketidakhadirannya dalam Perang Badar, ketika itu putri Rasulullah yang menjadi istrinya sedang sakit (ia menjaganya)… Adapun ketidakhadirannya dalam Baiatur Ridhwan, itu karena Rasulullah telah mengutus 'Utsmān ke Makkah.."
Ibnu 'Umar kemudian berkata:
اذْهَبْ بِهَا الْآنَ مَعَكَ.
"Sekarang bawalah penjelasan ini bersamamu."
(HR Al Bukhari no 3698)
Ibnu 'Umar tidak menolak fakta yang benar, tetapi menolak framing yang membuang konteks agar tindakan 'Utsman terlihat buruk. Itulah esensi dari mencarikan udzur.
Jika masih ingin dilanjutkan ke part berikutnya, boleh ketik "lanjut" di komentar, insyaallah nanti dipost lagi tambahannya.
Ustadz ristiyan ragil