Minggu, 23 Agustus 2026

Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Bid'ah

Halaman 14
Judul Buku: Al-Ibda' fi Kamalisy-Syar'i wa Khatharil-Ibtida' (Kesempurnaan Syariat dan Bahaya Bid'ah)
Apakah kaidah umum ini membolehkan kita untuk membagi bid'ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Sama sekali tidak! Hal ini tidak benar. Adapun klaim sebagian ulama bahwa di sana ada "bid'ah hasanah" (bid'ah yang baik), maka klaim tersebut tidak lepas dari dua kondisi:
Perbuatan itu sebenarnya bukan bid'ah, tetapi dikira bid'ah.
Perbuatan itu memang bid'ah yang buruk, tetapi orang tersebut tidak mengetahui keburukannya.
Maka, setiap hal yang diklaim sebagai "bid'ah hasanah", jawabannya tidak keluar dari dua kondisi ini.
Berdasarkan hal ini, tidak ada celah bagi pelaku bid'ah untuk menjadikan klaim mereka sebagai "bid'ah hasanah", sementara di tangan kita ada pedang yang tajam dari Rasulullah ﷺ: «كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ» (Setiap bid'ah adalah kesesatan).
Pedang tajam ini ditempa di pabrik kenabian dan risalah; ia tidak dibuat di pabrik yang tidak jelas. Ia ditempa di pabrik kenabian dan dirancang langsung oleh Nabi ﷺ dengan rancangan yang sangat fasih. Maka tidak mungkin bagi siapa pun yang memegang pedang tajam ini untuk ditemui oleh seseorang yang membawa bid'ah lalu berkata "ini bid'ah hasanah", sementara Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap bid'ah adalah kesesatan.”
Seolah-olah saya merasakan di dalam hati kalian ada keraguan tentang apa yang kalian katakan mengenai Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu — sosok yang diberi petunjuk pada kebenaran — ketika beliau memerintahkan Ubay bin Ka'b dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami orang-orang pada...
Halaman 15
...bulan Ramadan. Lalu beliau keluar dan melihat orang-orang shalat berjamaah di belakang imam mereka, maka beliau bersabda: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini, dan shalat yang mereka tidurkan (di awal malam) lebih utama daripada shalat yang mereka tegakkan (di awal malam)." [1]
Jawaban atas hal ini dari dua sisi:
Sisi Pertama: Bahwa tidak boleh bagi siapa pun membenturkan/mempertentangkan sabda Rasulullah ﷺ dengan perkataan siapa pun. Tidak dengan perkataan Abu Bakar yang merupakan manusia terbaik setelah Nabinya, tidak dengan perkataan Umar yang merupakan manusia terbaik kedua setelah Nabinya, tidak dengan perkataan Usman yang merupakan manusia terbaik ketiga setelah Nabinya, tidak dengan perkataan Ali yang merupakan manusia terbaik keempat setelah Nabinya, dan tidak pula dengan perkataan selain mereka. Karena Allah Ta'ala berfirman:
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan ditimpa cobaan (fitnah) atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63) [2]
Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Tahukah engkau apakah fitnah itu? Fitnah itu adalah kesyirikan. Boleh jadi jika seseorang menolak sebagian sabda Nabi ﷺ, akan timbul penyimpangan di dalam hatinya sehingga ia membinasakannya."
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma juga berkata: "Hampir saja diturunkan batu dari langit kepada kalian! Aku katakan 'Rasulullah ﷺ bersabda', sedangkan kalian justru berkata 'Abu Bakar dan Umar berkata'?"
Catatan Kaki:
(1) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Shalat At-Tarawih, Bab Fadhlu Man Qama Ramadhana (No. 2010).
(2) Surat An-Nur, Ayat: 63.